Minggu, 10 Januari 2010

Risiko

Oleh M Abdullah Badri

Hai, kawan, kalian pasti tahu secara sadar kalau yang namanya hidup itu diliputi konsekuensi dan lingkaran sebab akibat. Hal-hal terkecil dalam keseharian kita pun, memiliki hukum alam sendiri, pada akhirnya. Setiap tarikan nafas mengandung risiko tentang masa depan, berkaiatan dengan waktu.

Bayangkan, setiap hari, kita lebih dari seratus kali memutuskan banyak hal. Tak percaya? Memutuskan untuk bangun tidur lebih awal atau kesiangan, kita membutuhkan pertimbangan loh. Akan ke kamar mandi, untuk membersihkan badan, kita juga butuh persiapan. Begitu pula saat akan memutuskan akan ke luar rumah, kita disuguhi pilihan antara untuk kebutuhan bermain, belajar atau sekadar bertegur sapa.

Itu hanya hal kecil, yang kita lakukan sesuai dengan kebiasaan harian kita. Lalu, bagaimana dengan keputusan-keputusan besar yang akan mempengaruhi kehidupan masa depan kita kelak? Kalau tidak ada manajemen diri yang baik, kita tentu kesulitan menentukan startegi pencapaian cita-cita.

Gambaran tentang masa depan adalah pantulan dari lukisan sekarang. Capaian impian ditentukan oleh olah kerja dan strategi yang kita biasakan dalam waktu kekinian. Berlaku tanpa kontrol kekinian untuk masa depan, atau di sebut nowisme (paham kesekarangan), akan melahirkan resiko suram.

Bolehlah kita menikmati sensasi jiwa pemuda dan kesekarangan kita, kini, namun jangan sampai hal itu membuat alpa diri dari kesadaran akan hukum kausalitas, sebab akibat. Masa pencarian jati diri yang kadang diekspresikan dengan mencari dan mencuri perhatian orang-orang sekitar, dengan menggunakan atribut yang berbeda, semisal dalam cara bergaul dan berpakaian, jangan sampai membuat kita terlena dari risiko.

Hidup akan terarah bila kita punya prinsip kokoh. Itu yang akan membuat kita sadar akan manajemen risiko. Prinsip itu akan menghantarkan kita pada capaian masa depan, cita-cita. Waktu yang kita jalani juga akan habis dengan ukiran prestasi.
Setiap detik yang kita jalani tidak akan sia-sia di tengah tempuhan jalan impian.

Sadar akan risiko-risiko kekinian membuat kita waspada dan waskita, tidak mudah terjerumus dalam lubang hitam kehidupan. Mengapa? Waktu yang telah menyadarkan kita akan risiko membuat kita memompa secara terus-menerus tentang kualitas diri.

Dalam sehari, kita melewati kuantitas waktu yang sama, 24 jam, namun belum tentu kualitas yang kita dapatkan sepantar. Itu karena kita sadar akan risiko diri. Bukan sekadar tahu, namun paham dan sadar. Orang yang tahu dengan yang sadar itu beda. Yang tahu adalah yang mampu menerangkan, namun yang sadar dan paham, ia mempraktekkan pengetahuannya itu.

Yang membuat kita berbeda salah satunya adalah karena hukum sebab dan akibat yang kita lewati tidak seragam. Yang malas tentu akibat yang dirasakan pada masa depannya akan berbeda dengan yang ulet dan rajin. Begitu pula yang hemat dan boros. Semua memiliki konsekuensi masing-masing. Hamparan kausalitas ada dan tersaji di hadapan kita, hanya tinggal memilih, antara warna-warna kehidupan kita kelak itu.

Pandai saja tidak cukup untuk membuat ia sadar dari risiko. Banyak juga kan orang yang pandai dan cerdas, namun akhirnya ia juga mau melakukan kejahatan kepada rakyat, korupsi. Lihat para pejabat-pejabat kita, mana ada yang tidak tahu tentang hukum korupsi.

Mereka tahu, namun tidak memiliki kesadaran tentang sebab dan akibat yang akan diterima setelah habis perkara. “Tonjok dulu, urusan belakangan,” itu ungkapan yang lepas dari manajemen risiko. Hidup bukan sekadar untuk tahu, maka pahamlah, sadarlah, kemudian lakukan. “Lalu, lihat apa yang akan terjadi?” begitu kata Mario Teguh.

(Dimuat Suara Merdeka, Minggu, 10 Januari 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar