Senin, 12 Februari 2018

Ketika Saya Hampir Disodomi oleh Dukun Sakti di Depan Makam Ini

korban sodomi anak
Ilustrasi saja
Menurut orang-orang, jubahnya hanya kedok untuk melakukan praktik. Dua teman saya adalah saksi yang salah satunya pernah mendampingi banyak korban dalam sidang, kala itu. Bapaknya juga pernah jadi guru di yayasan sang "kiai kodok", eh "kedok".

Oleh M Abdullah Badri

[HARUS Dibaca sampai selesai agar tidak gagal paham. Bukan tanggungjawab penulis jika ngomong ngalor ngidul]

Namanya anak pondok di Kajen, ziarah ke makam Mbah Mutamakkin adalah rutinan fardlu kifayah. Setidaknya dalam sepekan sekali, ziarah adalah sunnah, minimal malam Jumat.

Nah, karena sedang ngaji Qur'an untuk lalar hapalan biar lancar, saban hari saya sempatkan ziarah, mendaras Qur'an, dari pagi hingga siang. Bahkan kadang sampai malam. Jarak antara pondok dan makam hanya 10 menit ditempuh jalan kaki. Dekat, tidak perlu Go-Jek.

Siang itu saya hendak pulang ke pondok. Ada mobil yang saya perhatikan sudah parkir di depan makam selama berjam-jam. Saya tahu karena berada di makam sejak pagi.

"Kang, mau pulang pondok, saya antar yah sama Pak Kiai," ujar pemuda separuh baya, menunjukkan mobil kinclong silver yang ditawarkan, lupa mereknya, tapi pintunya bisa digeser.

"Mboten usah mas, saya bisa jalan sendiri," jawaban saya justru ditimpali balik begini: "Ini pak Kiai ingin ngundang ngaji sampeyan loh, Mas," ia masih membujuk.

"Oh, ngaji, kapan?" Akhirnya saya masuk mobil.

Terjadi perbincangan hangat dengan sosok kiai yang tidak saya kenal. Tapi tampilannya ganteng, berwibawa dengan jubah, peci dan surbannya yang serba putih.

Ia juga mengaku murid Kiai Abdullah Salam, simbah saya di Kajen. Itu yang membuat saya hormat, cium tangan. Kepada saya, dia menyebut punya ribuan jamaah dan kaya raya. Moblinya banyak, dekat dengan penguasa karena dia bercerita kalau sang presiden yang menjabat waktu itu, sering sowan ke ndalemnya.

"Wah, hebat bener orang ini, melebihi Mbah Dullah Salam," batin saya, waktu itu.

Di mobil, saya tidak tahu akan diajak kemana, tapi kok serasa muter-muter entah terus. Sesekali mobil berhenti, kami ngobrol di pematang sawah. Kadang berhenti untuk beli makanan, minuman, jajanan, dan kebutuhan di jalan.

"Ini mau ngundang ngaji atau ngajak jalan-jalan yah," gumam saya.

Dalam mobil, posisi duduk sang kiai selalu mepet ke saya. Kadang ngelus-ngelus tangan saya, dan bahkan ia memepetkan pahanya ke paha saya.

Saya selalu menghindar. Dia kiai, bro. Bukan Syahrini. Tapi lama-kelamaan, mobil muter-muter di jalan tanpa membahas yang disebut sopirnya sebagai "ngundang ngaji".

Kok nyosor bro. Pipi saya disosor.

"Eh, apa-apaan ini kiai, saya bukan muhrim, halal harusnya, tapi antum kan laki-laki," kataku, spontan.

Saya ini punya pacar lima santriwati di Kajen. Artinya, saya normal, bro. Ini kiai sedang adu sakti tentang apa sama saya.

"Tak apa mas, nanti jenengan akan disangoni tiap bulan kalau ngaji di pondok," sopirnya bilang begitu.

"Loh, katanya ngundang ngaji, kok ada acara begini mas?"

"Nanti kalau sudah, sampeyan tak undang ngaji".

"Tidak, saya harus kembali ke pondok, atau saya teriaki maling?"

Terpaksa saya diturunkan di pinggir pasar. Saya selamat, tidak jadi korban kiai itu. Pulang naik angkot. Ngaji lagi di pondok.

Beberapa Tahun Kemudian
Khatam ngaji Qur'an saya pulang kampung, saya sudah beristri, meski istri saya bukan yang pernah saya jadikan cem-ceman di pondok secara sembunyi-sembunyi itu.

Kabar yang beredar dari sang kiai itu menyebut dia menjadi tahanan kasus sodomi dengan hukuman hampir 10 tahun. Konon, korban sodominya adalah santri-santrinya juga. Dia pernah cemburu kepada santrinya karena sang santri ketahuan pacaran dengan cewek, sesama santri pula.

Cerita yang beredar pula, wali santriwati yang dipacari oleh "pacarnya" kiai gadungan itu dipanggil, motornya dibakar oleh preman suruhan, orang tuanya dianiaya, dan sadisnya, konon, barang berharga khas milik santriwati itu dibikin njarem karena pukulan.

Banyak korban yang takut melapor. Saya juga tidak melapor karena hanya jadi calon korban. Mereka yang melapor takut diancam. Yang setia, keluarganya akan dihormati, bahkan kalau perlu anak-anaknya disekolahkan di sekolah SMK nya dan orang tuanya dihajikan.

Menurut orang-orang, jubahnya hanya kedok untuk melakukan praktik. Dua teman saya adalah saksi yang salah satunya pernah mendampingi banyak korban dalam sidang, kala itu. Bapaknya juga pernah jadi guru di yayasan sang "kiai kodok", eh "kedok".

Yang kasihan adalah istrinya. Meskipun ayu, dibiarkan menganggur hingga expired. Kata tetangga yang dulu sering ketemu sih begitu. Semoga dia cepat sembuh dari cara-cara menjadikan agama sebagai alat pemuas.

Menurut saya, dia bukan kiai, tapi dukun sakti. Kini, kayaknya, presiden RI dan PBNU akan diundang ke acara jamiyahnya. Duh, repot. Sebentar lagi ada spanduk "Tolak LGBT" yang menyebar. [badriologi.com]

==========
Keterangan:
Aktor cerita utama di atas bukan saya yah, tapi teman saya. Saya berakting sebagai pencerita saja. Saya bukan korban sodomi. Tapi korban mimpi disodomi oleh wanita. Hahaha
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar