Rabu, 30 Januari 2008

Ketika Rumah Tangga Kehilangan Cinta


Gambaran rumah di surga memang tidak mudah diwujudkan di dunia ini, walau ayat Qur'an dan hadits ada perintah membangun rumah surga. Bahkan ada amalan hadits shahih yang menyatakan Allah akan membuatkan rumah di surga bagi mereka yang bisa mewujudkan rumah surga di dunia.

Oleh M. Abdullah Badri

BEBERAPA tahun belakangan ini, tindakan dan karakter masyarakat cenderung bergeser dari yang dulunya penuh dengan nilai luhur menuju nilai yang lebih rendah. Dari yang lembut menuju yang kasar, dari yang toleran kepada yang intoleran dan seterusnya.

Sebutan sebagai bangsa yang memiliki nilai tinggi hampir tak pantas lagi. Tak mewujud lagi yang namanya kelembutan, kasih sayang, saling menghormati dan saling memaafkan. Yang ada hanya ekspresi kekerasan, sikap ingin menang sendiri dan tindakan-tindakan kriminal lainnya yang sangat merugikan banyak orang. Tak pelak, tindak kejahatan menjadi menu berita utama kita sehari-hari yang tersaji melalui televisi.

Begitu pun dalam kehidupan rumah tangga. Meski orang kebanyakan menganggap rumah sebagai tempat paling aman untuk menjalani hidup, namun realitanya tidak. Dalam lingkup keluarga, kekerasan justru sering terjadi. Terutama terhadap istri.

Dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, 11,4 % diantaranya atau 24 juta penduduk perempuan, terutama di pedesaan mengaku pernah mengalami tindak kekerasan, dan sebagian besar berupa kekerasan domestik, seperti penganiayaan, perkosaan, pelecehan, atau suami berselingkuh

Bahkan pada tahun 2006, banyak ditemukan kasus seorang istri yang dianiaya suami dengan disiram air keras, air panas, maupun minyak tanah. Dan tak jarang tindakan itu berlanjut pada pembakaran dan bahkan pembunuhan

Suami yang sepatutnya menjadi partner dalam membangun bahtera rumah tangga justru menciptakan ranjau di dalamnya. Seakan-akan rasa kasih dan cinta yang dulu pernah menjadi ikrar mereka berdua terkikis oleh egoisme. Mungkin karena suami lebih merasa berhak untuk menjadi majikan sang istri, ia tak segan-segan untuk memberikan sanksi terhadapnya jika melakukan sebuah kesalahan. Terkikisnya cinta suami pada gilirannya akan menciptakan sikap diskriminatif terhadap istri.

Sikap yang tak menyiratkan kasih sayang itu, ternyata bukan hanya dialami oleh istri. Anak yang merupakan buah hati juga menjadi korban. Banyak data statistik yang menunjukkan hal itu. Kasus Batar, anak usia 7 tahun asal Karo, Sumatra Selatan, cukup menjadi bukti bahwa kekerasan dalam rumah tangga memang sebuah realita. Selain istri dan anak, pembantu rumah tangga juga tidak jarang menjadi korban sasaran kekerasan.

Maka perlu kita respon dengan baik apa yang telah dilakukan oleh Majleis Umum PBB yang telah menyetujui konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women, disingkat CEDAW), pada 1979 di Kopenhagen yang diikuti dengan penandatanganan pemerintah Indonesia pada 1980. Upaya tersebut sekaligus sebagai deklarasi perang secara global terhadap kekerasan dalam rumah tangga.

Rumahku Surgaku
Kekerasan rumah tangga, yang dalam UU No.23 tahun 2004 tentang KDRT pasal 1 ayat 1, dipahami sebagai: "setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang mengakibatkan timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis", ternyata bukan hanya berakibat secara domestik terhadap keberlangsungan kehidupan rumah tangga, namun efek itu dapat pula dirasakan secara luas oleh masyarakat sekitar.

Karena kekerasan yang terjadi, masyarakat sering merasa tidak aman tinggal berdampingan dan bertetangga dengan rumah tangga yang jauh dari “aroma surga” itu.

Yang pasti, tindak kekerasan dalam bentuk apapun, bukanlah suatu hal yang diharapkan dalam relasi hubungan suami-istri. Menyatunya istri dan suami dalam sebuah rumah tangga menisbatkan dirinya untuk saling menjalin hubungan yang harmonis. Yakni hubungan saling kasih yang menjadikan rumah sebagai surga, bukan neraka.

Itulah yang digarisbawahi oleh Al-Quran dengan kata wa’asyiruhunna bil-ma’ruf (pergauilah mereka, para istri itu, dengan baik). Allah juga menyatakan bahwa para istri adalah bagian daripada suami.

Lihat firmannya: "Mereka itu (istri-istri kamu) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka" (QS. AL-Baqarah /2:187). Tidak ada yang menolak diberikan rumah bernuansa surga, namun untuk menciptakan yang demikian bukan perkara mudah. [badriologi.com]

M Abdullah Badri, sekretaris Majalah IDEA, aktif di Kelompok Studi 
Mahasiswa Walisongo (KSMW) IAIN Walisongo.

Keterangan:
Esai ini pernah tayang di Harian Suara Merdeka, 09 Januari 2008

2 komentar:

  1. Cewek banget Mas Tulisannya!

    BalasHapus
  2. Asal tidak melakukan kekerasan dan kekasaran saja ketika sudah menjadi suami

    BalasHapus