Sabtu, 17 Juli 2010

Matriarkhi yang Patriarkhal

Oleh M Abdullah Badri

MATRIARKHI adalah sistem sosial yang melihat garis keturunan ibu lebih tinggi daripada garis keturunan ayah, laki-laki. Marga yang digunakan oleh anak dalam sistem sosial tersebut adalah garis keturunan ibu, berbeda dalam sistem patriarkhi yang menggunakan penamaan seorang dengan nama keluarga besar dari ayah.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berbincang dengan kawan dari Padang, Sumatera Barat, bermarga Tanjung. Marga yang digunakan itu ternyata adalah garis keturunan ibu. Demikian pula dengan marga Sihombing dan sebagainya. Warga keturunan Minang Padang membanggakan keluarga besar ibu, perempuan. Lalu, apakah dalam sistem matriarkhi perempuan mendapatkan keuntungan sosial berlebih?

Matriarkhi ternyata diciptakan sebagai sistem yang diharapakan dapat memberdayakan perempuan. Dalam sistem waris misalnya, dimana perempuan mendapatkan dua bagian lebih besar daripada laki-laki, ternyata, difungsikan untuk melindungi perempuan.
Ketika perempuan ditinggal oleh suaminya, entah karena carai atau wafat, sementara ia tidak memiliki sumber penghidupan yang layak, maka pembagian warisan yang lebih banyak kepada perempuan akan membantu melangsungkan kehidupannya di kemudian hari.

Meskipun begitu, yang memegang kuasa rumah tangga dalam kehidupan sehari-hari, tetap laki-laki. Sebagaimana dalam sistem patriarkhi, perempuan berposisi sebagai pelaku kebijakan kuasa rumah tangga dari laki-laki, ayah.

Karena matriarkhi dirangkai dalam perlindungan kepada perempuan, maka anak laki-laki di Minang, Padang, dilatih untuk mandiri sedini mungkin. Dari sejak kecil mereka diajak oleh orang tua untuk melancong keluar daerah.
Ketika malam tiba, mereka juga dibiasakan tidur di luar rumah agar terbiasa dengan kemandirian. Karena itulah, di pelbagai pelosok negeri, kita gampang menjumpai orang Padang, dengan ragam profesi yang ada.

Kemandiran dalam sistem matriarkhi ternyata justru terbangun sejak dini. Rasa tanggungjawab laki-laki kepada perempuan sungguh tinggi. Meskipun bekerja jauh di luar daerah, mereka tetap tidak melupakan keluarga.
Dominasi Ideologi Eksternal

Dalam sistem matriarkhi, ibu memiliki peran sentral dalam menentukan kebijakan masa depan anaknya. Ayah berperan sebagai penyangga kebutuhan. Tetapi, tetap memiliki peran strategis. Laki-laki tetap yang menentukan berapa banyaknya dana yang harus dikeluarkan untuk kehidupan rumahtangga dan anak-anaknya itu.

Matriarkhi membebaskan perempuan untuk berkarir, namun karena kuasa ideologi berbasis agama dan ekonomi kapitalisme lebih dominan, perempuan tetap masih terbelenggu dalam jeratan kehendak laki-laki, meskipun secara tidak langsung.
Dalam situasi demikian, emansipasi berbasis gender ternodai oleh faktor eksternal yang bersifat ideologis. Logikanya, adat telah memberikan hak lebih kepada perempuan dalam soal warisan, namun karena faktor agama kian mendominasi---yang menyatakan bahwa perempuan hanya mendapatkan satu bagian saja ( lanang sepikulan, wadon segendongan, bhs Jawa)---maka matriarkhi tetap berbatas patriarkhal.

Ada konteks yang terkesan dihilangkan dari latar terbentuknya sistem matriarkhi dari kuasa agama dan liberalnya kapitalisme. Wanita karir yang sudah meraih kesuksesan tidak lagi mendapatkan legitimasi kultural untuk mendapatkan bagian warisan yang lebih dari laki-laki. Itu adalah bagian dari fenomena pergeseran kultural matriarkhi akibat kapitalisme yang meniscayakan adanya wanita karir.

Matriarkhi kontemporer ternyata cenderung menguntungkan laki-laki. Bagaimana tidak, sistem yang sejatinya diupayakan untuk melindungi perempuan ternyata sudah berbalut kuasa ideologi agama dan praktek kapitalisme yang jelas lebih patriarkhal, lepas dari historisitas kultural yang ada.

Ada benarnya kata Fricof Capra (2002), agama paling rasional di dunia adalah agama ketimuran berikut kebijaksanaannya. Mengapa? Karena formalitas yang menjadi idealitas ajarannya selalu beranjak dari konteks sosial terdekat, tidak melangit dan bervisi verikal sentris seperti agama-agama abrahamik.

Matriarkhi diciptakan tentu berangkat dari persoalan riil masyarakat ketika itu. Jadi, kalau ada pergeseran, yang kemudian cenderung patriarkhal, harus ada rekulturisasi atau retradisionalisasi dengan melibatkan tangan-tangan kebudayaan dan mental egaliter yang emansipatoris.

Bila tidak demikian, matriarkhi tetaplah patriarkhal. Ternyata dalam matriarkhi yang lebih menguntungkan perempuan masih saja terdapat unsur patriarkhi yang jelas lebih memihak hegemoni laki-laki.

(Dimuat Harian Umum Pelita, Sabtu, 17 Juli 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar