Sabtu, 22 Agustus 2009

Persma dan Problem Konsistensi
Oleh: M. Abdullah Badri

Di komunitas persma saya, LPM IDEA, budaya menulis memang sedang dibangun. Dalam setiap penerbitan, setiap kru diwajibkan untuk menulis. Entah laporan berita, artikel, esai, cerpen atau puisi, sesuai minat masing-masing. Mereka juga saya dorong untuk menulis di media massa. Dalam proses, ternyata imbauan untuk menulis di koran mengalahkan kewajiban menulis di media sendiri.
Mereka lebih asyik menulis di koran, sementara tugas penerbitan terbengkalai. Ketika ada salah satu tulisan kru nampang di koran, adrenalin kawan yang lain ikut terpacu. Saling bersaing untuk menulis. Akhirnya, setiap pekan, silih berganti tulisan kru redaksi dimuat koran yang berbeda. Lokal maupun nasional.
Di satu sisi, saya merasa bangga dengan proses kawan-kawan yang super semangat itu. Namun di sisi lain, penerbitan yang saya pimpin tak kunjung terbit. Ketika saya bertanya kapan tugas tulisanmu selesai, alasan mereka selalu disibukkan dengan jam kuliah dan aktivitas di organisasi lain. Meski demikian, toh tulisan mereka di koran tetap ada yang nongol. Apa problem?
Prasangka saya mengatakan menulis di koran, bagi kawan-kawan saya tersebut, lebih mudah daripada di persma. Sebab, disana ada tunututan untuk menjaga tradisi ilmiah, sementara di koran, tidak terlalu. Perlu diketahui bahwa persma kampus saya memang konsen dalam bidang pemikiran Islam, sesuai dengan studi di Fakultas Ushuluddin. Jadi, tulisan yang dimuat harus berdasarkan analisis dan referensi jelas. Berbeda dengan menulis berita yang kebanyakan hanya me-rekaulang peristiwa yang telah terjadi dalam bentuk bahasa tulis.
Seorang kawan dari persma lain menyarankan saya agar jangan membuat mereka merasa terbebani dengan kewajiban menulis di persma sendiri. Saya mencoba melakukan itu dengan membebaskan kawan-kawan untuk menulis sesuai kemampuan. Yang bagian analisis, akan dilengkapi kru lain yang lebih senior. Ternyata usaha itu belum membuahkan hasil.
Diam-diam saya desak mereka untuk mengungkapkan alasan. Alasan kuat mereka ternyata adalah laziness (kemalasan). Saya mencoba membangkitkan semangat dengan memberikan sertifikat bagi mereka yang menulis, yang sebelumnya tidak ada. Namyn masih sama. Pendekatan pribadi kemudian saya lancarkan; dengan mengajak diskusi empat mata, mengenai tema yang akan diangkat. Namun masih diam juga, tak berubah.
Saya mencoba bersikap tegas, dengan melakukan teror-teror psikologis. Akibatnya tak terduga, mereka malah jarang main ke kantor redaksi, menjauh, padahal sebelumnya mereka rajin.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang menulis di media massa, karena itu adalah hak pribadi. Barangkali alasan utama mereka menulis di koran karena mengharap imbalan honor, sementara di persma, tidak. Akibatnya, penerbitan tidak pernah konsisten terbit, terlambat. Melalui rubrik ini saya hanya ingin berbagi pengalaman sekaligus mencari solusi dari kawan lain yang membaca. Adakah?

M. Abdullah Badri, pimred LPM IDEA Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang

Dimuat Suara Merdeka, 19 Juli 2009
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar