Selasa, 20 Februari 2018

Diskusi Publik Tentang Radikalisme di Istana Presiden

Dokumen presentasi diskusi publik di Kantor Staf Presiden (KSP) RI, Rabu (14 Februari 2018) siang.
Beberapa menit setelah sambutan singkat Kepala Staf (Kastaf) Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP, saya geser ke depan untuk memulai "akting" sebagai moderator, setelah dipanggil MC. Di samping kiri saya, Pak Moeldoko masih belum beranjak dari kursi duduk khusus Kastaf. Sebelumnya saya sudah salam ta'dzim ke beliau, hormat ala badriologi.com. Hehe.

Oleh M Abdullah Badri

DISKUSI di Kantor Staf Presiden (KSP) itu nyaman sejak dari fasilitasnya. Ruangan disetting melingkar. Kursi yang melingkar, tengahnya tidak kosong, tapi tersedia puluhan monitor dengan satu layar besar di ujung. Jadi, peserta diskusi tidak perlu melotot melihat layar presentasi yang berjarak.

Presiden era Kabinet Pembangunan acap rapat di ruangan yang ada di gedung BG (Bina Graha) tersebut, dimana untuk mencapainya saya harus berjalan sekitar 10 menit dari pintu masuk Kantor Sekretaris Negara dengan melewati dua kali screen keamanan plus satu kali berfoto (mirip pas buat E KTP). Semua yang masuk harus ber ID "Tamu Istana".

Saya, kata Mas Wisnuhardana, menduduki kursi yang biasa dipakai Presiden RI untuk rapat, hari itu, Rabu (14/02/2018) saat menjadi penengah (moderator) Diskusi Publik bertajuk "Tantangan Menanggulangi Radikalisme dan Ektrimisme" bersama Mas Hasan Chabibie, Wan Rasyid Rustanto, Bu Iriani dan Mas Abi Hasantoso.

Ketika memulai acara, saya sempat bingung karena ratusan peserta sudah datang, Jenderal Moeldoko sudah siap masuk ruangan, tapi Master of Ceremony (MC) acaranya, belum nampak ada. Saya moderator tentunya harus mengikuti irama MC. Akhirnya, kursi moderator yang sudah disiapkan tim KSP lengkap dengan nama tertera "dipinjam" dulu oleh Mas Alois Wisnuhardana untuk memulai acara sebagai MC. Saya mundur ke belakang.

Beberapa menit setelah sambutan singkat Kepala Staf (Kastaf) Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP, saya geser ke depan untuk memulai "akting" sebagai moderator, setelah dipanggil MC. Di samping kiri saya, Pak Moeldoko masih belum beranjak dari kursi duduk khusus Kastaf. Sebelumnya saya sudah salam ta'dzim ke beliau, hormat ala badriologi.com. Hehe.

Selfie di depan Kantor Staf Presiden
Saya ngoceh beberapa menit tentang pengalaman saya di kampus yang pernah ditolak salaman karena saya dianggap kafir hanya karena berbeda pilihan afiliasi ormas dan ideologi gerakan Islam. Ceritanya, saya tulis di sini: Haram Jabat Tangan Karena Saya Disebut Kafir Olehnya.

Saya hanya menyambung sambutan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, yang bercerita tentang masa kecilnya di musholla, yang katanya sering dibangunkan paksa oleh kiai di kampung saat tiduran jelang subuh tiba.

Kalau Pak Moeldoko sering dipaksa bangun, saya pernah dimarahin almarhum Simbah Kiai saya (KH Nur Muttaqin, Damaran, Kudus), diseblak pakai serban putih sembari dzikir "Allah...Allah" saat memaksa bangun, sampai saya harus loncat jendela karena dua kali dibangunkan untuk jamaah subuh masih saja balik kemulan sarung lagi. Hahaha. Ngapunten, yai!

Mungkin karena disiplin mau dibangunin, Pak Moeldoko jadi jenderal. Saya? Alah emboh.

"Alhamdulillah, saya lumayan bahagia, hanya jadi moderator, bisa duduk di samping menteri," kelakar saya, guyon.

"Duduk di samping saya saja bahagia, bagaimana kalau saya peluk," kata Pak Moeldoko. Saya hanya senyum. Kuatir beneran dipeluk. Hahaha.

Ya Allah, betulan ternyata. Sebelum pamit setelah pembukaan diskusi karena ada kompres, saya betulan dipeluk hangat. Saya salah tingkah saat beliau mengucap begini:

"Terimakasih Mas Abdullah Badri mau datang ke sini meluangkan waktu dari Jepara". Karena bingung, ya saya jawab saja dengan "SIAP!".

Harusnya saya kan yang berterimakasih diberi kesempatan bertemu orang-orang luar biasa di forum yang dihadiri 150 an orang tersebut mulai dari pejabat, tokoh agama, tokoh politik, akademisi, artis, sampai saya punya "kuasa" meminta Kang Maman ILC (Indonesian Lawak Club) untuk testimoni akhir tanpa dibayar, karena saya moderator sak kerepe dewe. Haha

(Foto gundul di di tengah postingan ini adalah Kang Maman).

Sayangnya, bukti foto saat saya "dipeluk rahmat" oleh Jenderal (Purn.) Moeldoko belum ada masuk ke WA saya. Andai saja ada, akan saya sertakan di tulisan ini agar tidak disebut hoax. Kata Wan Rasyid, no picture: hoax. Hahaha. [badriologi.com]

Saya hanya menyimpan foto saat mojok di dapur istana presiden. Menemani Mas Hasan ngudud (merokok guyub). Ini fotonya:

Saat-saat santai jelang diskusi publik di Kantor Staf Presiden
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar