Jumat, 04 Maret 2011

Semesta Politik yang Telanjang

Oleh M Abdullah Badri

Jika politik adalah seni meraih segala kemungkinan, maka dunia politik adalah dunia masa depan yang penuh dengan misteri kepentingan. Kesuksesan berpolitik, akhirnya, hanya dipandang pada keberhasilan. Proses tak jadi prestasi penting. Sejujur apapun orang, kalau ia tetap kalah dalam medan pertarungan politik, maka, dia tetap dikata gagal. Kebohongan yang dilakukan, dengan demikian, dianggap kelaziman selama dengan sikap menutupi kejujuran itu, target politik yang dicitakan, berhasil teraih.

Padahal, apa pun yang namanya kebohongan, senyatanya, ia akan tetap mengkhianati sikap jujur. Kejujuran, dalam politik kemudian jadi semacam komoditas meraih keuntungan politis. Kalau dengan kejujuran sebuah target politik terccapai, maka akan digunakan sebagai manuver. Bila tidak, kebohongan bukan pilihan sulit dijadikan strategi. Batas kejujuran dengan kebohongan sangat tipis dalam labirin politik pragmatis.

Lily Wahid misalnya, anggota Fraksi PKB DPR RI mengancam Muhaimin Iskandar akan membeberkan kebohongan politik PKB kalau saja benar akan di-recall dari Senayan, hanya karena dia mendukung hak angket mafia pajak (Wawasan, 2/3/11). PKB yang jadi partai pendukung kabinet SBY merasa malu bila ada kadernya yang mbalelo tidak mendukung setiap kepentingan penguasa, SBY dan kabinetnya. Bukan sekadar malu, PKB juga akan terancam didepak dari koalisi bila melanggar kesepakatan politik “dukung total” kepada pemerintah.

Karena itulah, Muhaimin geram dan kecewa atas pilihan kader PKB yang tidak patuh pada konsensus politik partai. Ia mengancam Lily karena dia juga merasa terancam posisinya di kabinet. Lily berdalih, pilihannya mendukung angket pajak adalah demi bangsa dan negara. Dia merasa bersikap jujur atas nama kepentingan rakyat. Tapi lihat, setelah dia diancam recall Muhaimin, reaksi yang muncul adalah membeberkan kebohongan PKB. Kebohongan dan kejujuran nyata hanya sebagai komoditas.

Kejujuran dijadikan sebagai alat untuk menelanjangi kebohongan kalau ia berguna untuk meraih kepentingan dan atau mempertahankan kekuasaan. Pencitraan yang lebih utama daripada kejujuran.

Traktat Kebohongan
Seorang kaisar dalam legenda dongeng Barat pernah ada yang disebut sebagai The Emperor Without Clothes (Kaisar yang Telanjang). Mekipun berkuasa, tapi dia memiliki hobi yang digemari banyak perempuan: suka mengoleksi pakian bagus dan memakainya sebagai pencitraan diri yang kaya harta. Hobinya itu menyita perhatian terhadap yang lain, yang lebih penting.

Datanglah dua penjahit kenamaan yang menawarkan kaisar pakaian yang paling bagus, paling mahal dan tiada duanya di dunia. Bukan hanya bagus, pakaian yang akan dibuat itu memiliki keistimewaan tiada tara: hanya bisa dilihat oleh orang yang jujur. Para pembohong dipastikan tak bakal menikmati mukjizat keindahan pakaian itu, siapa pun ia dan di mana pun dia.

Dua penjahit datang ke istana mengantarkan pesanan kaisar. Betapa terekejut, setelah dikenakan, pakaian indah dan istimewa itu tak dilihat sang kaisar. Ia berpakaian, serapi biasanya, se-mempesona ia, tapi alat vital kelelakiannya tetap saja bebas dipandang dirinya. Kalau benar kata si penjahit, kaisar berarti orang yang tidak jujur, alias pembohong yang baik. Padahal, pakaian itu niatnya akan dikenakan dalam beberapa acara kenegaraan.

Demi menunjukkan integritasnya, kaisar berpura-pura melihat pakian itu dan mengatakan kepada permaisuri dan segenap pejabat bahwa ia merasakan kenyamanan dengan pakaian itu. Takut dikatakan tidak jujur. Sekali lagi, takut disebut pembohong. Semua pengawal, penghuni istana, dan permaisurinya mengikuti ritme keinginan kaisar. Dengan serentak mereka mengatakan pakaian sang kaisar bagus dan mempesona. Padahal sebetulnya mereka juga tidak melihat pakian macam apa yang sebetulnya dikenakan penguasanya itu.

Masyarakat yang sempat melihat kaisar dalam acara-acara, bertanya-tanya mengapa kaisar tak mengenakan pakaian pada saat-saat resmi seperti pembukaan lahan, memutuskan sengketa, pidato kenegaraan, melontarkan kebijakan sosial, bahkan dalam kebijakan perang sekalipun. Rupanya, rakyat sang kaisar banyak yang tidak jujur. Tapi mereka berpura-pura melihat pakaian kaisar karena takut dianggap tukang fitnah, penebar teror, penghianat negara dan lainnya.

Semua orang mulai dari kaisar, penghuni istana, pejabat, permaisuri hingga rakyat kebanyakan tak ada yang melihat kaisar dengan pakaian itu. Mereka hanya megikuti kata kaisar: hanya yang jujur yang melihat pakaian istimewa saya. Tak adalah yang berani menentang pendapatnya. Sampai suatu titik, ada anak kecil yang lantang berkata: “Hei, kaisar telanjang, tidak memakai baju.” Anak kecil itu ternyata juga pembohong.

Ketidakjujuran dalam cerita itu menelanjangi semesta. Tak peduli siapa, dimana, kapan dan bagaimana kebohongan itu dimunculkan. Lalu, siapa yang jujur? Pembohong yang mengakui kebohongannya itulah satu-satunya yang jujur. Bukan mereka yang menghamba muka dan citra. Sampai sampai harus menggemukkan tubuh biar tetap dikata tegar, bugar dan segar di hadapan publik. Selamat dari semesta yang telanjang.

(Dimuat Koran Wawasan, Kamis, 3 Maret 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar