Selasa, 03 Juli 2018

Dari Rumah Dibawa ke NU, Jangan Sebaliknya!

Logo NU
Oleh M Abdullah Badri

SELAMA 35 tahun, ranting NU Desa Beringin hilang. Selama 20 tahun pula, Desa Dongos tidak ada kepengurusan ranting NU-nya. Namun, dalam medio 2016-2017 hingga kini, kegiatan ke-NU-an di dua desa yang ada di Jepara itu makin ramai. Dalam hari-hari tertentu, kegiatan ke-NU-an secara maraton bahkan digelar tanpa jeda.

Begitu pula nama para petinggi/kepala desa di seluruh Kabupaten Jepara, masuk dalam struktural NU di desa masing masing, demi menjaga tetap berlangsungnya amaliyah aswaja dan tidak terprovokasi radikalisme anti NKRI. Pengurus Mejelis Wakil Cabang (MWC), -struktur NU tingkat kecamatan-, juga sudah sejajar dengan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopincam), baik dari segi komunikasi maupun kerjasamanya.

Geliat NU di Jepara yang diakui oleh banyak pihak makin hidup di masa kepemimpinan Rais Syuriah KH Ubaidillah Umar dan Ketua Tanfidziyah PCNU KH Hayatun Abdullah, membuat radikalisme dan wahabisme terhalang masuk ke Jepara. NU juga makin diperhitungkan dalam peta politik dan pengambilan kebijakan pemerintah daerah hingga desa.

Kedua pemimpin tertinggi di NU Jepara itu tiada lain adalah menantu dan putra KH Abdullah Hadziq bin Hasbullah Balekambang, Nalumsari, Jepara. Sosok ulama yang disebut-sebut Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan sebagai waliyullah alim-allamah tapi tetap selalu berpenampilan sederhana karena punya rutinitas pergi ke pasar secara mandiri, bertopi leken dan bercelana, dan naik dokar demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dan santri-santrinya.

Mbah Dullah -panggilan akrab KH Abdullah Hadziq-, kata Habib Luthfi, pernah ngaji selama 12 tahun di Makkah kepada Syaikh Mahfud at-Tarmasi, Syeikh Dimyathi dan juga Syeikh Nahrawi al-Makkiy, mursyid thariqah Syadziliyah, dan ulama masyhur tanah Haramain lainnya.

Oleh Habib Luthfi, selain Mbah Malik (Purwokerto), Mbah Dullah Balekambang adalah sosok guru yang dianggap sebagai bapak, mengingat di masa kecilnya, Habib Luthfi pernah “dimomong ngaji” Mbah Dullah selama dua tahun di Pesantren Balekambang dari tahun 1961, saat usia 13 tahun. Meski begitu, Habib Luthfi adalah mursyid thariqah Mbah Dullah. Kok bisa?

Ceritanya, ketika hendak bai’at thariqah kepada Syeikh Nahrawi al-Makky dan Syeikh Mahfudz at-Tarmasiy, Mbah Dullah tidak langsung mendapatkan ijin. Oleh Syeikh Nahrawi, Mbah Dullah diberitahu bahwa mursyid beliau saat itu belum lahir dan masih dalam kandungan ibunda.

“Mursyidmu nanti adalah cucu dari Habib Hasyim bin Umar bin Thaha bin Yahya Pekalongan. Carilah,” demikian kata Syeikh Nahrawi.

Karena diperintah guru, Mbah Dullah Balekambang akhirnya mencari calon mursyidnya tersebut, dan bersilaturrahim dengan Habib Hasyim. Setelah mengutarakan tujuan dan tujuan Mbah Dullah kepada Habib Hasyim, maka dipanggil lah putra-putranya untuk ditanya; siapa yang istrinya mengandung, ternyata Habib Ali bin Yahya, yang di kemudian hari, -setelah lahir seorang putra dari istrinya-, diberi nama Muhammad Luthfi.

Saat bertemu itulah, Mbah Dullah meminta kepada Habib Ali bin Yahya agar ketika sudah mukallaf Habib Luthfi muda dipondokkan di Pesantren Balekambang meski sebentar. Dan setelah Habib Luthfi  memasuki usia  baligh, Mbah Dullah pun benar-benar berbai’at thariqah kepada Habib Luthfi.

Cerita guru yang juga murid - murid yang juga guru ini, sudah populer di masyarakat pesantren, sebagaimana hubungan guru-murid antara KH Arwani Amin (Kudus), KH Ma’mun Ahmad (Kudus) dan KH Hasan Askari (Mbah Mangli, Magelang). Teladan luar biasa tapi sudah biasa terjadi di kalangan Nahdliyyin di manapun.

Yik Luthfi adalah panggilan keseharian untuk Habib Luthfi sebagai “putra” kinasih Mbah Dullah. Santri lain dipanggil dengan sebutan yang futuristik. Jika besok santrinya jadi kiai, Mbah Dullah memanggilnya dengan sebutan “kiai”. Jika kelak jadi pengusaha, dipanggil “bos”. Semua santri Mbah Dullah dipanggil secara terhormat dan mbungahke, minimal sebutan disebut dengan “kang”.

Habib Luthfi mengenang, Mbah Dullah adalah sosok kiai yang “open dan telaten” kepada para santrinya. Jika ada waktu senggang, para santri dibuat senang dengan diajak mayoran (makan-makan) hingga menjadi sebuah tradisi yang ditunggu-tunggu para santri Pesantren Balekambang.

Jika ada kabar Mbah Dullah akan mayoran, para santri langsung menyiapkan alat untuk memancing ikan Lele, Bethik, Kuthuk, dan jenis ikan lain yang ada di sungai belakang pesantren.

Mbah Dullah paling suka jika santrinya gembira. Misalnya, saat Habib Luthfi muda ketahuan reflek menari karena kenthongan Subuh ditabuh lebih lama saat Ramadhan, Mbah Dullah justru senang dan tertawa lepas, tidak bermuram. “Baru kali ini saya melihat guruku tertawa lepas,” terang Habib Luthfi.

NU dan Jimat Pengaman Logistik  
Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, Mbah Dullah juga dikenal sebagai penggerak pejuang NU di tahun-tahun awal berdirinya. Saat meletus perang 10 November 1945 (pasca Fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober), Mbah Dullah ditunjuk gurunya, Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) sebagai penyedia dan pengaman logistik para pejuang yang ada di Surabaya.

Agar pengiriman logistik aman sampai tujuan dan aman sentosa, Mbah Dullah dibekali Mbah Hasyim sebuah jimat yang membuat tentara NICA pimpinan Inggris terbutakan matanya. Pengabdian kepada NU sebagai penggerak inilah yang membuat pengaruh Mbah Dullah di Jepara kala itu makin disegani.

Jimat  Mbah Hasyim mengingatkan sebuah tongkat komando dari KH Asnawi Bendan Kudus (pendiri NU), yang pernah diberikan kepada Mbah Dullah dan hingga kini masih tersimpan rapi dan diserahkan kepada Gus Yatun.

Tongkat itu adalah saksi sejarah saat Mbah Asnawi berjuang bersama Mbah Hasyim menghadapi momentum tersulit di masa-masa awal NU berdiri. Jika pendiri NU Mbah Hasyim diwasiati tongkat oleh Syaichona Cholil Bangkalan (disimpan oleh PBNU), maka Mbah Dullah diserahi tongkat komando Mbah Asnawi Kudus, yang konon punya keramat bisa digunakan sebagai titik memulai “membersihkan” jagad angkara murka yang meluas tak terkendali.

Jadi, selain ulama yang alim allamah, Mbah Dullah adalah pejuang, yang dalam buku sejarah lokal daerah pun, belum/tidak tertulis kiprah besarnya. Padahal bukti masih bisa dideteksi jika mau.

Meski begitu, tampilan kesederhanaan beliaulah yang membuat orang segan dan hormat. Kepada kiai lain, baik yang seusia atau lebih senior, beliau selalu memosisikan diri dengan adab dan tawadlu’. Termasuk kepada KH Arwani Amin Kudus.

Walaupun sudah jadi kiai besar dan berpengaruh di Jepara, tanpa perantara, Mbah Dullah datang langsung ke Kiai Arwani ketika memondokkan putranya, Hayatun. “Kang, anakku tak titipke supaya bisa ikut bantu nyapu-nyapu atau ngepel lantai pondok. Aku pasrah,” begitu pinta Mbah Dullah ke Kiai Arwani kala itu. Pilihan kalimatnya sangat tawadlu’.

Karena sudah dipasrahkan ngaji Al-Qur’an, bibarkatillah, Gus Hayatun muda mampu merampungkan hafalan Al-Qur’an 30 juz dalam waktu tujuh bulan saja. Bisa begitu karena selama ngaji di Kudus, ia mengisi 24 jam full waktunya hanya untuk nderes ngaji Al-Qur’an. Tidur sekitar 1-2 jam. Tapi, sebelum “digeret” ngaji Al-Qur’an ke Kudus, Mbah Dullah punya cara sendiri mendidik Gus Hayatun kecil yang dikenal jadzab.

Tiap ngaji bandongan bersama santri di Balekambang, Mbah Dullah selalu memanggil putranya tersebut untuk mimijat. Sambil ngaji, Gus Hayatun diperintah memijat pundak Mbah Dullah yang tiduran/duduk membaca kitab kuning. Jika hendak ijin selesai memijat pundak kiri, Mbah Dullah minta dipijat lagi pundak kanannya. Begitu terus sampai ngaji bandongan selesai, setiap hari. Alhasil, saat dipaksa memijat itulah, Gus  Hayatun kecil otomatis mendengar langsung isi kitab yang dibaca Mbah Dullah.

Meski nakal, untuk urusan memijat ini, Gus  Hayatun kecil tidak berani menolak perintah abahnya. Praktik birrul walidain inilah yang menarik KH Hasan Askari (Mbah Mangli, Magelang –asli Jambu, Mlonggo, Jepara) untuk menjadikan Gus Hayatun kecil sebagai anak angkat. Selama tujuh hari, Gus Hayatun kecil yang belum khitan, tinggal se-ndalem bersama Mbah Mangli, atas persetujuan Mbah Dullah tentunya.

Sepulang dari Mbah Mangli di Magelang, Gus  Hayatun muda dikhitankan oleh Mbah Dullah. Peralihan kepada usia baligh inilah, KH Muhammadun Pondoan, Tayu, Pati, menggantikan peran Mbah Mangli sebagai ayah, menemani Gus  Hayatun selama semalam penuh di Balekambang untuk didoakan.

Karakter “open dan telaten”, suka mayoran, rendah hati kepada yang lebih sepuh, dan taat pada guru itulah, yang agaknya ditiru dan diittiba’i oleh Gus  Hayatun Alhafidz dari abahnya, Mbah Dullah, saat menjadi ketua NU Jepara hingga dinilai mampu menggerakkan NU, menyediakan dan mengamankan logistik para pejuang  NU, sebagaimana Mbah Dullah dulu melakukan hal yang sama saat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Kiprah dan kepempimpinan NU di Jepara yang dinilai berhasil itulah yang membuat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj, melirik Gus  Hayatun hingga memintanya bisa lebih aktif dan berperan lebih besar di NU saat bertemu di Ponpes At-Taqiy (Welahan, Jepara) dalam sebuah acara, setahun lalu.

Apalagi Gus Hayatun juga dikenal dekat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di masa awal reformasi hingga diperintah untuk nderekke sebagai muqollid dan mukhollid (menjadi pengikut lekat dan teman dekat) Gus Dur selama tujuh tahun.

Open dan telaten” agaknya jadi karakter kepemimpinan Gus  Hayatun selama dua tahun lebih memimpin PCNU Jepara. Untuk menggerakkan NU, penguatan organisasi adalah koentji. Bukti itu sudah ada. Puluhan tahun NU ranting Beringin dan Dongos hilang, berhasil dikembalikan dan diaktivasi.

Hal itu tidak akan terjadi jika NU hanya dijadikan kendaraan, bila yang ada di NU justru dibawa pulang sebagai “oleh-oleh”. Untuk menjadi pejuang, Al-Qur’an meminta kita untuk mendahulukan “amwalikum” sebelum “anfusikum”.

“Dari Rumah Dibawa ke NU, Jangan dari NU Diusung ke Rumah”. Artinya, NU tidak boleh dijadikan “mayoran”. Jadikanlah yang ada di rumah sebagai “mayoran untuk menggerakkan NU”.

Demikianlah rumus Gus Hayatun menggerakkan NU ketika mengamini dawuh Kiai Said maju sebagai calon Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah masa khidmah 2018-2023, di Pesantren Miftahul Huda, Ngroto, Gubug, Grobogan, Sabtu, 7 Juli 2018 ini.

Tongkat komando wasiat Mbah Asnawi Kudus yang diserahkan ke Mbah Dullah, agaknya tidak perlu dikeluarkan oleh Gus Hayatun jika yang “Dari Rumah Dibawa ke NU” untuk kepentingan bangsa dan negara. Semoga. [badriologi.com]

Sumber: Dutaislam.com
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar