![]() |
| Orkesan Perusak Modal Nomor Wahid |
Oleh M. Abdullah Badri
DIA guru. Asal Batealit. Kepada saya, dia sering mentakzir nguras WC bila ada murid ngajinya konangan berangkat ke orkesan. Baginya, orkesan adalah perusak tatanan moral nomor wahid yang maha sulit diberantas. Saya setuju dia.
Bayangkan, di orkesan, hal yang harusnya kurang lazim dilakukan, lumrah terjadi, misalnya:
- Oleng sebab banyu gendeng (lumrah)
- Gelut di arena (lumrah)
- Ngibing dan mendem di depan mertua atau mantu (lumrah)
- Ora isin nguyuh tanpo cewok (sangat lumrah)
- Ngomyang leda-lede (lumrah)
Ironisnya, ada sekelompok ojing yang rela nyelengi demi bisa menggelar orkes. Maksiat kok sik direncanakno ngene, ya Allah. Bahkan, ada yang menabung supaya pas orkesan bisa nyawer biduan, dan ini dianggapnya sedekah. Ada ibu yang bangga bila anaknya bisa nyawer di orkesan. Ndunyo wis kuwalik. Makanya, saya sepakat, orkes itu arena dimana yang haram jadi lumrah dilakukan tanpa malu di depan banyak orang. Hari raya maksiat terjadi ketika orkes digelar.
Dalam hadits, orang-orang yang terang-terangan tidak malu berbuat maksiat disebut sebagai mujahirin (wong sing ngedeng). Rasulullah Saw bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الـمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الـمُجَاهِرِينَ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Terjemah:
"Seluruh umatku mendapat ampunan, kecuali orang yang melakukan kemaksiatan terang-terangan (mujahirin). Dan termasuk melakukan kemaksiatan terang-terangan adalah seseorang berbuat dosa malam hari, kemudian pagi hari menceritakannya, padahal Allah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, "Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini dan begitu". Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya menutupi perbuatannya itu, tetapi pagi harinya dia menyingkap sendiri tabir Allah bagi dirinya". (HR. Al-Bukhari).
اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ الَّتِي نَهَى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا، فَمَنْ أَلَمَّ بِهَا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَلْيَتُبْ إلَى اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِي لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَى
Terjemah:
"Jauhilah perbuatan asusila yang dilarang Allah ini, siapa yang terlanjur melakukannya, maka tutupilah dengan tabir Allah dan segeralah bertaubat kepada-Nya. Karena siapa yang memperlihatkan perbuatannya, maka akan kami tegakkan hukum Allah kepadanya". (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim).
Sayangnya, hadits-hadits seperti di atas jarang dikutip para kiai, apalagi langsung ditargetkan kepada pelaku. Ora wani. Pasti bertentangan dengan hobi dan kesenangan ojing. Wong seneng kok dilarang, sampeyan bakal dituduh merasa sok suci dan paling surgawi, sebagaimana ditujukan kepada saya.
Tadi malam seolah saya ditunjukkan oleh Allah: "iki loh contoh hukumane Allah kanggo golongane wong sing selama iki mbok kritik". Lokasinya hanya beberapa meter dari rumah. Saya menyaksikan langsung sehabis ngaji dari Bulungan. Sopir saya ngepyoh, dikiranya buntelan plastik, ternyata bukan. Dia harus istirahat sejam menenangkan diri sebelum nyetir lagi. Minum jahe.
Biar selamat tidak sangit, saya kasi doa kepada para ojing -terhormat- supaya baca doa ini jika datang ke orkesan:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّي وَالْهَدْمِ وَالْغَرَقِ وَالْحَرِيقِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِي الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا
Terjemah:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebinasaan (terjatuh), kehancuran (tertimpa sesuatu), tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari dirasuki setan pada saat mati, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan tersengat". (HR. An-Nasa'i).
Baca doa tersebut. Sekali tidak apa. Itu ijazah langsung dari Rasulullah Saw. Tapi, nek maksiat, ojo njarak, ojo merencanakan, ojo ngedeng. Ngimpet wae. InsyaAllah dingapuro Gusti Allah. Aku melu ndungo mestine. [badriologi.com]





