Jumat, 05 Maret 2010

Menakar Cinta di Lumpur Senja

Oleh M. Abdullah Badri

Ada makna yang belum tersingkap dari diri kita. Disana, seakan-akan, terbentang tabir yang menghalangi setiap gerak dan pikiran. Mengikat, membelenggu dan membuntu setiap lorong yang mencakrawala, menuju ruang kesenian dan kebudayaan masa depan. Langit dan lilin yang selalu membawa penerang tak pernah juga mengetahui dimana panji-panji impian setiap kita, setiap manusia, setiap makhluk-Nya, tersimpan, tertata rapi dalam guci waktu yang berakar-sambung, berurat-saraf dengan alam kesadaran dan kehidupan ini yang penuh kegelapan, ketidaksempurnaan, bertabir dan bercadar. Ada gudang tak bertuan dalam diri dan kehidupan kita yang sewaktu-waktu bisa meledak, menghancurkan segala atau bahkan membangun istana.

Berapa banyak manusia yang mengaku saudara, namun tidak segan berbuat aniaya. Tidak bisa di hitung pula darah saudara sendiri yang terserap habis karena penghambaan terhadap yang maya ini. Pantas jika malaikat yang ada diatas sana, pernah menyangsikan predikat khalifah manusia yang diberikan Tuhan. Untuk kepuasan raga, manusia tidak keberatan membunuh jiwa. Tak memuliakan jiwa. Hanya penghambaan terhadap fatmorgana. Pendayuan semu ini.

Ya, manusia memang hamparan mimpi Tuhan. Hanya manusia yang mendapat mandat Tuhan sebagai managernya di muka bumi ini. Pilihan Tuhan tidak lain karena manusia berada di tengah karakter yang saling tarik menarik antara hitam dan putih, dua kategori yang tak pernah melebur dalam kesatuan yang utuh. Karena manusia memiliki sayap untuk terbang ke dua kutub yang ia suka. Bebas. Merdeka.

Merdeka –dengan ramuan potensi akal- adalah anugerah paling murni dari Tuhan untuk manusia. Disinilah ruang kreativitas mulai tercipta. Memilih, antara menjadi Dawud atau Thalut. Jahat, bejat atau baik, benar. Satu saat, kemerdekaannya mungkin adalah dewa bagi sesama, tapi tidak jarang pula ia adalah laknat untuk semesta. Mengapa, karena ia tak bersanding dengan jiwa, bemitra dengan cinta.

Menyibak Realitas

Banyak orang yang manapaki ranjau demi cinta. Takut dituduh hidupnya kering kerontang, seperti yang di lembar-kamuskan oleh Gibran:
"Hidup tanpa cinta bagaikan sebatang pohon yang kokoh berdiri namun dahannya kering, tanpa dihiasi buah ataupun bunga.” (Kahlil Gibran: 2005).

Sehingga, cinta yang ia dapat bukan cinta sesungguhnya, yang substil, sejati dan menggetarkan. Yang ia bungkus hanya cinta yang simple dan dangkal makna. Sehingga, cinta yang seharusnya melepas sifat-sifat diri, menyingkap tabir ego pribadi, meneguhkan relasi antara pecinta dan yang dicintai, tak terpahat indah dalam realitas. Padahal, cinta, menurut Bowman, adalah satu hal bagi seseorang, dan hal lain bagi orang berbeda. (Henry A. Bowman, Marriage for Moderns: 1960).

Ketika manusia, dengan tangga cinta dalam dirinya, –meminjam istilahnya Gibran-, ingin meraih Tuhan, maka ia harus mewujudkannya dalam relasi cinta dengan sesamanya, orang yang berbeda, di luar sang empunya. Berkorban diri. Karena cinta itu tidak buta, tapi menerima. Nafsulah yang buta. Begitu pula, cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi.

Cinta yang sederhana, yang hanya meliukkan senyum dan dayuan kata bukanlah cinta dalam arti yang luhur. Tidak untuk orang lain. Itu adalah mistisisme-egoistis para rahib yang oleh Gibran sangat dikritik tajam. Cinta yang membawa bendera kebenaran perubahan dan mau berbagi adalah cinta yang complicated. Alurnya zig-zag, tidak lurus untuk penghambaan diri, tapi untuk melayani orang lain. Ego adalah musuh pribadi-abadinya. Tidak perlu kita mencari cinta. Yang diperlukan hanya merenungi, mendalami kemudian mengkontruknya dalam relasi sesama.

Perenungan makna terdalam cinta itulah yang akan menyibak satir rahasia yang tersimpan dalam realitas, berupa egoisme. Dengan demikian, tekanan tinggi dari luar diri, yang manjadi penghalang kemampuan manusia, gampang diatasi. Sehingga jiwa kreatif-inovatif akan mudah tumbuh. Karena setiap masalah yang dihadapi, tidak dipandang sebagai masalah yang komprehensif. (Yusuf al-Uqshory: 2005).

Power of Love
Betapa banyak kita menemui saudara-saudara kita yang berevolusi dengan mudah melalui kekuatan cinta dan kasih. Bereinkarnasi dari karakter satu ke karakter lain yang lebih agung. Bahkan melompati batas normal. Wanita biasa, dengan cinta, ia menjadi seorang ibu. Laki-laki biasa, karena cinta, ia adalah pengayom rumah tangga.

Meskipun tidak pintar, namun karena kasih, seorang guru merupakan cermin. Begitu pula, sekejam apapun binatang buas, ia adalah penghidupan bagi anaknya, karena cinta. Bahkan, sebab cintanya kepada yang Maha Mencintai, manusia dapat melompati malaikat, menjadi makhluk setengah Tuhan, yang mulut, mata, telinga, kaki, tangan dan segala tindakannya merupakan representasi dari Tuhan.

Mengapa demikian, karena cinta hakiki bersifat kontruktif-revolusioner. Bukan impulsif. Hanya cinta sederhana yang enggan berdialog dengan sesama. Bukan kreativitas yang terbangun, tapi destruksi. Alangkah rugi manakala cinta, yang sesungguhnya merupakan puncak kasih dan perasaan itu (menjadi penguasa mutlak diri, pen.), ternyata membawa nestapa. Bukan cinta bila yang dipirkan hanya kesengsaraan pribadi. Bukan cinta pula jika menghilangkan ambisi.

Dalam cinta, seperti kata para ahli kimia dan terminolog sastra Persia, terdapat zat yang bernama “eleksir” (iksir) atau “batu filosof” yang memiliki kekuatan merubah sifat suatu unsur ke sifat lainnya. Sehingga, dengan kekuatan ini, cinta memiliki daya transformasi untuk mengubah suatu subtansi. Tidak heran manakala cinta, dengan ambisi rasional, mampu mereinkarnasi manusia menjadi diri yang lain. Karena manusia termasuk materi dengan berbagai macam sifat. Wanita biasa menjadi ibu, lelaki biasa menjadi bapak, dan manusia menjadi makhluk setengah Tuhan. Karena dalam cinta, yang sifatnya transformatif itu, tersimpan harapan masa depan.

Cinta dan mimpi masa depan tidak bisa di pisah-ranjangkan. Apa yang ada dalam masa depan itu?. Kebahagian. Ya, itulah buah dari tujuan sejati cinta. Bukan kesejahteraan. Bukan pula hal yang kongkrit. Yang kongret hanya motivator dari tujuan sejati cinta. Ketika tidur, menangis dan membayangkan, kita selalu menutup mata. Betul, karena hal yang indah dalam dunia ini tidak terlihat, tidak kongret.

Tujuan mencapai kebahagiaan, sebagaimana dikatakan F. Addington Symond, dalam bukunya, Teach Your Self Efficiency, tidak bisa dihasilkan kecuali dengan mensinergikan antara ambisi (hasrat untuk maju) dan idealitas (cita-cita luhur). Langkah kita akan terseok-seok jika dua hal itu tak “bersenggama” dengan baik. Ambisi tanpa idealitas adalah munafik, mengingkari nilai luhur. Begitu pun, idealitas tanpa ambisi, adalah lamunan. (Dudung Hamdun: 2006). Hanya dengan pengaruh cinta, manusia mampu mensinergikan dua hal tersebut, menyatukan tujuan dan konsentrasi serta penghilang kebingungan.

Mengapa Harus Cinta
“Dengan sedikit kepercayaan akan kemampuan pribadi Anda, Anda dapat menggerakkan gunung yang paling besar,”

“Berilah aku sebuah pengungkit dengan panjang secukupnya dan tumpuan dengan kekuatan secukupnya. Dengan itu, aku akan menggerakkan dunia sendirian,” kata Yusuf al-Uqshari.

Pernyataan diatas meyakinkan kepada kita bahwa dalam diri manusia tersimpan kekuatan dahsyat yang tidak dimiliki makhluk lain, yaitu akal. Dengan kemampuan akal yang kreatif, dunia bisa dikuas indah oleh manusia.

Pergerakan dunia yang begitu cepat ini, tidak lain merupakan hasil olah pikir manusia. Ia merasa bangga dengan daya inovasi yang ia miliki. Sehingga, untuk membanggakan dirinya tersebut, tak segan-segan mengebiri nuraninya sendiri. Melubangi hak-hak orang lain. Akhirnya, yang terjadi adalah kalaliman, ketidakadilan dan keangkaramurkaan. Mengapa? Karena olah pikir itu tak disandingkan dengan olah rasa. Cinta.

Karena itulah, pergerakan yang tercipta bukan pergerakan produktif ke arah progresif-orientatif-positif. Sebaliknya, destruktif. Kabut gelap tak akan pernah sirna jika demonstrasi pergerakan dalam realitas kehidupan ini tidak mensinergikan antara daya inovasi kreatif akal dengan kekuatan humanisme cinta.

Begitu banyak kita bergerak, namun belum cukup menggerakkan semua daya kita yang masih diam, tertidur. Sehingga, tanah kebudayaan kita, kata Ainun Najib (Emha Ainun Najib: 1998), hilang dari hadapan kita sendiri, yang menghuni. Betapa banyak kebudayaan pribumi tergilas karena tidak adanya cinta.
“Ya, akal, cinta, bergerak, bersinergi secara serentak:
barangkali itulah kebaikan, di tengah dunia yang semakin senja.
Tak mengenal rasa, jiwa.”

DAFTAR PUSTAKA
Al- Uqshari, Melejit Dengan Kreatif, Jakarta: Gema Insani Press, 2005. (penj.) Abdul Hayyi al Kttani, ddk.
Abidin, Zainal dkk, Ilmu, Etika dan Agama: Menyingkap Tabir Alam dan Manusia, Yogyakarta: LKiS dan CRCS UGM, 2006.
Gibran, Kahlil, Semua Karena Cinta, Yogyakarta: Narasi, 2005.
___________, Sang Nabi, Taman Sang Nabi, dan Suara Sang Guru, Yogyakarta: Pustaka Sastra, 2004.
Hamdun, Dudung, Drs, M.Si, Mau Kaya, Sukses dan Bahagia?, Yogyakarta: Think, 2006.
Najib, Emha Ainun, Indonesia Bagian Dari Desa Saya, Jakarta: Gramedia, 1998.

(Naskah Esai ini memenangkan Juara III Lomba Menulis Esai Nasional STAIN Purwokwrto 2007. Terdapat dalam buku The Spirit of Love, Terbitan Buku Laila, Februari 2008)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar