Sabtu, 13 Maret 2010

Museum dan Ironi Transformasi Peradaban

Oleh M Abdullah Badri

Dalam khazanah kebudayaan, museum adalah ruang dokumentasi serta pelestarian warisan literatif masa lampau. Museum menjadi sarana memproyeksikan peradaban. Lembaran institusional negara telah mengesahkan museum sebagai sarana edukatif, kultural dan rekreatif (Susetyo: 1990). Namun, dentuman orientasi praktis modern, seiring dialektika sosio-historisnya, membuat batas fungsional museum semakin luntur, antara dokumentasi ilmiah, transformasi kultural, dan obyek wisata an sich.

Pada masa-masa liburan panjang sekolah, museum menjadi sarana rekreasi alternatif. Bahkan, dalam beberapa sekolah bonafit tertentu, mengunjungi museum sudah menjadi agenda tahunan, ritual menjelang liburan. Di sana para pengunjung disajikan aneka ragam dokumentasi penting masa silam. Singgah ke museum akan menciptakan suasana persenggamaan kesejarahan tempoe doeloe. Peristiwa-peristiwa penting yang tercatat dalam buku-buku sejarah, akan menemukan pembuktian secara artifisial dan filosofis di sana.

Lipatan manfaat didapatkan dalam ruang peradaban itu. Selain mendedahkan kepenatan seusai menjalankan rutinitas, dari museum kita mendapatkan sensasi intelektual dan emosional. Tak jarang ketika membaca lembaran kuno dari sana, baik berupa dokumentasi literer, karya seni, persenjataan, maupun yang lainnya, kita merasa terperanjat bahwa ternyata ada banyak sejarah yang lepas dari wacana populer. Para peneliti menjadikan museum sebagai referensi utama untuk pembuktian proyek ilmiahnya.

Monumen-monumen penting yang dianggap merepresentasikan nilai kesejarahan orisinil menjadi rebutan orang-orang yang berhasrat praktis-pragmatis. Kurangnya apresiasi terhadap nilai kesejarahan masa silam, membuat sementara oknum tertentu menggadaikan bukti perjalanan peradaban bangsa dengan bilangan harga ekonomis. Beberapa waktu lalu kita bisa melihat ironi tersebut, ketika para pejuang dokumentasi, menyerahkan monumen penting berupa patung, kepada orang lain.

Replika dan Rekayasa
Boleh dikata, museum adalah replika peradaban dan monumen peristiwa. Ada rekam jejak yang hilang, yang menemukan titik kesejarahan, ketika terdokumntasikan dalam ruang bernama museum. Itu dalam pengertian ideal. Namun, bila sudah masuk dalam wilayah intervensi sosial-politik, museum adalah representasi dokumentatif dari rekayasa-rekayasa kultural.

Dalam beberapa kasus tertentu, terjadi diskriminasi kesejarahan, terlihat pemilihan dan pemilahan antara monumen peristiwa yang layak disajikan dan yang harus disamarkan. Kepentingan pembuat museum tidak bisa dinegasikan. Dalam wajah demikian, museum berubah menjadi ruang rekayasa peradaban. Meskipun secara ekonomis, ia tidak dijadikan pusat penjualan dokumentasi, melainkan pelayanan edukatif publik. Satire pesan museum terlihat dominan dalam bangunan museum swasta dan kelompok kerja sosial tertentu. Hanya kawan dan sahabat mereka yang disediakan ruang untuk melestarikan rekam jejak kesejarahannya. Lawan, harus membuat museum tandingan bila menghendaki represi dokumentatif.

Meskipun seringkali kita menemukan diskriminasi peristiwa, paling tidak, dalam batasan tertentu, museum adalah sumber informasi yang tiada batas. Suatu kali ia menjadi bukti tersier, atau sekunder, bahkan primer. Tergantung orientasi dokumentatif yang dicari para peneliti yang mencoba mencari bukti di sana.

Perkembangan terakhir, museum hanya dijadikan tempat singgah kepenatan hidup, sebagaimana pada masa liburan seperti sekarang. Mayoritas orang yang berkunjung ke sana, hanya sekadar mengisi waktu luang, bukan mencari pengalaman penting apalagi pengetahuan kesejarahan. Hiburan menjadi tujuan, bukan pengantar pencarian pengetahuan. Museum bak kumpulan benda mati yang dipamerkan untuk tujuan kesenangan semata. Hiburan. Eleman infotainment kuno.

Para pelajar jarang mendapatkan transformasi kesejarahan dari museum. Yang mereka ketahui bahwa suatu ketika ia pokoknya pernah berkunjung ke museum itu. Cukup. Lalu, apa isi museum itu dan nilai kesejarahannya? Yang berhak menjawab bukan siswa, namun guru sejarah. Begitu.

Lepasnya transformasi pengetahuan dari museum kepada pengunjung, terutama siswa dan pelajar, adalah karena minimnya budaya analisis-dokumentatif. Tidak ada kewajiban secara anministratif yang mengharuskan untuk membuat catatan analitis peristiwa masa silam.

Dokumentasi yang berlangsung di museum hanya ceprat-cepret foto dengan iringan adegan berpose yang fotogenik. Persentuhan warisan kebudayaan hanya sampai disitu. Padahal, kita mengetahui bahwa museum adalah pusat kekayaan dokumentasi peradaban.
Bila kultur demikian masih menjadi gejala umum, proyek transformasi peradaban museum tidak menemukan substansi. Orang hanya akan bertanya, dimana alamat bangunan museum ini dan itu, bukan apa saja nilai kesejarahan museum ini-itu?

(Dimuat Kompas, Sabtu, 13 Maret 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar