Jumat, 15 Agustus 2008

Isra’ Mi’raj dan Spirit Pembangunan Peradaban

Oleh: M. Abdullah Badri

Bangsa kita saat ini sedang dilanda dengan seabrek problem yang belum terselesaikan. Darimana penyelesaian problem tersebut dimulai, kita seolah tak menemukan jalan, saking kompleksnya masalah yang menghimpit.

Ketika satu masalah tengah diselesaikan, muncul masalah lain yang tak kalah ringan. Bahkan, setiap hari media massa menyuguhi kita berita tentang korupsi, anarkisme, kriminalitas, tindakan amoral dan lain sebagainya. Ya, bangsa kita tak pernah lekang dari masalah, padahal cukup banyak potensi yang dimiliki.

Mengapa hal ini terus terjadi? Jawabannya bisa beragam, sesuai sudut pandang masing-masing. Namun, semua perspektif yang ada bisa dirumuskan menjadi satu kata: kurangnya kesadaran sosial.

Menjadi bangsa yang maju itu tidak sekadar belajar dan mengamalkan pengetahuannya semata, namun juga membutuhkan kesadaran mental membangun peradaban yang utuh: secara pribadi, sosial maupun spiritual. Kendati memiliki potensi yang tinggi, baik di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA), namun jika kesadaran sosial belum terbangun, maka ketimpangan-ketimpangan sosial akan terus terjadi.

Untuk membangun tatanan sosial yang utuh, perlu ditumbuhkan kesadaran internal terlebih dahulu. Yakni kesadaran berperadaban. Ketika kesadaran tersebut telah tumbuh menjadi bagian dari sketsa mental, maka masalah-masalah sosial yang ada dapat dipecahkan dengan cepat dan tepat. Sebab, dalam kesadaran yang utuh semacam ini orang bisa diajak kerjasama dengan baik, tanpa terhalang oleh sekat-sekat primordial-emosional yang menyesakkan dada.

Menyadari belum adanya kesadaran yang dimaksudkan diatas dalam masyarakat kita, momentum Isra’ Mi’raj kiranya bisa dijadikan sebagai salah satu langkah strategis dalam menumbuhkan kesadaran berberadaban tersebut. Spirit makna perintah sholat yang diterima Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isr’a Mi’raj bisa dibumikan dalam masyarakat yang penuh problem seperti sekarang. Sebagai seorang muslim, saya meyakini bahwa dalam perintah sholat tersimpan hikmah yang begitu dahsyat.

Selaksa Makna Sholat

Sebagai ajaran pokok agama, sholat menjadi tonggak membangun spirit nilai-nilai pribadi, sosial dan religius peradaban Islam. Orang yang mengaku muslim, namun belum melaksanakan sholat sebagai kewajiban beragama, bisa dikata ia belum berislam secara utuh (kaffah). Sholat menjadi ajaran inti Islam, maka Islam tidak bisa dipisahakan dari perintah sholat.

Nilai-nilai sosial Islam banyak yang terkandung dalam perintah sholat. Bahkan, kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada umat muslim tersebut menjadi simbol peradaban Islam. Dalam sebuah hadist Nabi pernah bersabda: “Sholat adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikannya berarti ia telah menegakkan agama. Dan barang siapa yang tidak menunaikannya, maka ia telah meruntuhkannya,” (HR. Muslim).

Begitu besar hikmah yang dikandung dalam sholat, sehingga setiap gerakan dan ucapan yang dilakukan didalamnya tak ada yang sia-sia. Semua kata yang diucapkan dalam sholat tak lain adalah do’a: kepada diri kita sendiri, segenap umat Islam di dunia dan juga kepada pendahulu kita yang telah wafat. Ini artinya, sholat telah mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu memberikan pertolongan kepada sesama. Meskipun hanya dalam bentuk do’a. Disinilah filosofi sosial dalam sholat dapat diambil sebagai hikmah.

Gerakan-gerakannya juga sama, tidak ada yang kosong dari hikmah yang amat besar. Ketika berdiri misalnya, kita berarti menyatakan diri kepada Allah untuk taat sepenuhnya terhadap titah-titah yang diberikan. Begitu juga dengan gerakan ruku’. Ia menandakan bahwa kita sumpah setia kepada Allah tidak akan melanggar larangan-larangannya. Sementara, ketika kita sujud memiliki makna bahwa kita adalah makhluk yang tak memiliki daya usaha berlebih, kecuali apa yang telah menjadi kehendaknya.

Selain itu, ketika sedang melakukan tahiyyat, dan jari telunjuk kita mengacungkan ke arah kiblat, secara tidak langsung kita telah menyatakan diri bahwa Allah adalah sesembahan satu-satunya, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanya Dia (La Ma’buda Bihaqqin Illa Huwa). Pengakuan itu diperkuat dengan ucapan Asyhadu an La Ilaha Illallah ketika hendak mengacungkan jari telunjuk tersebut.

Hikmah lain yang dapat diambil adalah spirit gerakan dalam sholat. Sebagaimana disebutkan di atas, gerakan-gerakan yang dilakukan dalam sholat tidak ada yang terbuang sia-sia. Semua gerakan disana memiliki makna tersendiri. Meskipun berbeda, namun semua gerakan-gerakan tersebut bermuara kepada satu pesan yang sama bahwa manusia adalah makhluk yang lemah di hadapan Allah, tidak bisa hidup secara individu, membutuhkan pertolongan Allah melalui perantara orang lain.

Dengan memahami makna yang ada dalam sholat itu, maka akan tercipta kesadaran pribadi untuk membangun kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dari sini, kita menyatakan bahwa sholat telah memberikan inspirasi filosofis kepada umat Islam untuk hidup gotong-royong bersama masyarakat lain, bersosial.

Sholat juga menunjukkan kepada kita tentang pentingnya sentuhan religius sebagai dasar utama dalam mengarungi kehidupan ini. Selama ini, pertumbuhan peradaban manusia cenderung berkarakter kapitalistik dan hedonis. Ketika kebutuhan dasar berupa materi tercukupi, mereka membuang sisi-sisi lain yang bersifat spiritual. Padahal itu adalah kebutuhan fitrah manusia. Yang dicari hanya kepuasan pribadi dan nafsu kapital. Agama menjadi terasing di hadapannya. Inilah yang menjadi karakter peradaban manusia saat ini, kering dan terasing.

Sholat akan mengisi ruang-ruang religius yang tersingkir itu. Bahkan, sholat menjadi pengisi relung-relung peradaban manusia yang kosong akibat jeratan budaya kapitalisme yang sulit dibendung tersebut. Dengan adanya kesadaran umat Islam dalam membangun peradaban yang utuh secara pribadi, sosial dan spiritual, diharapkan akan tercipta tatanan yang damai, sejahtera dan aman. Masalah yang dihadapi juga akan cepat menemukan penyelesaiannya.

Ya, semua itu berawal dari spirit perintah wajib mendirikan sholat yang pertama kali diperintahkan Allah kepada Nabi Muhammad saat melakukan Isra’ Mi’raj. Mari kita memperingati Isra’ Mi’raj tahun 1929 H ini dengan menumbuhkan kesadaran berperadaban melalui pembangunan spirit sholat, secara pribadi, sosial, maupun spiritual.

Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar