Minggu, 29 Agustus 2010

Perempuan Perempuan Samin

Oleh M Abdullah Badri

Perempuan biasanya lekat dengan dunia gosip. Psikologi perempuan selalu ingin diperhatikan, serta pula gemar memperhatikan orang lain. Wajar. Bukan sebuah kekurangan. Justru ketika itulah seorang perempuan sedang melakukan peran kontrol sosialnya. Perempuan pada umumnya sensitif terhadap ketidaknyamanan dan hal-hal yang menyimpang dari norma yang berlaku, sekalipun dalam bentuk yang sepele. Daya advokasi personal itulah yang membuat perempuan memiliki kelebihan tersendiri. Bagaimana dengan perempuan Samin?

Perempuan Samin bukan perempuan gossipers (tukang gosip). Mereka juga bukan orang yang senang mengumbar lidah dengan murah. Mereka adalah perempuan waskita yang melakukan segala hal dengan timbangan sosial dan kultural. Barangkali Anda tergolong kategori itu, meski bukan bagian dari komunitas sedulur sikep yang terkenal kearifan kosmosnya tersebut.

Sedulur sikep Samin yang tersebar di beberapa wilayah Jateng, antara lain di Blora, Pati, Kudus, Purwodadi, Rembang, Brebes dan beberapa kota di Jawa Timur, memiliki prinsip hidup tersendiri. Eksotisme sosio-kultural membuat orang Samin dikenal sebagai komunitas yang nyentrik, namun penuh dengan nuansa nilai-nilai kemanusiaan. Sebagian besar penganut ajaran Ki Samin Surosentiko (1858-1914) itu tidak menempuh studi formal sekolah. Toh demikian, mereka akrab dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka adalah pembelajar kehidupan, kendati tidak belajar banyak tentang teori kehidupan.

Mereka cukup menjadi petani yang mengelola sawah, asal tidak merugikan hak-hak orang lain serta kewajibannya sebagai hamba yang baik. Makanya, rutinitas kehidupan mereka sehari-hari dipenuhi dengan semangat membangun hubungan yang lebih baik, menyingkirkan jauh-jauh hal yang dianggap tidak layak (amar ma’ruf-nahi mungkar).
Perempuan di kampung Samin yang berperan sebagai manajer kehidupan domestik rumah tangga, harus pandai-pandai melakukan usaha penyeimbangan antara hak sebagai bagian dari keluarga dan hak sebagai bagian dari masyarakat sekitar. Karena intensitas pergaulan perempuan di sana cukup besar dibandingkan dengan laki-laki atau suami yang bekerja di ladang, mereka berperan sebagai penyambung peseduluran dengan tetangga.

Menjaga Harmoni
Keharmonisan hubungan antar keluarga di komunitas sedulur sikep Samin berada di tangan para perempuan. Kalau tidak pandai menjaga interaksi sosial, ada kekhawatiran guncangan keluarga akan terjadi. Makanya, dalam melangsungkan interaksi antar sesama, para perempuan Samin memiliki prinsip hidup wedi awake dewe (takut kepada diri sendiri). Karena perempuan Samin menjadi perlambang keharmonitas rukun antar tetangga, mereka harus saling menjaga kepercayaan secara personal. Rasa wedi berbuat tidak baik harus dimulai dari awake dewe, diri sendiri. Tidak perlu menunggu teguran orang lain.

Agar kontrol terhadap diri terus berlanjut, mereka punya prinsip setiti ing pundhi panggonane (waspada di manapun berada). Mereka melakukan reksa diri dengan tidak mudah terpengaruh situasi dan arus. Di manapun dan kapanpun, dalam kondisi apapun. Mereka tidak gampang terpengaruh gosip murahan dari media massa, apalagi hasutan yang merugikan orang lain. Karena ia setiti.

Dalam memperteguh keharmonisan, mereka memiliki prinsip egalitarianisme, yakni podo patut karo sopo wae (berbuat baik kepada siapa saja). Perempuan-perempuan Samin tidak memilih siapa yang harus dihormati dan siapa yang harus dibenci. Karena menurutnya, semua manusia di mata Yang Kuasa adalah hamba yang harus diperlakukan sama, dihormati. Tidak ada hirarki bahasa keseharian dalam kehidupan mereka. Itu yang membuat mereka tidak mengenal struktur kuasa berbasis kolonial, yang pada akhirnya menciptakan kelas sosial dan ekonomi. Di komunitas Samin, hal itu terlarang secara kultur.

Perempuan Samin merupakan perempuan yang pandai menjaga hati dari lobang-lobang moral yang menganga. Dalam berprinsip, mereka memiliki unen-unen (kata bijak), yaitu aja drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren (jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati dan hasud kepada milik orang lain). Penyakit psikologi moral itulah yang kadang menjangkiti kita. Namun, dalam falsafah Saminisme, hal itu jelas sebuah kenaifan. Perempuan yang kadang secara psikologis cenderung ingin menuntut lebih kepada suami, akan mendapatkan stigma matre dalam komunitas Samin. Mereka tidak gampang iri, tidak mudah sakit hati dan tidak suka bertengkar.

Karenanya, perempuan perempuan Samin adalah perempuan yang sederhana, namun tetap bijaksana dan kuat dalam memegang prinsip hidup. Mereka sensitif terhadap perasaan diri sendiri maupun orang lain. Namun tetap tegas mengamalkan prinsip. Merekalah bukan penggemar berita miring. Siap melakukan advokasi ketika terjadi penyimpangan. Saya pikir perempuan Samin begitu. Andakah ia?

(Dimuat Harian Umum Pelita, 27 Agustus 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar