Senin, 09 Mei 2011

Obama dan Osama

Osama dan Obama
Oleh M Abdullah Badri

TEWASNYA Osama bin Laden pada Senin (3/05) di Abottabad, Afghanistan, membuat Tuan Barack Obama, presiden AS itu, bangga membusungkan dada. Bahkan beberapa media menyebut penyergapan rahasia selama 40 menit tersebut sebagai “mempermalukan” otoritas intelejen setempat karena dilakukan tanpa konfirmasi.

Di sisi lain, Obama juga harus siap-siap dengan serangan balasan dari mereka yang disebut Osama-phobia. Osama tewas, Obama sedang mulai bersiap “berperang”. Siapa yang keluar sebagai pemenang?

Telah lama Tuan Osama jadi target menggairahkan oleh Amerika secara politik, karena negara Paman Sam tersebut menyatakan dirinya sebagai wilayah sasaran utama yang tertimpa korban akibat ulah teror Osama pada Selasa kelabu 11 September 2001. Sejak itu, komitmen memerangi kejahatan bernama terorisme dipropaganakan ke pelbagai negara seluruh dunia. Walaupun secara epistemologis, teror sendiri tak menampakkan target dan pelaku jelas. Teror lahir dari kegelapan identifikasi pasti.

Dalam teror, oleh peneror, yang dilawan sejatinya adalah ketidakadilan yang sulit direngkuh dengan jalan konvensional, prosedural, dan negosiasi politik. Obama dalam versi Osama, adalah thaghut (berhala). Karena itulah, harus dihancurkan.

Begitu pula sebaliknya, bagi Obama, Osama tak lebih dari perusak perdamaian dunia, thaghut juga. Jadi, dalam epistemologi terorisme, yang terjadi adalah perang versi dan kategori; siapa musuh dan siapa kawan, meski untuk mengidentifikasi makna “siapa”, tiadalah tuntas hingga kini.

Karena itulah, jalan yang ditempuh oleh Osama dan Obama, sama gilanya. Sama-sama phobia sebenarnya. Sama-sama mengancam. Sama-sama merasa benar. Sama-sama deklarasi merebut kedamaian abadi. Dan sama-sama pula merasa memperjuangkan keadilan. Yang dianggap salah secara absolut hanya ada di pihak musuh. AS cq. Obama rela mengeruk dana milyaran dolar untuk memburu gerakan terorisme di seluruh dunia. Al-Qaedah cq. Osama semakin diancam semakin gila ekspansi ideologi terorisme yang diyakininya, menyebar ke kalangan militan di pelbagai negara.

Teror Versi
Lalu? Yang terjadi adalah sikap dua Tuan Besar itu –dan pengikutnya- untuk saling berebut nafsu memenangkan. Entah memenangkan apa, tidak jelas. Yang nampak, perang akan semakin menjadi-jadi dan kecemasan semakin menggila di dunia ketika Osama dinyatakan tewas oleh Amerika Serikat.

Psikopolitik hanya bisa bicara, bahwa antara Obama dan Osama, sebetulnya berperang untuk diri mereka sendiri, dengan sekian kelompok pendukung yang ada di belakang nafsu politik masing-masing. Padahal, meladeni nafsu (epithumia), sebagaimana digambarkan oleh Plato, murid Sokrates, tidak akan menemukan penyelesaian. Plato mengibaratkan nafsu (politik diri) seperti gentong bocor yang tiada titik henti mengisi, seberapa pun besar debit air yang disediakan (A. Setya Wibowo, 2008).

Agresi dalam agenda teror, baik yang merasa dilawan atau yang melawan, adalah pilihan utama. Tuan Obama dan Osama, sama-sama menggunakan agresi. Osama melakukan agresi serangan kejut yang menghentakkan keutuhan perdamain dunia, sementara Obama melakukan agresi militernya secara buta. Mereka sama-sama menebar benci. Bedanya, spirit Osama diwarnai pula oleh semangat mencintai kematian (nekrofilia), karena berani bertaruh nyawa, sementara spirit Obama didorong oleh semangat mencintai kehidupan yang dimimpikan versinya, ideal.

Dalam bahasa perjuangan agama, mereka berdua sebetulnya sama-sama “berjihad” untuk kepentingan masing-masing dengan tiada memperhitungkan risiko: politik, ekonomi, dan keyakinan banyak orang. Anak buah Osama berani nekad melakukan bunuh diri, sementara anak buah Obama berani membunuh suara nurani. Siapa yang akan menang? Tiada lain adalah kekerasan, yang akan terus terulang di jagad bumi ini. Spiral bermusuhan.

Tak akan pernah terjadi negosiasi, kecuali ada diantaranya, menyatakan diri, kalah. Mutual understanding (kesalingpahaman) mewujud bila ada yang menyatakan berserah diri. Dan, itu tak akan mungkin mungkin terjadi selamanya.

Sayangnya, Islam dalam saling “mengerjakan” proyek terorisme global itu terkebiri sebatas komoditas politik masing-masing, hanya diatasnamakan sebagai nilai yang melahirkan gerakan Tuan Osama “melawan ketidakadilan Amerika” atas pelbagai negara Islam di dunia itu. Perang teror, dengan demikian, hanyalah perang klaim dan versi. Antara mereka yang merasa benar. Hanyalah bicara nafsu, melayani ephitumia. Ironis. [badriologi.com]

(Dimuat Radar Surabaya, Minggu, 8 Mei 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar