Sabtu, 24 Februari 2018

Cara Berlangganan Email Blog dengan Subcribe Email Feedburner Google

Sabtu, Februari 24, 2018 0
JIKA Anda ingin berlangganan konten esai blog badriologi.com, caranya mudah. Tulis saja email Anda di kolom berlangganan esai di sidebar kanan blog, atau jika dalam tampilan hape, ada di bawah postingan ini. Bentuk kolom isiannya begini:

Cara langganan email badriologi.com | Ketik email Anda di kolom langganan. 
Setelah menulis email di kolom langganan email, akan terbuka jendela lanjutan yang tampilannya seperti ini:

Cara langganan email badriologi.com | Klik saya bukan robot dan klik juga complete subcription request.
Klik saja "Saya Bukan Robot". Lalu klik pula "Complete Subcription Request" di kolom Feedburner seperti tampilan di atas. Setelah itu, akan muncul jendela lagi, tampilannya begini: 

Cara langganan email badriologi.com | Klik saja Close Windows.
Sampai di tahapan ini, yang perlu Anda lakukan hanya klik "Close Windows". Lalu, buka email Anda, baik di Android maupun komputer. Anda akan menerima email berjudul "Feedburner Email Subcrip", seperti di bawah ini, buka saja. 

Cara langganan email badriologi.com | Klik saja inbox masuk di email Anda tersebut. 
Untuk mengaktifkan langganan, Anda harus klik tautan yang ada dalam inbox email Anda, tampilannya begini: 

Cara langganan email badriologi.com | Klik link Feeburner di email Anda. 
Link otomatis dari Feedburner.google.com di atas, harus Anda klik. Kalau dibiarkan, Anda tidak akan menerima pemberitahuan email jika blog badriologi.com memposting esai terbarunya. Setelah diklik, akan muncul jendela lagi, seperti ini: 

Cara langganan email badriologi.com | Selesai.
Akun feed kami akan menerima konfirmasi bahwa email anda telah aktif. Laporan kami akan seperti gambar di bawah ini:

Email sudah aktif langganan badriologi.com
Demikian cara berlangganan konten blog badriologi dengan Feedburner Google. Terimakasih telah berlangganan. [badriologi.com]

Ijazah Cepat Dapat Jodoh dalam Tiga Bulan InsyaAllah

Sabtu, Februari 24, 2018 0
Doa cepat mendapatkan jodoh, ijazah kiai cara cepat menikah.

Kalau yakin seperti karib saya di atas, lalu istiqamah shalat lima waktu untuk wirid, bukan perkara mustahil jodoh cepat datang tanpa lama. Jodoh beda dengan pacar. Pacaran sampai 42 kali misalnya, -kayak adik kelas saya dari Belitung,- jika tak satupun di antaranya adalah jodoh, ya kabur semua.

BEBERAPA hari lalu, ada teman dari Sragen yang meminta doa menarik jodoh dengan cepat. Umurnya lebih tua dua tahun dari saya, belum juga menikah. Saya cari doa itu tidak ketemu. Lupa.

Alhamdulillah, saya kembali mendapatkan coretan ijazah cepat jodoh tersebut pada Jumat malam (23/02/2018), setelah seorang karib sekampus (asli Batang) yang pada tahun 2014 lalu, pernah saya beri catatan tersebut dan disimpan hingga kini.

"Silakan wirid ijazah dari Kiai saya ini selama tiga bulan usai shalat maktubah (fardlu)," kata saya kala itu, diiyakan olehnya.

Tapi saya memberinya syarat, "jika kemudian datang seorang wanita, entah ditawarkan atau datang dengan sebab lain, segera nikahi, jangan pedulikan darimana dia berasal, kecuali yang datang padamu lebih dari tiga orang, pilih yang terbaik," imbuh saya waktu itu.

E e e, mendadak karib saya tersebut ditawari jodoh oleh Kiai pas hampir selesai wirid tiga bulan. Saya langsung dikomplain, "kok cepet men kang, saya belum persiapan apa-apa ini?"

"Salahmu dewe gak persiapan," jawab saya. Hahaha.

Kalau yakin seperti karib saya di atas, lalu istiqamah shalat lima waktu untuk wirid, bukan perkara mustahil jodoh cepat datang tanpa lama. Jodoh beda dengan pacar. Pacaran sampai 42 kali misalnya, -kayak adik kelas saya dari Belitung,- jika tak satupun di antaranya adalah jodoh, ya kabur semua.

Saya sudah wanti-wanti kepada yang pernah saya beri ijazah kiai ini, agar menerima dengan siap atas sesiapa yang datang. Pasalnya, kadang tak sesuai prediksi dan harapan, entah terlalu kaya, terlalu miskin, terlalu jelek, terlalu manja, terlalu tinggi badan, terlalu pintar, dan lainnya.

Bahkan, jika ternyata Anda tidak cinta kepadanya pun, misal, ya terima saja. Jangan engkau penuhi hatimu dengan cinta kepada makhluk Allah. Hatimu akan penuh ambisi menaklukkan. Hatimu juga akan sulit terisi cinta kepada Allah, Rasul-Nya dan kekasih Allah (auliya'). Hal saat ini sulit ditumbuhkan di tengah kultur kebencian yang terus ada.

Saya meyakini, jodoh datang bukan karena cinta. Tapi keikhlasan saling menerima. Banyak yang cinta-cintaan di sebelah sana, nyatanya sirna karena nestapa berkah percaya PHP (pemberi harapan palsu). Wkwk.

Jangan tanya saya, bagaimana sejarah saya bertemu dengan istri. Tanya saja kisahnya langsung ke dia. Ada hal-hal ajaib yang mungkin disebut kebetulan atau keberuntungan pasca doa cepat mendapatkan jodoh diamalkan.

Bagi yang menginginkan ijazah doa atau amalan cepat menikah yang pernah saya kasikan ke karib-karib saya di atas, saya bisa kirim via email. Subcribe saja situs badriologi.com ini. Aktifkan langganan esai dengan hanya menyisihkan waktu dua menit maksimal. (Baca: Cara Berlangganan Email Blog dengan Subcribe Email Feedburner Google). Daftar email subcribe akan kelihatan seperti di bawah ini:

Daftar email yang subcribe badriologi.com tanggal 2 Februari 2018
Jika Anda subcribe email langganan di blog saya, lalu terdeteksi aktif emailnya, pada tanggal 1 Maret 2018, akan saya kirim serentak doa cepat jodoh yang tampil buram itu dengan teks yang lebih jelas. Bahaya kalau tidak serius. Saya terlepas dari akibat jika tidak segera dinikah jodohnya. [badriologi.com]

Kamis, 22 Februari 2018

Jelang Satu Abad Harlah TBS, Saya Teringat Syiir "Mars TBS"

Kamis, Februari 22, 2018 0
Beliau adalah guru nadhom syiir saat saya kelas II MTs TBS. Kitab dijadikan pedoman ngajar adalah "Muhtashor Syaafy". Kitabnya tipis, tapi jika mendapatkan ilmunya, kita bisa membuat nadhom (puisi Arab berbait) dengan 16 bahar.

JELANG Harlah Madrasah TBS yang ke 92 tahun 2018 ini, kemarin saya dikirim video oleh Kang Charis Rohman. Dalam video slide ucapan Harlah TBS Kudus itu ternyata ada backsound syiir yang pernah saya buat di kelas, yang sejak dulu saya klaim sendiri sebagai "Mars TBS", karena memang saat itu belum ada lagu khas yang selalu ditampilkan dalam acara-acara di madrasah.

Saya tidak tahu siapa yang menjadi vokal di video tersebut. Entah dari siswa TBS sendiri atau orang lain. Sudah saya upload di Youtube Badriologi sebagai dokumen, ini:


Beberapa sholawat yang saya karang, menurut cerita teman-teman saya, ada yang dipakai pujian pra jamaah sholat di musholla dan masjid. Adik-adik dan ibu saya sampai sekarang masih ada yang hafal lagu dan teksnya karena dulu Bapak saya almarhum sering mendengarkan karya itu via kaset yang pernah saya rekam sendiri, saat Kang Sih Karyadi jadi vokal pada sebuah acara di Madrasah TBS. Kini, kasetnya sudah aus, mblerek dan hilang kena hujan.

Saya jadi teringat dengan Kiai Nasihin, rahimahullah. Beliau adalah guru nadhom syiir saat saya kelas II MTs TBS Kudus. Kitab yang dijadikan pedoman ngajar adalah "Muhtashor Syaafy". Halamannya tipis, tapi jika mendapatkan ilmunya, kita bisa membuat nadhom (puisi Arab berbait) tebal dengan pilihan 16 irama/bahar (بحر), sesuai kehendak kita. Tentu urusan Nahwu dan Shorof harus selesai dulu. Ini foto copy konsep syiir Arab dari Kiai Nasihin, diringkas dari Kitab "Muhtashor Syaafy" secara lengkap, yang sampai saat ini masih saya simpan rapi. Dulu sering saya bawa saat imtihan. Hahaha.

Ringkasan Ilmu Arudl dari Kiai Nasihin TBS Kudus (1)
Ringkasan Ilmu Arudl dari Kiai Nasihin TBS Kudus (2)
Sejak kenal dengan ilmu syiir Arab yang kemudian saya ketahui sebagai Ilmu Arudl (العلم العروض), saya mencoba mempraktikkannya dengan membuat nadhom berbasis sholawat dan sejarah. Waktu itu, seingat saya, pernah membuat hingga 11 gubahan puji-pujian kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dan cerita-cerita hikmah, dengan pelbagai jenis bahar yang saya gunakan.

Yang saya ingat judul-judulnya adalah:

1. يولد مولانا (Saat Baginda Dilahirkan)
2. صلّوا على النبي (Bersholawatlah kepada Nabi)
3. صلوات الاءِسراء (Sholawat Isra Mi'raj)
4. بمدرسة (Demi Madrasah)

Lain dari empat judul di atas, saya sudah tidak ingat lagi karena coretan saya hilang entah kemana saat tulisan ini dibuat. Dokumentasi teks dari tiga judul syiir di atas sebetulnya sempat disimpan oleh Kang Saifuddin Zuhri (sekarang Ketua Mutakhorijin Ponpes Beletengahan Kudus). Tapi ketika saya minta copian-nya pada Kamis (22/02/2018) pagi, belum juga dikirim atas alasan lupa naruh.

Syiir-syiir itu seingat saya lahir pada tahun 2002 kala terobsesi meniru semangat kelompok rebana di Kudus dan Langitan, yang waktu itu menemukan momentum sebagai rujukan seni sholawat di dunia musik hadrah pesantren. Saya berharap Madrasah TBS memiliki rekaman sholawat yang mandiri, dibuat sendiri oleh santrinya, dan jadi ikon seni hadrah yang saat itu booming. Habib Syeikh belum sepopuler sekarang.

Karena masyayikh TBS tidak mengijinkan rekaman di studio, syiir beserta lagu akhirnya hanya tampil saat acara-acara yang digelar oleh madrasah, semisal peringatan Isra' Mi'raj, Maulid Nabi, dan beberepa event undangan rebana (pernah ke radio juga). Itupun karena saya kebetulan masuk pengurus PP/OSIS TBS yang diberi ruang kreatif membentuk grup rebana, yang kemudian saya namakan bersama personil lain seperti Kang Arsyad, Kang Bambang, dll, dengan sebutan Rebana Assalafy.

Saya jadi backing vokal dari pemilik suara kondang, namanya Kang Sih Karyadi. Hingga cerita ini saya tulis, hanya lagu bertema بمدرسة - lah yang dokumentasi suara vokalnya bisa dilacak di Youtube karena teksnya sempat dimuat pada cover belakang Majalah Ath-Thullab Edisi VIII tahun 2004, saat pemimpin redaksinya kebetulan teman sekelas: Mustamir Anwar. Majalahnya masih saya simpan. Ini penampakan Majalah Ath-Thullab edisi saya menulis artikel berjudul-judul.

Cover belakang Majalah Ath-Thullab Edisi tahun 2003-2004
Cover depan Majalah Ath-Thullab Edisi tahun 2003-2004
Saya sempat kecewa karena teks syiir yang saya tulis di cover tersebut ternyata diubah tanpa konfirmasi oleh Redaksi Ath-Thullab atas usulan Mustafid (ketua OSIS saat itu) dan Luthfi Rohman (redaktur). Katanya, syiir saya diedit oleh Kiai Nasihin, disebut beliau sebagai bahar Romal, dengan catatan mahdzuf dimana-mana. Padahal, saya sengaja tidak memakai kaidah Ilmu Arudl karena menyesuaikan temuan irama lagu sebelum teksnya saya buat kemudian.

Tambahan, pada tahun 1950-an, lagu-lagu syiir Arab khas memuji Madrasah TBS ternyata sudah ada. Berikut adalah syair lagu memuji Madrasah TBS hasil karangan Mbah KH. Asnawy Bendan, yang saya dapatkan dari KH Khoirozyad Tajussyarof saat memposting cerita nostalgis ini di Facebook.

نحن معشر التلامذة

نشكر آباءنا

لإقامة هذى المدرسة النافعة

لنا ولي وطاننا ×2

آمين آمين آمين.

يارب العالمين

إلهي فكنهالنا دوما × 2.

او كما قال والله أعلم

Menurut Kiai Zyad, masih banyak lagi lagu sholawat yang dilantunkan untuk menyambut mulai jam masuk mengajar di pagi hari yang diajarkan para guru TBS pada masa itu, "aku masih ingat dalam benak saya yang mungkin guru-guru Madrasah TBS saat ini tidak pernah diajari demikian," ujar Kiai Zyad di komentar Facebook saya, Jumat (23/02/2018) pagi.

Syiir Nama-Nama Sekelas
Heran juga, jaman itu kok saya kober-kobernya juga mendokumentasikan nama-nama anak sekelas dengan syiir. Dari hobi membuat syiir pula, saya kini mengingat kembali jumlah siswa di kelas saya waktu kelas I Madrasah Aliyah (MA), ada 48 orang. Saya siratkan dalam lafal مُحٌّ yang dalam hitungan Abajadun Hawazun Hathoyakun, berarti 40: م tambah 8: ح, yang setahu saya artinya adalah "kuning telur".

Ini coretan syiir ber-bahar Rojaz berisi nama-nama teman sekelas yang sudah dimodif, yang jika diterjemahkan 10 baitnya, akan jadi begini makna tekstual naratif nya:

Syiir nama-nama teman sekelas 1 MA TBS Kudus 
1. Simak, inilah nama-nama siswa yang berjumlah 48 orang dalam kelas 1 Aliyah.
2. Muhammad Ja'far [1], dua Rofiq (ada Ainur Rofiq dan Rofiq [2 dan 3]) yang jadi teman Abdullah Badri [4].
3. Abdul Basir [5], Mustafid [6], Mustajab [7], Abdurrohim [8], Mustamir [9], Andika [10].
4. Khoirul Anam [11], Wibowo [12], Shofi [13], Maula Shofa [14], Huda [15] dan Jamal [16].
5. Romdhoni [17], Asnawi [18], Zainuri [19], Zamroni [20], Luthfi [21], Ansori [22], dan Solihul [23].
6. Ibnu Sururi (Tajudin Arafat) [24] dan Nawawi [25] itu kanca. Lalu Ahmad Ainul Yaqin [26], cetho wonge.
7. Taufiq [27], Husnan [28], Farhan [29], Mudhofar [30]. Siroj [31], Maman [32].
8. Ma'ruf [33], Mubin [34], Zainal [35], Juliyanto (alm.) [36], dan Iswanto [37].
9. Sang ketua adalah Rif'an [38], lalu ada Ghoffar [39], Zaim [40], Budi [41] yang semuanya adalah kanca.
10. Faiz [42], Salafuddin [43], Ulil Albab [44], Fathillah [45], selesai. Alhamdulillah.

Saya tidak tahu detailnya, kenapa tiga nama lain tidak disebutkan di bait yang saya karang itu. Entah lupa jumlahnya, keliru hitung pakai Abajadun atau teledor konyol tanpa sadar. Saya tidak ingat lagi berapa persisnya jumlah siswa saat di kelas I Aliyah TBS (IPA), saat itu.

Angka 48 saya ganti مُحٌّ, hanya tabarruk konsep Abajadun setelah terinspirasi KH Turaichan Adjhuri, yang menurut cerita KH Sya'roni Ahmadi pernah mendokumentasikan tahun wafat Mbah KH Asnawi Kudus dengan kalimat عش غطّ, artinya "kulo aturi gesang jenengan, mugi jenengan lindungi/ mohon hidup kembali Mbah Asnawi, semoga Tuan lindungi", yang jika dikalkulasikan jumlahnya jadi 1379 H. Rumus hitungnya pakai deteksi huruf, begini:

Rumus Abajadun Hawazun Hathoyakun Lamanun Sho'afashun Qorosyun Tatsakhodzun Dlodzoghun 
Mars UKM Nafilah
Mengetahui saya yang sejak di madrasah punya hobi menulis syiir, Mizbah KZ yang saat di kampus menjadi Ketua Nafilah (UKM Bahasa Arab) di IAIN Walisongo Semarang, meminta saya membuat mars khusus Nafilah dalam bahasa Arab. Katanya, sudah empat tahun UKM yang dimpimpinnya berniat membuat mars khsusu, namun tidak kunjung menemukan lagu dan teks syiir yang layak dijadikan mars. Seingat saya terjadi tahun 2008.

Tanpa menyesuaikan kaidah formal Ilmu Arudl, saya akhirnya berhasil membuat mars Bahasa Arab untuk Nafilah IAIN Walisongo dalam waktu tidak lebih dari se-jam, hanya dengan mahar dua bungkus rokok. Hahaha.

Ini teks yang kebetulan saya temukan. Hanya di reff saja, tidak utuh sampai 4 bait yang pernah saya tulis. Di Nafilah masih ada atau tidak, tak pernah tahu. Ini saya menemukan bentuk coretan teks awal "Mars Nafilah" ketika saya mojok di aula asrama itu, sendirian:

Teks awal Mars Nafilah
Kata Kang Mizbah yang sekarang jadi dosen di UIN Walisongo, syiir ngawur yang saya karang itu masih didengungkan, "hari ini baiat pengurus dan didengungkan," katanya Kamis (22/02/2018) siang, di WA saya.

Alhamdulillah, semua adalah barokah saya ngaji Ilmu Arudl di Madrasah TBS Kudus. Ilmu langka yang jarang orang mempelajarinya, bahkan dianggap ilmu sesat oleh wong edan sebelah yang tidak paham varian ilmu seni Arab selain kaligrafi Arab dan seni murottal. Kata ibu, kakek saya dari jalur ibu dulunya memang sangat mencintai Ilmu Arudl hingga terkenal mahir nembang Arab pada zamannya. Ya wajar jika saya kena getahnya walau setetes. Hahaha.

Selamat Harlah Madrasah TBS Kudus yang ke 92. Pada Harlah ke-100 nanti, akan banyak yang keluar memberikan testimoni tentang maziyyah madrasah TBS. InsyaAllah. [badriologi.com]

Rabu, 21 Februari 2018

Matan, Apa Jenis Kelaminnya dan Apa yang Ditawarkan Untuk Bangsa?

Rabu, Februari 21, 2018 0
Dalam proses pemulihan pasca operasi, Dr. Hamdani Mu'in masih semangat membincang Matan bersama penulis yang akhirnya jadi esai ini, di Pondok Kiai Ibrohim (PKI), Kendal, Jateng, Ahad, 11 Februari 2018.
Oleh M Abdullah Badri

JIKA Anda belum tahu apa itu Matan sebagai gerakan, maka saya hanya akan menjawab bahwa Matan adalah akronim dari "Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah An-Nahdliyah". Tapi jika Anda masih berlanjut pada pertanyaan; apa yang membedakan Matan dengan gerakan kampus lainnya? Maka bacalah esai singkat ini hingga tuntas.

Dari istilah yang dipakai saja, Matan (bukan dalam arti muatan teks hadits Nabi), tidak mengandung unsur heroisme khas gerakan mahasiswa. Kita tahu, gerakan kampus yang sudah melahirkan jutaan alumni di Indonesia tidak lepas dari penyematan nama organisasinya dengan istilah himpunan, gerakan, pergerakan, persatuan, kesatuan, ikatan, dan istilah "darah juang" lainnya.

Matan hanya mendeskripsikan dirinya sebagai "mahasiswa". Hingga saat esai ini saya tulis (20/02/2018), tidak ada kata pendahuluan maupun akhiran setelah kata "mahasiswa" dalam akronimnya.

Lalu, apakah Matan hanya sebagai komunitas, laiknya kumpulan satu hobi, minat, bakat, yang dimana-mana jarang menggunakan kalimat heroik? Komunitas musik, burung atau fans artis misalnya, sering dinamai secara deskriptif saja tanpa kata heroik oleh inisiatornya.

Bagi saya, Matan tidak bisa disebut komunitas karena punya SOP-Juknis yang mengatur mekanisme keorganisasiannya sendiri. Artinya, Matan bergerak secara bersama-sama dalam kerangka hirarkis dan juga koordinatif. Tidak seperti di komunitas, yang saya lihat beberapa, mengikuti arah angin pemangkunya karena memang sekadar berkomunitas atau ber-silaturrahim. Tapi jika disebut gerakan, adakah jenjang kaderisasi di Matan, sebagaimana organisasi mahasiswa lain?

Menjawab hal itu, saya harus berpikir tentang alumni. Bagi saya, alumni adalah bukti kaderisasi terus eksis dan terjadi. Di Matan, ada kaderisasi yang disebut Suluk yang berjenjang hingga tiga kali, mirip PKD dan PKL di Ansor. Namun untuk mendapatkan alumni, saya pikir sulit. Pasalnya, dalam SOP-Juknis, usia kader Matan dimulai antara 13-55 tahun.

Anak mulai masuk sekolah SMP sampai pensiun dari pegawai, sah disebut anggota Matan. Kapan disebut alumni, di Matan belum ada aturan jelas. Selama dia menjadi muhibbin (pecinta dan atau pengamal) thariqah, ia masih bisa menyandang sebagai kader dan sekaligus juga bisa menduduki pengurus Matan.

Atas hal itulah, jangan heran jika Anda menjumpai ketua Matan yang bergelar doktor, profesor, mursyid thariqah, hingga putra kiai (gus) yang berusia muda, karena mereka adalah muhibbin thariqah. Bahkan ada pejabat, mantan aktivis pergerakan, preman bertato, hingga ibu-ibu bergabung ke Srikandi Matan tanpa canggung.

Karena itulah pengertian "mahasiswa" dalam Matan bukan semata yang sedang atau pernah menempuh studi di perguruan tinggi, tapi juga pesantren, sekolah dan paling penting, muhibbin thariqah. Anda tidak perlu berbai'at ke mursyid thariqah tertentu untuk ber-Matan. Karena sifat ba'iat di Matan adalah bai'at tabarruk (berbai'at secara informal), kecuali jika sudah mengikuti tahapan Suluk Matan III.

Matan itu sangat plural sejak dari multikulturalnya anggota, yang melintas profesi, gelar akademis, status sosial, dan seterusnya. Mirip pengajian majelis dzikir berbasis cinta Nabi, yang semua golongan bisa mengikuti asal sama-sama satu visi: mahabbah kepada Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam.

Jadi, sangat sulit mengukur kapan kader Matan disebut sebagai alumni. Satu-satunya ukuran di Matan, menurut Ketua Umum Matan, Dr. Hamdani Mu'in, adalah mahabbah kepada guru thariqah, tidak peduli gurunya itu mursyid dari aliran thariqah mana. Asal masih mu'tabar (otoritatif), Matan harus sami'na wa atho'na (mendengar dan taat). 

Makna "mahasiswa" pun, Matan hanya mengambil semangat kritisnya. Salah jika menyebut sami'na wa atho'na sebagai lawan dari kritisisme. Matan punya cara sendiri dalam mengkritik, yakni dengan adab, dan itu adalah akhlak yang sangat diutamakan dalam laku tasawuf-thariqah.

Dr. Hamdani Mu'in menyebutnya dengan "kritik bil adab" (kritis-beradab). Kalimat inilah yang saya usulkan jadi kata kunci (keyword) Matan di ruang gerakan mahasiswa di kampus-kampus, semacam jargon atau semboyan Matan.

Dengan jargon di atas, Matan "dilarang" melakukan demonstrasi jalanan kecuali sudah melakukan tahapan taqrib bil qulub (pendekatan persuasif), taqrib bis siyasy (pendekatan strategis), dan taqrib bil fa'al (pendekatan dengan tindakan nyata). Itupun harus seijin Rois Aam Jamiyyah Ahlith Thariqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) NU.

Selama ini, gerakan mahasiswa cenderung menggunakan cara-cara kritik anarkhis tanpa kontrol dari figur utama yang paling dihormati. Kritik mereka misalnya, acap menggunakan cara-cara non kompromis. Jiwa muda dalam usai mahasiswa yang tidak akan pernah salah (karena dianggap masih belajar di kampus), kadang melepaskan adab dan tatakrama yang sangat dijunjung tinggi dalam tasawuf.

Salaman cium tangan kepada dosen saja amat sulit kita jumpai di kampus. Bahkan ada mahasiswa yang tanpa adab menggoda dosen dengan kecantikan karena ingin nilai, membid'ahkan amalan liyan dengan gampang, menyebut kafir orang lain tanpa tabayun, dan seterusnya. Ini kultur na'udzubillah, yang diakui atau tidak, sudah biasa terjadi di kampus-kampus.

Pemandangan di atas barangkali terjadi karena kurikulum atau kultur kita kurang mendukung tumbuhnya mahabbah (cinta) kepada sesama. Itulah yang ditawarkan Matan kepada bangsa ini. Matan tidak menjanjikan kadernya akan aktif di dunia politik praktis, apalagi jenjang karir birokat. Matan hanya mengisi kekosongan karakter mahasiswa yang nir-adab dalam kegiatan kritisnya. Hal itulah yang disebut Dr. Hamdani sebagai high politics (politik tingkat tinggi).

Jika melenceng dari high politics tersebut, Jatman akan menegur. Walaupun Matan disebut sebagai lajnah mustaqillah (badan yang mandiri) dari Jatman, tapi komunikasi Ketum Matan di Jatman bisa langsung ke Rois Aam saat ini, yakni Habib Luthfi bin Yahya (Pekalongan).

Jadi, Matan bukan organisasi pengkaderan atau komunitas hobi wiridan thariqah saja. Lebih dari itu, Matan adalah harakah sufiyah (gerakan sufisme) yang melintas batas ideologi politik, usia, status sosial, dengan karakter membangun mahabbah kepada tanah air, mursyid dan sesama manusia.

Karena masih lajnah mustqillah-nya Jatman, saya menyebut Matan sebagai: gerakan sufisme yang terkoodinasi mandiri dengan Jatman NU. Demikian akhirnya saya paham, penamaan Matan yang dalam kepanjangannya tidak menggunakan kalimat heroisme adalah bentuk adab kepada Jatman dan merupakan bentuk "merendahkan hati" sejak dari istilah.

Ada yang kurang berkenankah dengan esai ini? Silakan komentar di bawah. Jika ada yang ingin menjadi bagian dari Matan, bisa japri saya, tapi saya juga tidak harus menindaklanjuti untuk pendirian wilayah Matan yang baru yah, walau sudah ada di 15 provinsi, 56 kabupaten dan 32 perguruan tinggi di tahun 2018 ini. [badriologi.com]

Selasa, 20 Februari 2018

Kritik Matematika ala KH Ma'mun Ahmad Kudus (Mate-Mati-Kaku)

Selasa, Februari 20, 2018 0
Dari kiri: KH Turaichan Adjhuri, KH Arwani Amin, dan KH Ma'mun Ahmad

Orang yang pintar pengalian (x) tapi tidak pintar pembagian (\), kata Kang Sholla Taufiq, -saat ngobrol santai di Kafe Intermezzo (Ciputat, Tangsel), Kamis (15/02/2018),- dia tidak akan lama-lama dalam penambahan (+) karir, jaringan dan unsur terpenting dalam hidupnya.

Oleh M Abdullah Badri

SIMBAH KH Ma'mun Ahmad (Kudus), adalah kiai ahli tauhid yang unik dalam memaknai hal-hal baru (muhdatsat). Beliau adalah guru para masyayikh di Madrasah Tbs Kudus, selain KH Turaichan Adjhuri yang dikenal ahli fiqih dan falak.

Saat saya nyantri di Pondok Pesantren Tasywiquth Thullab Baletengahan Kudus, Mbah Ma'mun selalu mengingatkan agar santrinya tidak kebentus awang-awang, kesandung roto.

Selain itu, pesan Mbah Yai Ma'mun yang saya ingat adalah soal kritik Matematika, yang dianggap beliau "ora dadi pitakon kubur" (tidak jadi pertanyaan kubur).

Orang lain mungkin menganggap Mbah Ma'mun anti Ilmu Matematika. Tapi bagi saya tidak. Saat jadi Direktur Madrasah TBS pun, materi Matematika tetap ada dan terus ada hingga kini.

Mbah Ma'mun itu ahli strategi Matematik. Makanya para santri diminta berhati-hati kepada orang yang ahli Matematika. Kalau tidak berhati-hati, kita yang akan rugi.

Dalam Matematika, ada penambahan (+), pengurangan (-), pengalian (x), dan pembagian (\). Menurut senior saya Mutakhorijin TBS (alumnus TBS), Kang Sholla Taufiq, hidup di alam yang dihitung semua amal dunia ini untuk bekal akhirat nanti, kita harus pandai berhitung.

Walau saya tidak sepakat dalam konsep live is marketing always (hidup adalah tawar-menawar bahkan kepada Allah sekalipun), tapi saya sepakat pada poin pintar berhitung untuk harga diri (marwah), harga tawar (positioning) dan kewaspadaan sebagai strategi, sebagaimana Mbah Kiai Ma'mun pesankan dalam kritiknya (baca selesai esai).

Orang yang pintar pengalian (x) tapi tidak pintar pembagian (\), kata Kang Sholla Taufiq, -saat ngobrol santai di Kafe Intermezzo (Ciputat, Tangsel), Kamis (15/02/2018),- dia tidak akan lama-lama dalam penambahan (+) karir, jaringan dan unsur terpenting dalam hidupnya.

Saat ngobrol santai bersama alumni TBS di Jakarta, 15 Februari 2018.
Apalagi jika dia pintar pengalian (x), terlalu pintar dalam pengurangan (-) tapi tanpa memperhatikan unsur pembagian (\) kepada teman lain yang berjasa atau dihormati. Itu alamat dia akan berakhir di titik (.) atau koma (,) untuk tahapan selanjutnya.

Dalam obrolan santai bersama teman-teman alumni TBS Kudus di Format Jakarta itu, saya kok menyimpulkan begini:

  1. Terlalu pintar pengalian (x) tanpa pembagian (/): Cenderug Rakus
  2. Terlalu fokus pembagian (\) tanpa memperhatikan penambahan (+): Cenderung Hidup Stagnan. 
  3. Terlalu pintar pengalian (x) dan cerdas pengurangan (-) tanpa pembagian (\) yang pas: Cenderung Curang dan Khianat. 
  4. Terlalu pintar penambahan (+) tapi tidak pintar pembagian (\): Cenderung Apatis, Medit Methitil dan Ora Urus. 
  5. Tidak pintar pengalian (x) tapi terlalu pintar pembagian (-): Cenderung Mudah "ditipu" nomor urut 1 atau 3 di atas.


Dari daftar di atas, kayaknya saya masuk nomor 5. Karena sejak kecil saya goblok soal Matematika, maka saya kerap "dimatematikain" (korban Matematika) dari karakter nomor 1 dan 3.

Terutama yang nomor 3 itu, dia mudah memakan korban walau statusnya teman. Kayaknya saya korban berkali-kali soal ini. Hahaha.

Saat "dimatamatikain" orang lain atau teman itulah, saya ingat kritik Mbah Kiai Ma'mun Ahmad terhadap paradigma hitung Matematika, yang meniru wazan tashrif ma'nawi dalam Ilmu Shorof, begini kalimat beliau:

Matematika - Matematimu - Matematikaku.

Saya artikan ngawur begini saja: "Matematika itu terserah padamu (kau gunakan). Bisa mati kaku jika kau jadi korban matematika (orang lain)".

Pertinyiinnyi, Anda masuk karakter yang mana? Hehe. [badriologi.com]

Diskusi Publik Tentang Radikalisme di Istana Presiden

Selasa, Februari 20, 2018 0
Dokumen presentasi diskusi publik di Kantor Staf Presiden (KSP) RI, Rabu (14 Februari 2018) siang.
Beberapa menit setelah sambutan singkat Kepala Staf (Kastaf) Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP, saya geser ke depan untuk memulai "akting" sebagai moderator, setelah dipanggil MC. Di samping kiri saya, Pak Moeldoko masih belum beranjak dari kursi duduk khusus Kastaf. Sebelumnya saya sudah salam ta'dzim ke beliau, hormat ala badriologi.com. Hehe.

Oleh M Abdullah Badri

DISKUSI di Kantor Staf Presiden (KSP) itu nyaman sejak dari fasilitasnya. Ruangan disetting melingkar. Kursi yang melingkar, tengahnya tidak kosong, tapi tersedia puluhan monitor dengan satu layar besar di ujung. Jadi, peserta diskusi tidak perlu melotot melihat layar presentasi yang berjarak.

Presiden era Kabinet Pembangunan acap rapat di ruangan yang ada di gedung BG (Bina Graha) tersebut, dimana untuk mencapainya saya harus berjalan sekitar 10 menit dari pintu masuk Kantor Sekretaris Negara dengan melewati dua kali screen keamanan plus satu kali berfoto (mirip pas buat E KTP). Semua yang masuk harus ber ID "Tamu Istana".

Saya, kata Mas Wisnuhardana, menduduki kursi yang biasa dipakai Presiden RI untuk rapat, hari itu, Rabu (14/02/2018) saat menjadi penengah (moderator) Diskusi Publik bertajuk "Tantangan Menanggulangi Radikalisme dan Ektrimisme" bersama Mas Hasan Chabibie, Wan Rasyid Rustanto, Bu Iriani dan Mas Abi Hasantoso.

Ketika memulai acara, saya sempat bingung karena ratusan peserta sudah datang, Jenderal Moeldoko sudah siap masuk ruangan, tapi Master of Ceremony (MC) acaranya, belum nampak ada. Saya moderator tentunya harus mengikuti irama MC. Akhirnya, kursi moderator yang sudah disiapkan tim KSP lengkap dengan nama tertera "dipinjam" dulu oleh Mas Alois Wisnuhardana untuk memulai acara sebagai MC. Saya mundur ke belakang.

Beberapa menit setelah sambutan singkat Kepala Staf (Kastaf) Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP, saya geser ke depan untuk memulai "akting" sebagai moderator, setelah dipanggil MC. Di samping kiri saya, Pak Moeldoko masih belum beranjak dari kursi duduk khusus Kastaf. Sebelumnya saya sudah salam ta'dzim ke beliau, hormat ala badriologi.com. Hehe.

Selfie di depan Kantor Staf Presiden
Saya ngoceh beberapa menit tentang pengalaman saya di kampus yang pernah ditolak salaman karena saya dianggap kafir hanya karena berbeda pilihan afiliasi ormas dan ideologi gerakan Islam. Ceritanya, saya tulis di sini: Haram Jabat Tangan Karena Saya Disebut Kafir Olehnya.

Saya hanya menyambung sambutan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, yang bercerita tentang masa kecilnya di musholla, yang katanya sering dibangunkan paksa oleh kiai di kampung saat tiduran jelang subuh tiba.

Kalau Pak Moeldoko sering dipaksa bangun, saya pernah dimarahin almarhum Simbah Kiai saya (KH Nur Muttaqin, Damaran, Kudus), diseblak pakai serban putih sembari dzikir "Allah...Allah" saat memaksa bangun, sampai saya harus loncat jendela karena dua kali dibangunkan untuk jamaah subuh masih saja balik kemulan sarung lagi. Hahaha. Ngapunten, yai!

Mungkin karena disiplin mau dibangunin, Pak Moeldoko jadi jenderal. Saya? Alah emboh.

"Alhamdulillah, saya lumayan bahagia, hanya jadi moderator, bisa duduk di samping menteri," kelakar saya, guyon.

"Duduk di samping saya saja bahagia, bagaimana kalau saya peluk," kata Pak Moeldoko. Saya hanya senyum. Kuatir beneran dipeluk. Hahaha.

Ya Allah, betulan ternyata. Sebelum pamit setelah pembukaan diskusi karena ada kompres, saya betulan dipeluk hangat. Saya salah tingkah saat beliau mengucap begini:

"Terimakasih Mas Abdullah Badri mau datang ke sini meluangkan waktu dari Jepara". Karena bingung, ya saya jawab saja dengan "SIAP!".

Harusnya saya kan yang berterimakasih diberi kesempatan bertemu orang-orang luar biasa di forum yang dihadiri 150 an orang tersebut mulai dari pejabat, tokoh agama, tokoh politik, akademisi, artis, sampai saya punya "kuasa" meminta Kang Maman ILC (Indonesian Lawak Club) untuk testimoni akhir tanpa dibayar, karena saya moderator sak kerepe dewe. Haha

(Foto gundul di di tengah postingan ini adalah Kang Maman).

Sayangnya, bukti foto saat saya "dipeluk rahmat" oleh Jenderal (Purn.) Moeldoko belum ada masuk ke WA saya. Andai saja ada, akan saya sertakan di tulisan ini agar tidak disebut hoax. Kata Wan Rasyid, no picture: hoax. Hahaha. [badriologi.com]

Saya hanya menyimpan foto saat mojok di dapur istana presiden. Menemani Mas Hasan ngudud (merokok guyub). Ini fotonya:

Saat-saat santai jelang diskusi publik di Kantor Staf Presiden