Senin, 24 Mei 2010

Inovasi Tiada Mati

Oleh M Abdullah Badri

Nasi telah menjadi bubur. Kenaikan harga BBM sebesar 28,7 persen sudah tidak bisa ditawar lagi. Apapun jenis penolakan, tak akan mampu merubah kebijakan pemerintah tersebut, karena memang sudah terjadi. Seakan telah menjadi suratan takdir, rakyat kecil harus mampu bertahan akibat keputusan yang tidak populis itu. Menjelang pemilu 2009, rakyat harus menerima kado pahit yang tak akan dilupakan sepanjang sejarah ekonomi Indonesia.

Dengan alasan menyelamatkan anggaran negara, beban harus dilimpahkan kepada rakyat. Terkesan, rakyat dianggap paling mampu menghadapi krisis dibandingkan para konglomerat yang dekat kepada pintu kekuasaan. Dengan menaikkan BBM, konon, SBY telah mengorbankan citra diri demi kepentingan rakyat. Meskipun dalam titik tertentu isu tersebut benar, namun yang pasti, kebijakan tersebut telah menjadikan rakyat sebagai korban utama. Bukan negara.

Komukasi antara pemerintah dan elemen yang menolak kenaikan BBM, tidak terjalin dengan baik. Pemerintah bersikukuh bahwa kebijakan tersebut adalah kebijakan yang tepat dan bukan dalam momentum yang salah. Akibatnya, suara-suara penolakan tidak akan menggoyahkan niat pemerintah.

Mahasiswa, sebagai kelompok pembela nilai-nilai keadilan, tidak bisa berbuat apa-apa. Demonstrasi yang dilakukan hanya tampak sebagai reaksi sementara yang dipastikan tidak akan merubah kebijakan yang sudah dinggap final itu. Teriakan-teriakan mereka terputus di tengah jalan.

Bak macan loyo, taring mahasiswa yang diwujudkan dengan sikap empati kapada rakyat kecil melalui orasi, tidak memberikan greget apapun kepada kebijakan pemerintah. Apalagi memandangnya sebagai bagian dari suara rakyat mayoritas. Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan, pemerintah justru gerah dengan ulah para demonstran yang dianggap anarkhis.

Betapa tidak, mahasiswa yang memperjuangkan nasib rakyat itu harus dihadapkan pada sikap represip aparat keamanan. Polisi telah diberikan lampu hijau oleh pemerintah untuk memasuki wilayah kampus bilamana itu dianggap perlu, sebagaimana peristiwa perusakan gedung yang terjadi beberapa waktu di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Hal itu dilakukan demi menjaga ketertiban nasional ditengah krisis minyak dunia yang melambung tinggi. Begitu kilahnya.

Walhasil, gerakan mahasiswa telah dikepung kekuatan pemerintah. Sehingga, apapun yang dilakukan akan dibaca oleh pemerintah. Mereka beralasan bahwa gerakan mahasiswa, di tengah kondisi tidak menentu menjelang pemilihan presiden 2009, rawan ditunggangi kepentingan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Alasan itulah yang ternyata telah mengebiri gerakan menolak BBM yang lakukan oleh mahasiswa di seantero tanah air. Meskipun dalam kasat mata para mahasiswa itu diberikan kebebasan untuk melakukan demonstrasi, namun sekali-kali itu tidak akan memberikan efek terhadap kebijakan tersebut.

Jika upaya pembelaan kaum tertindas yang dilakukan mahasiswa telah dimatikan ditengah jalan, lalu apa yang dapat dikerjakan lagi? Apakah harus berpangku tangan, sementara rakyat terus meregang nasib, sengsara dan menderita akibat lonjakan harga barang-barang pokok?

Gerakan Alternatif
Sebagai agen perubahan sosial, mahasiswa tidak akan kehilangan mencari solusi. Jika secara struktural perjuangan tak bisa dicapai. Maka, perjuangan melalui jalur kultural menjadi pilihan alternatif. Berharap menurunkan harga bahan bakar adalah hal yang mustahil. Namun, menghentikan upaya untuk mengurangi efek kenaikan BBM tersebut harus dikobarkan.

Karena mahasiswa bergelut dengan dalam lingkungan akademis kampus, maka perjuangan harus dimulai dari sana. Inovasi-inovasi harus dikembangkan disana. Ini bukan tindakan meluapkan kekecewaan ataupun cuci tangan atas kondisi riil masyarakat sekitar, namun lebih dimaknai sebagai gerakan alternatif setelah gerakan melalui jalur kultural tidak bisa tercapai. Bukan berarti pula bahwa tindakan tersebut sebagai gerakan kembali ke kampus seperti pada orde baru dulu, namun tidak lain sebagai langkah awal menuju penciptaan kemajuan dan pelecutan potensi diri mahasiswa untuk kemudian dapat melakukan perubahan di kemudian hari.

Itulah yang kita harapkan di tengah tumpulnya gerakan penolakan kenaikan harga BBM. Mahasiswa yang kreatif menjadi ujung tombak mengatasi krisis energi yang sedang melanda dunia.

Sekarang ini sedang ada upaya besar-besaran dari seluruh negara untuk menanggulangi krisis energi. Mahasiswa berperan aktif disini. Gairah mencari energi lain harus dimulai dari kampus. Kita bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Teknologi Dalft, Amsterdam dengan menciptakan boat bertenaga matahari. Jika ini bisa dikembangkan di Indonesia, hasilnya akan teramat nyata mengingat Indonesia merupakan negeri beriklim tropis yang kaya limpahan sinar matahari. Tindakan membuat kendaraan berbahan bakar alternatif semacam itulah yang diharapkan menjadi kontribusi besar ditengah krisis energi yang melanda negeri. Inilah alternatif lain yang dapat dilakukan para kaum intelektual kampus itu setelah jalur struktural sulit ditembus.

Yakin, jika inovasi terus dikembangkan akan menjadi oase. Presiden sendiri beberapa waktu lalu juga sempat tertarik dengan penemuan energi alternatif Blue Energy yang dibuat dari air oleh kelompok Joko Suprapto cs, kendati belum bisa dibuktikan secara ilmiah dan Jiko dianggap penipu. Ini artinya, kehadiran energi baru sangat dinanti. Lalu, darimana lagi penantian itu dimulai kalau bukan dari ilmuan kampus? Apakah harus dari ilmuan gadungan yang sempat menipu SBY itu?

Mengembangkan inovasi tanpa mengenal rasa henti itulah yang saya maksud dengan gerakan alternatif. Semoga kita akan menemukan ilmuan mahasiswa!

(Dimuat Media Indonesia, 5 Juli 2008)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar