Senin, 09 Mei 2011

Lupa Menziarahi Hujan

Hujan. Foto: ilustrasi
Oleh M Abdullah Badri

Ketegangan meningkat ketika air hujan turun tanpa henti mengisahkan bencana-bencana: banjir, tanah longsor, lahar dingin, angin badai besar. Bencana-bencana yang merepotkan hajat hidup. Kedatangan hujan, yang sejatinya rahmat, menyuburkan tanah dan tanaman, berubah laknat dan petaka dalam rupa bencana. Musim penghujan sekarang berarti momentum mawas atas segala risiko yang menginflasi kondisi lingkungan, psikologi, dan nyawa.

Infrastruktur menjadi tumbal air hujan untuk mengalihkan korban nyawa manusia, meski dalam banyak tragedi manusia tak seutuhnya bisa menghindar. Jalan Pantura Jateng Jawa mengalami kerusakan fisik berat yang mengakibatkan trauma sosial tak terperi. Lahirlah protes tanam pisang. Hujan, ia sebetulnya tak lekang mengingatkan kita tentang antisipasi hidup.

Siklus hujan belum berkisah tentang ingatan representatif yang mereproduksi kita dalam sikap dan respon. Hujan yang datang setiap musim dan tahun hanya penginsafan ingatan tapi minus reproduksi, laiknya ingatan yang terikat sementara. Dalam ingatan itu, kita sekadar mengenal kembali:O, ternyata aku pernah bertemu hujan, tapi di mana ia. M Verbeek S.J dalam bukunya, Ingatan (1978: 6) mendakwa para manusia pelupa sebagai “yang tidak menyadari bahwa pengetahuannya berasal, berdasarkan pada kesan-kesan, dari masa lampau.”

Melupakan adalah kerja yang kosong reproduksi. Hujan yang diterima sebagai kesan yang telah kita cecap dan kita camkan secara sadar (fiksasi), lalu mengalami penyimpanan tanpa sadar dalam rentangan waktu (retensi), tak jua membuat kita membuka kembali dengan aktualisasi dan kerja-kerja produktif (evokasi).

Sajak Abdul Hadi W.M, Ketika Masih Bocah, menggelitik kita para pelupa. Kita dicerca sebagai bocah yang riang dalam tiap suasana, tak terpengaruh oleh cuaca, musim atau kondisi alam: Sebab itu aku selalu riang/ Bermendung atau berawan, udara tetap terang/. Karena pelupa, kita juga tak seperti bocah itu yang: setiap butir pasir, buku pelajaran bagiku/ Kusaksikan semesta di dalam/ Dan keluasan mendekapkau seperti seorang ibu/.

Ejekan sebagai bocah yang dangkal menangkap kerja produktif atas peristiwa menumpulkan jawaban atas kehadiran hujan. Sajak Sapardi Djoko Damono, Hujan Dalam Komposisi, 1, menyoal ingatan kita akan hujan:. apakah yang kau tangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kau tangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di sekolah?//Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.

Hujan dalam fragmen sajak Sapardi, bagi kita yang para pelupa, membawa berita duka perpisahan hujan dari tanah sebagai ruang untuk mengguyurkan airnya. Daya resap tanah yang rendah oleh hasrat keindahan kita menghiasinya dengan paving, semen, aspal. Ruang tanah juga semakin sesak oleh gedung-gedung penyapa langit, permukiman penduduk dan pabrik-pabrik yang tak tertata oleh kendali penguasa, mengalienasi air hujan dari kawannya: tanah.

Doa Sapardi ada di akhir barisan kata: Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan//Selamat tidur. Yah, hujan nyenyak buat aktivitas tidur. Kita tertidur dengan panjatan doa: semoga saja hujan turun di lautan, bukan di selokan kecil kota, tanah gundul pegunungan dan tak mengetuk jendela rumah. Kita juga akhirnya tertidur dalam siklus hujan tanpa produksi prediksi-prediksi, ramalan-ramalan, dan cita-cita “tak mau memiliki kehilangan” oleh hujan yang deras bermukim tanpa kenalan kawan, di bumi.

Karena tertidur, kita tak segera mengenali suara yang berdetak di sekeliling. Mendengkur tanpa sadar dalam siklus musim yang setiap tahun menyapa, dan tak kita sapa ulang. Kisah kata-kata dalam sajak-sajak hujan sengaja diramu untuk menunda kesibukan kita dan kembali mengunjungi (revisitasi) air hujan sebagai ruang kreatif menumbuhkan kita untuk tak selalu bersikap seperti bocah.

Bocah inginnya selalu benar sembari melempar kesalahan kepada liyan, bahkan Tuhan. Hujan yang turun melumpuhkan sawah para petani disalahkan sebagai salah perintah Tuhan yang sedang tertidur tak melihat penderitaan hidup petani, yang diperas oleh agenda kekuasaan. Tuhan jadi masalah dalam hujan yang tidak kita ziarahi dengan ingatan representatif dan rahmat yang ditunggu para tanaman. Kita harus menyapa hujan untuk bisa duduk bersila(rahim) dengannya; menjadikan pengalaman bencana lampau sebagai pelajaran. Agar menambah rezeki dan umur seperti gaung sabda Nabi suci. [badriologi.com]

(Dimuat Majalah IDEA, edisi 30, Mei 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar