Guru Tanpa Buku

Oleh M Abdullah Badri

Guru sama eksis dengan laku, dan buku merupa pandu. Keduanya tak bisa dipisahkan. Peserta didik adalah cermin laku yang terpandu itu. Bagaimana kalau jarak guru dan buku kian kian jauh? Tak berarah, munkin begitu laku peserta didiknya. Saya pikir.
Jika kata tanya diajukan, lebih pandai mana, antara guru dan murid? Pandangan lazim menyatakan, guru lebih punya daya linuwih (pengetahuan dan pengalaman). Ditilik secara struktural, guru bisa demikian citranya karena ia punya sistem kuasa yang membuat murid atau siswanya itu tidak bisa mengejar daya linuwih guru dengan cepat.

Siswa kelas 4 SD semisal, lebih disibukkan dengan kurikulum kelas empat, dan tidak memiliki keleluasaan bercakrawala dengan kurikulum kelas 5 atau 6. Tidak dilarang, tapi kesempatan tak terbuka lebar bagi siswa di sana. Jelas, guru lebih berkuasa. Padahal, tak senyatanya guru lebih menguasai.

Dengan satir teman saya yang seorang guru mengatakan, selisih ilmu guru dengan muridnya itu hanya semalam. Barangkali. Guru belajar malam tadi untuk disampaikan di kelasnya, esok pagi. Transformasi ilmu sukses tertempuh secara pragmatis. “yang penting besok siswa paham yang saya ajarkan,” katanya. Besoknya lagi kalau siswa lupa ingat pelajaran yang disampaikan, harus siap dieksekusi dengan hukuman kelas.
Walhasil, siswa ketika masuk kelas hanya diperbolehkan menggunakan rujukan buku panduan kelas. Hanya itu. Kalau melintas, dianggap tidak pantas. Anggapan apriori, mungkin sang guru itu kurang sanggup menerima gagasan yang melebihi ilmunya semalam, merujuk statemen teman saya tadi.

Siswa yang cerdas, lebih suka berdiam di kelas, karena merasa jemu dan jenuh dengan ilmu yang terbatas di buku, khusus pelajaran kelas itu. Muhammad Itqon Alexander (6) dari Plamongan Semarang yang pada usia 5 tahun mendapatkan rekor Muri karena mampu menghafal dan mengetahui nama-nama negara di seluruh dunia, sejarah berdirinya beserta corak benderanya, sering bolos sekolah, kata ayahnya kepada saya, karena merasa kelas di sekolah dikuasai guru.

Bagi Alex, belajar di kelas tidak lebih mengasyikkan dengan belajar belajar bersama ayahnya. Learning by doing. Ya, Alex belajar dengan masuk ke latar masalah. Bukan hanya menghafal, tapi menyelaminya langsung; menggambar, menamai negara serta mewarnai benderanya. Menghafal bukan sebab, tapi akibat. Beda di kelas, menghafal merupakan sebab, akibatnya; lupa atau terkena hukuman.

Itu, bagi saya, karena daya linuwih guru kurang didorong keintiman dialektis dengan buku. Guru adalah guru, buku adalah buku. Keterpisahan keduanya diperpanjang oleh definisi siswa yang ia adalah kertas kosong yang harus diisi guru. Sekolah disebut sekolah kalau ada guru, siswa, sistem pembelajaran dan mamajemen pendidikan. Buku menjadi sekian unsur yang ada di belakang gedung megah sekolah, satpam, kantin serta kegiatan ekstra siswa. Perpustakaan tidak lebih diutamakan progresifitasnya daripada ruang praktikum fisika, biologi, kimia, bahasa dan olahraga.

Sekolah tanpa buku, guru kian berjarak dengan ilmu. Mereka sibuk mengajar tanpa penambahan keilmuan dan pengalaman. Sibuk pula membina kegiatan ekstra siswa (pramuka, PMR, OSIS, komputer serta les wajib sekolah) belum urusan keluarga. Guru lelah di sekolah. Akhirnya, sertifikasi guru menjadi jalan praktis-pragmatis menaikkan tunjangan dan gaji. Daya linuwih guru dihitung secara kuantitatif dari setumpuk sertifikat yang berhasil dikumpulkan, bukan berapa banyak buku yang dibaca dan karya yang dihasilkan.

Guru tanpa buku bukan berarti ia mengajar tanpa panduan. Tanpa buku maksud saya adalah tanpa menempuh jalan meditasi pengalaman pemikiran dan keilmuan yang membuatnya kaya perspektif, tidak lekas puas dengan hanya memberikan definisi-definisi dan kategori-kategori kepada siswanya di kelas.

Karena guru itu laku dan teladan, sepatutnyalah dia tidak hanya menguasai ilmu kelasnya. Sehingga, setiap mengajar dia tidak hanya mengisi, tapi juga diisi. Dengan buku tentunya. Perpustakaan tempatnya. Namun jarang ditemui ada perpustakaan buat guru. Perputakaan menjadi tempat siswa mengerjakan soal dari guru.

Siswa bertambah ilmu mungkin, namun guru hanya mengulang sub-mata ilmu yang diulang-ulang setiap tahun, dengan kepala kosong siswa-siswa yang berbeda, di kelas yang sama, puluhan tahun, hingga pensiun. Kendati dua puluh tahun mengajar, tapi kapasitasnya ilmunya tetap sama. Karena tanpa buku. Pengalaman mengajar, iya, diakui pemerintah. Tapi pengalaman belajar, belum tentu.

Coretan ini katakan saja sebagai refleksi, bukan orasi, apalagi justifikasi, bahwa selain buku, guru adalah denyut peradaban. Tanpa buku, guru tak akan merupa menjadi pandu peradaban dan moral. Tentu, selain kapasitas intelektual, dimensi moral guru harus pula dijadikan ukuran. Agar jalan peradaban tidak pincang, siswa tidak tawuran di jalan-jalan dan masyarakat percaya proses pendidikan. Guru telah menciptakan profesor, kendati profesor guru jarang ditemukan; guru yang intim bercengkerama dan berkarya dengan buku itu. Ah.

(Dimuat Radar Surabaya, 9 Oktober 2010)
Advertisement

Klik untuk komentar