Minggu, 30 Januari 2011

Memoar Anak dalam Tragedi Perang

Oleh M Abdullah Badri




Judul : Anak-anak Peluru, Kisah Kelam Tentara Anak
Penulis : Heri Sudiono & Rini Rahmawati
Tebal : xiv+118 halaman
Penerbit : Mata Padi Presindo, Yogyakarta
Cetakan : I, Juni 2010



Membaca buku ini seperti membuka memoar kelam anak-anak dalam kejamnya medan tempur. Di Indonesia, anak yang direkrut jadi mesin pembunuh perang tak begitu dikenal karena jarang ditemukan sebagai fenomena nyata korban kekerasan militer dan separatisme. Namun, di negara yang dilanda konflik berkepanjangan, anak sangat rentan “dipaksa” memegang senjata untuk sudi membinasakan musuh.

Ada beberapa negara yang dilaporkan terjadi kasus perekrutan anak dalam kesatuan bersenjata. Di Afrika, negara yang merekrut anak dibawah usia 18 tahun, baik dari pihak militer pemerintah maupun pemberontak, adalah Burundi, Republik Afrika Tengah, Chad, Pantai Gading, Republik Demokrasi Kongo, Rwanda, Somalia, Sudan dan Zimbabwe. Di Asia, ada negara Myanmar, Iran, Irak, Laos, Nepal, Filipina, Sri Lanka, Israel-Palestina dan Afganistan. Di dataran Eropa kita bisa menyebut Checnya, Bosnia Herzegovina, Kroasia, dan Serbia. Sementara di Amerika Latin ada Bolivia, Brazil, Kolombia dan Haiti. (hlm. 12-20).

Anak-anak yang hidup di negara itu rentan dengan perekrutan sebagai anggota bersenjata karena langkanya fasilitas pendidikan, kurangnya lapangan kerja, tingginya angka kemiskinan yang memaksa mereka menjadi pekerja kasar dengan upah minimum. Akibat konflik yang tak kenal ujung, tak ada yang mampu melindungi mereka dari marabahaya. Apalagi memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Satu-satunya cara bertahan hidup hanya bergabung dengan anggota bersenjata. Anak-anak hilang korban peperangan, merasa telah menemukan “keluarga baru” yang melindungi mereka setelah bergabung dengan kesatuan militer.

Anak menjadi target rekrutmen karena kondisi fisik dan emosionalnya masih labil, sehingga mudah “dicuci otak”nya untuk menuruti perintah secara absolut, sempurna. Mereka tak terlalu berpikir pajang tentang risiko dan kepentingan persekutuan senjata tempat dia bernaung. Dengan begitu, mereka bisa direkayaa sebagai pembunuh berdarah dingin yang lebih kejam daripada tentara dewasa. Mereka menjelma mesin-mesin pembunuh sempurna yang sanggup membunuh siapa saja; tentara musuh, penduduk sipil, anak-anak lain dan perempuan.

Kualitas anak-anak peluru ada dalam daya tahan hidup dengan sedikit makanan dan air serta kepatuhan sempurna terhadap perintah. Karena itulah, dalam medan perang mereka ditempatkan pada posisi yang paling berbahaya; di garis terdepan pasukan, diumpankan ke ranjau-ranjau darat, menjadi perisai-perisai hidup, umpan untuk memerangkap musuh, bahkan terkadang untuk melakukan misi bunuh diri. (hlm. 33).

Dengan keluguan dan ketidakmampuan memahami yang terjadi, apa yang dilakukan anak dalam setiap fase kekerasan bersenjata adalah bagian dari mekanisme psikis di mana mereka menyikapi segala hal sebagai sebuah permainan, laiknya anak-anak yang hidup dalam situasi damai. Terlepas dari segala bentuk kekejaman yang mereka lakukan, mereka sebenarnya hanya berusaha menikmati dan mengeksplorasi lingkungan dengan isnting anak-anak pada umumnya, yakni bermain.

Buku ini menunjukkan fakta bahwa ribuan, bahkan jutaan anak di negara-negara konflik direkrut oleh kesatuan militer di berbagai negara yang dilanda konflik. Meskipun rata-rata yang merekrut adalah milisi pemberontak, namun ada juga militer pemerintah yang melakukan hal sama demi menambah kuantitas tentara. Revolution United Front (RUF), sebuah kelompok oposisi yang sejak 1991 menyebabkan perang saudara di negara Sierre Leone Afrika, memiliki ribuan anak-anak peluru yang siap diluncurkan. Begitu juga Sierre Leone Army (SLA). Di bawah kuasa presiden Momoh, SLA juga tak kalah jumlah tentara cilik yang dipunya.

Menurut penulis buku, anak begitu menggiurkan dijadikan tentara karena murah harganya. Hanya difasilitasi senjata api ringan seperti AK-47 yang dapat dibeli dengan biaya 12 dolar di pasaran, mereka bisa membunuh manusia sesuai perintah. Di kesatuan, fungsi anak lebih dari sekadar prajurit biasa. Mereka bisa difungsikan sebagai pembawa logistik, mata-mata, pengumpul harta rampasan, atau yang perempuan, dijadikan pemuas nafsu seks.

Mereka yang sudah direkrut secara paksa –kebanyakan diculik dari kamp pengungsian korban perang, harus menurut perintah. Tidak ada pilihan lain kecuali mati. Sehingga, ketika mereka berhasil melarikan diri dari kelompok yang selama ini memfasilitasi kebutuhan dasar dan melindungi diri mereka dari ancaman fisik, mereka mengalami apa yang disebut Pos Traumatic Stress Disorder (PTSD); sulit beradabtasi dengan lingkungan damai, keterasingan yang menakutkan, kehilangan makna dan identitas diri dan hilang harapan masa depan.

Inti buku ini adalah menyampaikan pesan kepada dunia bahwa perang yang tak dapat dihindari, haruslah tetap beretika. Anak-anak adalah generasi emas. Mereka perlu dilindungi dan dikembangkan dengan dukungan lingkungan yang kreatif dan mendidik, bukan dengan kekerasan dan perang. Selamanya, perang akan menyisakan ironi yang berkelanjutan. Anak-anak korban perang perlu rehabilitasi untuk mengembalikan hidup mereka. Begitu simpul penulis.

(Dimuat Radar Surabaya, 30 Januari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar