Sabtu, 10 Februari 2018

Pak Harto dan Mitos Ayam Cemani Hingga Harga Melambung Tinggi

Gambar ayam cemani, spesies langka yang bernilai jual tinggi. Foto: Google images
Harga ayam cemani yang darahnya hitam gelap berkaitan dengan mitos ayam cemani yang kono memiliki khasiat unik hingga ternak ayam cemani asli ada di beberapa kota di Indonesia. 

Oleh M Abdullah Badri

TIDAK ada harga standar untuk seekor pitek (ayam) cemani yang bulu, daging dan darahnya hitam semua. Para peternak cemani juga tidak mau membuat standar harga. Standar mereka adalah kepentingan pembeli.

Sayangnya, para peternak sudah kadung pakem pemahamannya bahwa ayam cemani itu digunakan untuk ritual-ritual gaib yang negatif, misalnya narik pesugihan, tolak santet dan sebagainya, yang konon biasa digunakan untuk "perbuatan" yang bernilai uang dan jabatan tinggi.

Padahal, ayam cemani itu adalah makhluk Allah yang memang diciptakan memiliki kelebihan alam dibanding pitek lain. Dulu, harganya murah. Kalau angka sekarang senilai 200-300 ribu. Tidak ada perlakuan khusus untuk merawat soalnya.

"Mulianya" harga jual ayam cemani yang hingga sekarang nilainya mencapai puluhan sampai ratusan juta itu, dimulai sejak Pak Harto (konon) mengeluarkan perintah untuk mencari 21 ayam cemani untuk kepentingan entah apa.

Katanya, Pak Harto dulu menggunakan ayam cemani untuk ritual penguatan tentara ABRI agar kuat. Dan nyatanya para tentara jaman Orba memang terkuat di Asia.

Anda bisa tes karakter ayam cemani. Dia sangat berani bertarung. Jika mendapatkan lawan, ia tidak akan berhenti berkelahi hingga titik darah penghabisan, kecuali ia kena duluan, kepatok lawan misalnya.

Keberanian ayam cemani itulah yang diinginkan ada dalam tubuh para tentara republik, dulu. Sejak itu, hewan natural hitam tersebut bernilai spiritual dan uang yang lumayan menggiurkan diperdagangkan.

Padahal, khasiat ayam cemani juga bisa dimanfatakan untuk wasilah tasyakuran manaqib, maulid, atau hal positif lain yang dianggap sebelah dengan sebutan bid'ah dan khurafat. [badriologi.com]
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar