Rabu, 23 Februari 2011

Tionghoa di Zaman yang Bergerak

Oleh M Abdullah Badri

Judul : Menantang Phoenix (Only a Girl)
Penulis : Lian Gouw
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun : Cetakan I, 2010
Tebal : viii + 385 halaman

Kisah dalam novel ini mengingatkan saya pada sebuah buku “Zaman Bergerak” karangan penulis Jepang, Takashi Siraishi. Pada masa awal-awal pergerakan kemerdekaan itu, orang Tionghoa sedang mencari identitas kemerdekaan seiring penduduk bumiputera yang sama-sama bergairah memperoleh hak-hak sipil dari penguasa kolonial Belanda.

Peranakan Tionghoa tak akur dengan kalangan bumiputera karena merasa menjadi bangsa yang kelak hari menggantikan Belanda menjajah Indonesia setelah revolusi politik di Beijing mengubah China dari negara kekaisaran ke republik. Orang bumiputera distigmatisasi sebagai kaum pembantu, tak beradab dan miskin oleh Tionghoa peranakan.

Potret seperti itulah yang terekam dalam faksi karya Lian Goum berjudul Menantang Phoenix ini. Kisah dimulai dari penolakan keluarga Caroline Ong, terhadap pilihan hatinya bernama Po Han. Padahal, ketika itu usianya yang sudah 30 tahun harusnya sudah tidak memerlukan lagi izin menikah dari walinya. Toh demikian, pernikah tetap berlangsung dan mereka hidup serumah degan Ocho, nenek Po Han yang suka mabuk. Po Han banyak cek-cok dengan Caroline. Demi menjaga keutuhan rumah tangga, Caroline pun kembali ke rumah ibunya, Nanna.

Di rumah Nanna, Caroline dan anaknya, Jenny, dibebaskan untuk memilih tradisi Belanda sebagai jalan hidup, namun tetap menghormati kebudayaan Cina. Belanda, bagi keluarga Caroline adalah negara masa depan yang menjanjikan. Hal itulah yang nampaknya diwarisi oleh Jenny di kemudian hari.

Di sekolah, Jenny merasakan konflik batin yang cukup mendasar. Ia jarang bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Selain penguasaan Bahasa Indonesia yang kurang bagus, ia juga dicibir karena menentang pemikiran Soekarno soal perkawinan campuran dan asimilasi. Ketika itulah, Jenny merasa Indonesia bukan negaranya. Anggapan Indonesia sebagai negara kaum pembantu dan petani juga muncul dari Caroline dan Nanna.

Novel berlatar sejarah revolusi dan kebangkitan nasionalisme Indonesia ini menarik karena menyimpan arsip kolonialisasi Belanda dengan politik etis-nya. Caroline, Nanna dan Jenny menganggap Indonesia seakan bukan negaranya mengingat strategi politik Belanda dalam mempertahankan kependudukannya kala itu dengan peneguhan perpecahan.

Semakin bermusuhan, Belanda semakin tak terkoyak. Politik passenstelsel dan wijkenstelsel adalah bukti dari upaya Belanda memecah belah bumiputera dan Tionghoa. Ketika itulah orang Tionghoa justru dihadapkan pada pilihan yang sulit tentang kepemilikan negara, antara Indonesia, Belanda atau China, negara asal nenek moyangnya.

(Dimuat Okezone, Selasa, 22 Februari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar