Minggu, 04 April 2010

Global Laziness dan Kemiskinan Intelektual Kampus

Oleh M Abdullah Badri

Tidak seperti dulu, kemalasan merupakan gejala umum yang menjangkiti dunia kampus saat ini. Mahasiswa yang digadang-gadang menjadi generasi penerus bangsa kini makin jauh dari harapan. Kultur akademik bukan menjadi ciri khas kampus. Tidak mudah kita menjumpai komunitas mahasiswa yang masih hobi berdiskusi, bereksperimen dan mencoba hal-hal baru yang positif. Seakan kehilangan jiwa, kritisisme mahasiswa tidak begitu tampak.

Ada pergeseran gaya hidup dalam kehidupan kampus. Hedonis, pragmatis dan ingin serba instan. Tidak ada lagi upaya-upaya intelektual untuk mencapai cita-cita bersama. Kalaupun ada, jumlahnya tidak signifikan. Semua berjalan apa adanya. Tanpa rencana. K

Kuliah bukan menjadi kebutuhan mahasiswa, hanya keinginan sesaat untuk menjalani hidup. Tidak ada semangat merubah ketimpangan struktur sosial kehidupan. Individualistik. Tak heran manakala kampus bukan lagi menjadi pusat gerakan sosial sebagaimana yang pernah ada sebelumnya, seperti saat reformasi. Ya, kemalasan global menggejala di seluruh kampus. Mengapa hal ini terjadi?

“Menurut saya, itu adalah akibat kehancuran nilai-nilai lama yang masih positif. Reformasi itu kan mengakibatkan apa yang disebut Weber dengan Anomi, dimana nilai-nilai lama hancur dan belum muncul nilai-nilai baru sebagai pengganti,” ujar Muhsin Jamil M.A, dosen peneliti di Pusat Penelitian IAIN Walisongo. Ia mengatakan bahwa mahasiswa cenderung menganggap reformasi sebagai sesuatu yang easy going, gampang-gampangan, berlalu begitu saja, tidak ada tindak lanjut.

Kecenderungan pragmatis mahasiswa yang hanya mementingkan kepentingan sesaat pada akhirnya memandulkan gerakan kampus. Idealisme menjadi jargon yang kini pantas digantung, kalau perlu ”diperingati” sebagai seperangkat ideologi kritis yang tak layak lagi digembar-gemborkan. Apalagi konsumerisme-kapital terus berekspansi, mengebiri potensi-potensi unggul, semakin menambah kemandekan budaya kreatif-akademik di kampus.

Selain itu, motivasi mahasiswa juga turut mempengaruhi gejala kelesuan budaya kritis kampus.“Dulu, mahasiswa memiliki keinginan dan semangat yang kuat, jadi yang kuliah itu yang benar-benar punya niat. Namun sekarang kuliah itu dijadikan sebagai trend. Tidak kuliah dianggap tidak mengikuti trend. Sehingga, mahasiswa yang mengikuti trend tidak menjiwai apa arti kuliah. Jika menghargai arti kuliah, mereka pasti akan sungguh-sungguh,” tutur Dr. Muhayya, dosen Filsafat Pascasarjana IAIN ketika ditemui tim Rostrum.

Pada akhirnya, lanjut Muhayya, belajar di kampus hanya sebatas memenuhi orientasi jangka pendek. ”Habis kuliah, lulus, langsung kerja. Selesai perkara. Sementara, problem-problem sosial bukan menjadi tugas utama yang harus diselesaikan,” katanya.
Egoisme pribadi mahasiswa muncul akibat tuntutan pasar kapitalisme yang memang membutuhkan tenaga mekanik-praksis. Mahasiswa lebih tertarik untuk menekuni dunia praksis kerja ketimbang harus menjadi pionir dalam pergerakan sejarah. Dunia pemikiran akademik tidak menarik peminat, karena memang bergerak dalam dunia yang abstrak dan kurang menjanjikan secara ekonomis.

Rekonstruksi
Akibat mengeringnya budaya akademik kampus, kelahiran kaum intelektual sulit kita harapkan. Kampus kehilangan generasi intelegensia. Yang ada adalah kaum terdidik yang tunduk pada rekayasa sosial, bukan yang memperbaikinya.

”Oleh karena itulah, untuk menumbuhkan kembali kultur akademik kampus harus ada rebuild (pembangunan ulang) atau recountruct sejak dini terhadap nilai-nilai lama yang hilang akibat ketidakpercayaan terhadap negara. Bisa dimulai dari: pertama, kebijakan. Kebijakan pendidikan seharusnya lebih mendukung berkembangnya atmosfir akademik, bukan hanya pembangunan fisik semata, tapi juga membangun iklim yang dapat mendukung tumbuhnya kultur akademik. Yang kedua adalah pembentukan creative minority (kelompok minoritas kreatif) yang bisa berpengaruh luas terhadap masyarakat kampus, baik intelektualnya, integritasnya, maupun gerakannya,” ungkap Muhsin Jamil memberikan solusi. Dengan begitu, tambahnya, akan memunculkan defution of culture (penularan kebudayaan) sehingga melahirkan inisiatif-inisiatif yang lebih luas untuk menumbuhkan kembali budaya akademik kampus.

Selain itu, reorientasi tujuan kuliah juga perlu ditanamkan sejak dini. Ini dimaksudkan agar kegiatan kuliah mahasiswa tidak dianggap sebagai kegiatan mengisi waktu belaka (kalau tidak mau dikatakan membuang waktu), tapi lebih bisa dimaknai sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Tanpa itu, kemiskinan intelektual akan terus melanda masyarakat kampus. Padahal kita tahu bahwa kampus adalah tempat dilahirkannya manusia-manusia penuh visi masa depan. Di tangan mahasiswalah harapan masa depan bangsa dipertaruhkan. Mau dikemanakan negeri ini ada di tangan mereka.

Sudah banyak generasi intelektual yang ”mati” akibat tindakan represi pemerintah Orde Baru lantaran ekspresi mahasiswa yang ketika itu dibelenggu. Di saat ruang ekspresi terbuka lebar dengan kran reformasi, ternyata kemandulan intelektual belum juga berakhir. Seharusnya reformasi dapat menyuburkan ”rahim” intelektual kampus, namun itu belum terbukti. Kemiskinan intelektual malah semakin bertambah bila dibandingkan dengan era sebelumnya, ketika otoriterianisme berkuasa.
Masih perlu waktu dan strategi untuk menempuh perjalanan sejarah pergerakan mahasiswa.

(Dimuat Media Indonesia, Selasa, 13 Mei 2008)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar