Senin, 24 Mei 2010

Apa yang Tersisa dari Kepemimpinan Bangsa?

oleh M Abdullah Badri

Rendah. Begitulah kira-kira tingkat kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin bangsa ini. Sudah berulangkali rakyat dikecewakan para kaum elite negeri. Dulu, ketika masa kempanye berjanji tidak akan menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM), namun ketika sudah berhasil menduduki puncak jabatan, janji tak dipenuhi. Ingkar janji seakan menjadi tradisi dalam setiap kepemerintahan kita.

Bukannya masyarakat tidak membutuhkan pemimpin, namun kekecewaan mereka terlalu banyak, sehingga sulit untuk ditembus dinding pengaruh. Lalu apa yang terjadi dalam potret kepemimpinan Indonesia?

Krisis Kepemimpinan
Dalam banyak teori politik disebutkan bahwa pemimpin yang ideal adalah yang mampu memenuhi aspirasi rakyat yang dipimpinnya, baik dari segi politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial maupun seni dan budaya. Artinya, pemimpin sejatinya adalah pengabdi, bukan penjilat. Fungsi semacam ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki kualitas loyal, dedikasi dan keikhlasan yang tinggi.

Dibutuhkan pula kemampuan memimpin secara memadai untuk melaksanakan pengabdian kepada yang rakyat yang dipimpin. Bertanggungjawab, jujur, adil, disiplin, mau bekerjasama, visioner dan peduli merupakan karakter seorang pemimpin yang benar-banar melakukan pengabdian.

Namun, karakter-karakter diatas sulit kita jumpai dalam diri para pemimpian kita. Mereka banyak yang berkhianat terhadap rakyat. Buktinya, korupsi masih menjadi budaya di kalangan petinggi negeri ini. Mereka bukan pemimpin yang mengabdi, namun penjilat darah rakyat yang sejati. Entah, apakah mereka buta dengan kondisi rakyat atau memang sengaja menutup hati nurani.

Nilai kepemilikan persatuan dan berbangsa luntur karena sikap kontra produktif para pemimpin kita tersebut. Kekecewaan rakyat membawa keretakan simpul-simpul identitas nasional. Warga Indonesia tidak berbangga lagi dengan identitasnya sebagai bagian dari Indonesia karena kecewa terhadap kelakuan para elite yang duduk di tampuk kekuasaan. Padahal, tidak ada lagi yang bisa menyatukan Indonesia selain tekad untuk berbangga dalam bangsa yang penuh dengan keragaman itu. Hanya tekad. Sudah itu mati. Sebab, Indonesia tidak hanya terdiri atas satu jenis suku, etnis, ras dan agama, sebagaimana di negara Eropa dan Timur Tengah, melainkan banyak dan beragam. Untuk mencari persamaan hanya dengan satu cara, tekad.

Namun, kadang tekad untuk bersama, sekali lagi, tercemari oleh perilaku para pemimpin kita. Benar, pola kepemimpinan ikut menyumbang kelunturan semangat nasionalisme bangsa. Niat hati ingin mencipta persatuan dan kebanggaan, namun hampir tidak yang dibanggakan dari negeri ini kecuali kengiluan, kepedihan dan keprihatinan yang terus hidup dalam realitas bangsa ini akibat perilaku korup para elite.

Apatisme Kalangan Muda
Kelompok kaum muda progresif yang terlanjur kecewa dengan martabat kepemimpinan “orang tua” merasa tak perlu lagi memberikan kontribusi. Sikap apatis dan pragmatis menjadi pilihan mereka. Sehingga, skeptisisme dan kecurigaan terhadap apa yang dilihat dalam semua perspektif tak terhindarkan lagi. Orang tua, dalam kacamata mereka, sudah tidak layak lagi dijadikan panutan dan tuntunan.

Akibat selanjutnya adalah tumbuhnya benih-benih primordialisme dan individualisme. Apa yang akan tersisa dari Indonesia jika yang terjadi seperti demikian? Keragaman yang dipersatukan dalam balutan tekad kebersamaan tak menampak.
Oleh karenanya, dalam momentum kebangkitan nasional yang ke-100 ini, kita jadikan sebagai titik perenungan pencarian makna-makna dan pesan-pesan persatuan. Menghilangkan sekat-sekat perbedaan berbasis ras, suku, etnis, agama, bahasa dan bahasa-bahasa primordial lainnya.

Kebangkitan kita maknai dengan apresiasi teradap eksistensi orang lain. Bahwa perbedaan merupakan kata lain dari cara pandang dari sudut lain. Ini menjadi tugas utama para elite pemimpin kita. Akhirilah kekecewaan rakyat dengan mulai memberikan apresiasi dan mengakomodasi kepentingan mereka.

Keterbelakangan dalam berbagai bidang telah memporak-prandakan sendi-sendi kehidupan berbangsa? Hampir tidak ada yang tersisa kecuali hanya harapan. Dan, harapan itu tidak lain ada pada kualitas kepemimpinan para elite. Rendahnya tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemimpin harus diobati dengan harapan. Tentu bukan sekadar letupan harapan, namun harapan yang menjanjikan kemenangan dan kesejahteraan. Yaitu harapan yang direalisasikan dalam bentuk kerja nyata demi kepentingan bersama, bukan kepentingan segolongan orang. Harapan rakyat harus disambut dengan tangan ringan pemimpin yang benar-benar jujur, adil, peduli, tanggung jawab, mau berkerjasama serta mampu melihat masa depan secara visioner, sebagaimana amanat kepemimpinan Boedi Oetomo, organisasi yang melahirkan Kebangkitan Nasional pada 1908.
Adakah selain itu? Apakah kekecewaan yang masih tersisa?

(Dimuat Media Indonesia, 23 Mei 2008)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar