Selasa, 03 Juli 2018

Sejarah Roti yang Ditelanjangi Anak

Selasa, Juli 03, 2018 0
Roti seres yang dianggap roti donat. (Foto: dokumentasi pribadi)
SENIN malam, 2 Juli 2018, adalah sejarah. Dua anak laki-laki saya merengek meminta ibunya dibelikan roti donat bulat-bulat. Sudah dua hari merengek.

Meluncur ke toko dekat Pasar Ngabul, malam itu roti donat tidak ada. Ketemulah roti seres untuk kue ultah. Dibawa ke rumah, namanya diubah anak saya jadi "roti donat", sesuai kepinginan yang kebelet. Bentuknya roti ultah, tapi hakikatnya, menurut mereka, roti donat.

Roti akhirnya dibongkar dua anak saya, Hadziq (4,5) dan Faqih (2,5). Sementara mereka sibuk makan, bapaknya ke rumah Mbah yang sedang mantu, menemui tamu hingga larut.

Tengah malam, saat bapaknya kelaparan, roti seres yang diubah imajinasinya jadi roti donat tadi, kembali dicari untuk menemani menulis di depan komputer.

Ya Allah, kok sudah telanjang begini rotinya. Kasihan sekali nasibnya. Seresnya didilati, rotinya disisakan. Semuanya, sak kerdus. Ibunya bilang, roti itu telanjang akibat "dilecehkan" Hadziq dan Faqih tanpa merasa bersalah. Hahaha. [badriologi]

Sumber: Abdalla Badri

Dari Rumah Dibawa ke NU, Jangan Sebaliknya!

Selasa, Juli 03, 2018 0
Logo NU
Oleh M Abdullah Badri

SELAMA 35 tahun, ranting NU Desa Beringin hilang. Selama 20 tahun pula, Desa Dongos tidak ada kepengurusan ranting NU-nya. Namun, dalam medio 2016-2017 hingga kini, kegiatan ke-NU-an di dua desa yang ada di Jepara itu makin ramai. Dalam hari-hari tertentu, kegiatan ke-NU-an secara maraton bahkan digelar tanpa jeda.

Begitu pula nama para petinggi/kepala desa di seluruh Kabupaten Jepara, masuk dalam struktural NU di desa masing masing, demi menjaga tetap berlangsungnya amaliyah aswaja dan tidak terprovokasi radikalisme anti NKRI. Pengurus Mejelis Wakil Cabang (MWC), -struktur NU tingkat kecamatan-, juga sudah sejajar dengan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopincam), baik dari segi komunikasi maupun kerjasamanya.

Geliat NU di Jepara yang diakui oleh banyak pihak makin hidup di masa kepemimpinan Rais Syuriah KH Ubaidillah Umar dan Ketua Tanfidziyah PCNU KH Hayatun Abdullah, membuat radikalisme dan wahabisme terhalang masuk ke Jepara. NU juga makin diperhitungkan dalam peta politik dan pengambilan kebijakan pemerintah daerah hingga desa.

Kedua pemimpin tertinggi di NU Jepara itu tiada lain adalah menantu dan putra KH Abdullah Hadziq bin Hasbullah Balekambang, Nalumsari, Jepara. Sosok ulama yang disebut-sebut Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan sebagai waliyullah alim-allamah tapi tetap selalu berpenampilan sederhana karena punya rutinitas pergi ke pasar secara mandiri, bertopi leken dan bercelana, dan naik dokar demi memenuhi kebutuhan rumah tangga dan santri-santrinya.

Mbah Dullah -panggilan akrab KH Abdullah Hadziq-, kata Habib Luthfi, pernah ngaji selama 12 tahun di Makkah kepada Syaikh Mahfud at-Tarmasi, Syeikh Dimyathi dan juga Syeikh Nahrawi al-Makkiy, mursyid thariqah Syadziliyah, dan ulama masyhur tanah Haramain lainnya.

Oleh Habib Luthfi, selain Mbah Malik (Purwokerto), Mbah Dullah Balekambang adalah sosok guru yang dianggap sebagai bapak, mengingat di masa kecilnya, Habib Luthfi pernah “dimomong ngaji” Mbah Dullah selama dua tahun di Pesantren Balekambang dari tahun 1961, saat usia 13 tahun. Meski begitu, Habib Luthfi adalah mursyid thariqah Mbah Dullah. Kok bisa?

Ceritanya, ketika hendak bai’at thariqah kepada Syeikh Nahrawi al-Makky dan Syeikh Mahfudz at-Tarmasiy, Mbah Dullah tidak langsung mendapatkan ijin. Oleh Syeikh Nahrawi, Mbah Dullah diberitahu bahwa mursyid beliau saat itu belum lahir dan masih dalam kandungan ibunda.

“Mursyidmu nanti adalah cucu dari Habib Hasyim bin Umar bin Thaha bin Yahya Pekalongan. Carilah,” demikian kata Syeikh Nahrawi.

Karena diperintah guru, Mbah Dullah Balekambang akhirnya mencari calon mursyidnya tersebut, dan bersilaturrahim dengan Habib Hasyim. Setelah mengutarakan tujuan dan tujuan Mbah Dullah kepada Habib Hasyim, maka dipanggil lah putra-putranya untuk ditanya; siapa yang istrinya mengandung, ternyata Habib Ali bin Yahya, yang di kemudian hari, -setelah lahir seorang putra dari istrinya-, diberi nama Muhammad Luthfi.

Saat bertemu itulah, Mbah Dullah meminta kepada Habib Ali bin Yahya agar ketika sudah mukallaf Habib Luthfi muda dipondokkan di Pesantren Balekambang meski sebentar. Dan setelah Habib Luthfi  memasuki usia  baligh, Mbah Dullah pun benar-benar berbai’at thariqah kepada Habib Luthfi.

Cerita guru yang juga murid - murid yang juga guru ini, sudah populer di masyarakat pesantren, sebagaimana hubungan guru-murid antara KH Arwani Amin (Kudus), KH Ma’mun Ahmad (Kudus) dan KH Hasan Askari (Mbah Mangli, Magelang). Teladan luar biasa tapi sudah biasa terjadi di kalangan Nahdliyyin di manapun.

Yik Luthfi adalah panggilan keseharian untuk Habib Luthfi sebagai “putra” kinasih Mbah Dullah. Santri lain dipanggil dengan sebutan yang futuristik. Jika besok santrinya jadi kiai, Mbah Dullah memanggilnya dengan sebutan “kiai”. Jika kelak jadi pengusaha, dipanggil “bos”. Semua santri Mbah Dullah dipanggil secara terhormat dan mbungahke, minimal sebutan disebut dengan “kang”.

Habib Luthfi mengenang, Mbah Dullah adalah sosok kiai yang “open dan telaten” kepada para santrinya. Jika ada waktu senggang, para santri dibuat senang dengan diajak mayoran (makan-makan) hingga menjadi sebuah tradisi yang ditunggu-tunggu para santri Pesantren Balekambang.

Jika ada kabar Mbah Dullah akan mayoran, para santri langsung menyiapkan alat untuk memancing ikan Lele, Bethik, Kuthuk, dan jenis ikan lain yang ada di sungai belakang pesantren.

Mbah Dullah paling suka jika santrinya gembira. Misalnya, saat Habib Luthfi muda ketahuan reflek menari karena kenthongan Subuh ditabuh lebih lama saat Ramadhan, Mbah Dullah justru senang dan tertawa lepas, tidak bermuram. “Baru kali ini saya melihat guruku tertawa lepas,” terang Habib Luthfi.

NU dan Jimat Pengaman Logistik  
Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, Mbah Dullah juga dikenal sebagai penggerak pejuang NU di tahun-tahun awal berdirinya. Saat meletus perang 10 November 1945 (pasca Fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober), Mbah Dullah ditunjuk gurunya, Rais Akbar NU KH Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) sebagai penyedia dan pengaman logistik para pejuang yang ada di Surabaya.

Agar pengiriman logistik aman sampai tujuan dan aman sentosa, Mbah Dullah dibekali Mbah Hasyim sebuah jimat yang membuat tentara NICA pimpinan Inggris terbutakan matanya. Pengabdian kepada NU sebagai penggerak inilah yang membuat pengaruh Mbah Dullah di Jepara kala itu makin disegani.

Jimat  Mbah Hasyim mengingatkan sebuah tongkat komando dari KH Asnawi Bendan Kudus (pendiri NU), yang pernah diberikan kepada Mbah Dullah dan hingga kini masih tersimpan rapi dan diserahkan kepada Gus Yatun.

Tongkat itu adalah saksi sejarah saat Mbah Asnawi berjuang bersama Mbah Hasyim menghadapi momentum tersulit di masa-masa awal NU berdiri. Jika pendiri NU Mbah Hasyim diwasiati tongkat oleh Syaichona Cholil Bangkalan (disimpan oleh PBNU), maka Mbah Dullah diserahi tongkat komando Mbah Asnawi Kudus, yang konon punya keramat bisa digunakan sebagai titik memulai “membersihkan” jagad angkara murka yang meluas tak terkendali.

Jadi, selain ulama yang alim allamah, Mbah Dullah adalah pejuang, yang dalam buku sejarah lokal daerah pun, belum/tidak tertulis kiprah besarnya. Padahal bukti masih bisa dideteksi jika mau.

Meski begitu, tampilan kesederhanaan beliaulah yang membuat orang segan dan hormat. Kepada kiai lain, baik yang seusia atau lebih senior, beliau selalu memosisikan diri dengan adab dan tawadlu’. Termasuk kepada KH Arwani Amin Kudus.

Walaupun sudah jadi kiai besar dan berpengaruh di Jepara, tanpa perantara, Mbah Dullah datang langsung ke Kiai Arwani ketika memondokkan putranya, Hayatun. “Kang, anakku tak titipke supaya bisa ikut bantu nyapu-nyapu atau ngepel lantai pondok. Aku pasrah,” begitu pinta Mbah Dullah ke Kiai Arwani kala itu. Pilihan kalimatnya sangat tawadlu’.

Karena sudah dipasrahkan ngaji Al-Qur’an, bibarkatillah, Gus Hayatun muda mampu merampungkan hafalan Al-Qur’an 30 juz dalam waktu tujuh bulan saja. Bisa begitu karena selama ngaji di Kudus, ia mengisi 24 jam full waktunya hanya untuk nderes ngaji Al-Qur’an. Tidur sekitar 1-2 jam. Tapi, sebelum “digeret” ngaji Al-Qur’an ke Kudus, Mbah Dullah punya cara sendiri mendidik Gus Hayatun kecil yang dikenal jadzab.

Tiap ngaji bandongan bersama santri di Balekambang, Mbah Dullah selalu memanggil putranya tersebut untuk mimijat. Sambil ngaji, Gus Hayatun diperintah memijat pundak Mbah Dullah yang tiduran/duduk membaca kitab kuning. Jika hendak ijin selesai memijat pundak kiri, Mbah Dullah minta dipijat lagi pundak kanannya. Begitu terus sampai ngaji bandongan selesai, setiap hari. Alhasil, saat dipaksa memijat itulah, Gus  Hayatun kecil otomatis mendengar langsung isi kitab yang dibaca Mbah Dullah.

Meski nakal, untuk urusan memijat ini, Gus  Hayatun kecil tidak berani menolak perintah abahnya. Praktik birrul walidain inilah yang menarik KH Hasan Askari (Mbah Mangli, Magelang –asli Jambu, Mlonggo, Jepara) untuk menjadikan Gus Hayatun kecil sebagai anak angkat. Selama tujuh hari, Gus Hayatun kecil yang belum khitan, tinggal se-ndalem bersama Mbah Mangli, atas persetujuan Mbah Dullah tentunya.

Sepulang dari Mbah Mangli di Magelang, Gus  Hayatun muda dikhitankan oleh Mbah Dullah. Peralihan kepada usia baligh inilah, KH Muhammadun Pondoan, Tayu, Pati, menggantikan peran Mbah Mangli sebagai ayah, menemani Gus  Hayatun selama semalam penuh di Balekambang untuk didoakan.

Karakter “open dan telaten”, suka mayoran, rendah hati kepada yang lebih sepuh, dan taat pada guru itulah, yang agaknya ditiru dan diittiba’i oleh Gus  Hayatun Alhafidz dari abahnya, Mbah Dullah, saat menjadi ketua NU Jepara hingga dinilai mampu menggerakkan NU, menyediakan dan mengamankan logistik para pejuang  NU, sebagaimana Mbah Dullah dulu melakukan hal yang sama saat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

Kiprah dan kepempimpinan NU di Jepara yang dinilai berhasil itulah yang membuat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siraj, melirik Gus  Hayatun hingga memintanya bisa lebih aktif dan berperan lebih besar di NU saat bertemu di Ponpes At-Taqiy (Welahan, Jepara) dalam sebuah acara, setahun lalu.

Apalagi Gus Hayatun juga dikenal dekat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di masa awal reformasi hingga diperintah untuk nderekke sebagai muqollid dan mukhollid (menjadi pengikut lekat dan teman dekat) Gus Dur selama tujuh tahun.

Open dan telaten” agaknya jadi karakter kepemimpinan Gus  Hayatun selama dua tahun lebih memimpin PCNU Jepara. Untuk menggerakkan NU, penguatan organisasi adalah koentji. Bukti itu sudah ada. Puluhan tahun NU ranting Beringin dan Dongos hilang, berhasil dikembalikan dan diaktivasi.

Hal itu tidak akan terjadi jika NU hanya dijadikan kendaraan, bila yang ada di NU justru dibawa pulang sebagai “oleh-oleh”. Untuk menjadi pejuang, Al-Qur’an meminta kita untuk mendahulukan “amwalikum” sebelum “anfusikum”.

“Dari Rumah Dibawa ke NU, Jangan dari NU Diusung ke Rumah”. Artinya, NU tidak boleh dijadikan “mayoran”. Jadikanlah yang ada di rumah sebagai “mayoran untuk menggerakkan NU”.

Demikianlah rumus Gus Hayatun menggerakkan NU ketika mengamini dawuh Kiai Said maju sebagai calon Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah masa khidmah 2018-2023, di Pesantren Miftahul Huda, Ngroto, Gubug, Grobogan, Sabtu, 7 Juli 2018 ini.

Tongkat komando wasiat Mbah Asnawi Kudus yang diserahkan ke Mbah Dullah, agaknya tidak perlu dikeluarkan oleh Gus Hayatun jika yang “Dari Rumah Dibawa ke NU” untuk kepentingan bangsa dan negara. Semoga. [badriologi.com]

Sumber: Dutaislam.com
Baca lengkap

Minggu, 01 Juli 2018

Jika Islam Nusantara Masih Menjajah Pikiran Anda

Minggu, Juli 01, 2018 0

Oleh M Abdullah Badri
LTN NU Jepara

SEJAK muncul jadi tema Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015, Islam Nusantara sudah menuai pro dan kontra. Isunya muncul dan tenggelam mengikuti perkembangan NU yang semakin dibaca sebagai penyangga perdamaian dunia.

Jika ada kiai NU menyebut jenggot goblok, NU ketahuan kerjasama dengan lembaga AIDS, Banser NU jogetan/jaga gereja, atau habaib dari NU ziarah ke makam yang dirias seperti pengantin, langsunglah Islam Nusantara disalahkan sebagai penyebab. Padahal, sebelum 2015 saja sudah ada.

Islam Nusantara paling sukses dibahas dari majelis ngopi hingga majelis ngaji para kiai, santri, akademisi, dll. Dan isunya selalu diputar-putar dengan tuduhan sebagai jelmaan Jaringan Islam Liberal (JIL), singkretis, penuh kesyirikan atau dituduh agama baru yang tidak mengakui Islam nya Kanjeng Nabi. Duh gusti, kok cupet tenan!

Menyamakan Islam Nusantara dengan JIL sampai menyebutnya dengan Jaringan Islam Nusantara, distigma dengan sebutan JIN, ya jelas kontradiktif. JIL itu dulu ingin memisahkan Islam dari tradisi. Setidaknya menurut kalangan yang kontra. Sementara, Islam Nusantara justru memperkuat tradisi dan bahkan menjadikan tradisionalisme sebagai peneguhan identitas kultural. Kalau disamakan dengan Postradisionalisme Islam ya lebih cocok.

Begitu pula menyebut Islam Nusantara sebagai agama, seperti ditulis seorang jurnalis dari Sidoarjo yang mengaku NU tapi tidak paham kapan dijadikan tema Muktamar NU, juga beropini ngawur bin semrawut. Tepuk jidat saja jika Islam Nusantara disebutnya agama “made in Indonesia”.

Khusus soal Islam Nusantara yang dituduh sebagai agama mandiri, yang dituduh terpisah dari Islam, agaknya muncul ke permukaan lagi dalam rangka menyerang KH Yahya Cholil Staquf pasca kedatangannya ke Israel.

Dalam sebuah video diskusi lesehan di Pati, Gus Yahya menyatakan "Islam kita ini Islam yang sejati”. Tapi oleh jurnalis yang ngaku NU tadi, kalimatnya diganti begini: "Islam Nusantara adalah agama yang sejati, sedangkan Islam Arab itu adalah agama penjajah". Innalillah, sangat mengaburkan.

Dari pemelintiran itu, dia mengambil kesimpulan sembrono bahwa siapa saja yang mengakui Islam Nusantara, batal keislamannya. Logika berpikir dia seolah menyatakan bahwa Islam Nusantara itu meminta pengakuan (syahadat) seperti Lia Eden dan nabi palsu Mushaddiq yang meminta diakui sebagai pengganti Nabi Muhammad, dan yang mengakuinya dijamin surga.

Islam Nusantara jauh dari pemahaman rigit demikian. Apalagi menggunakan kata “diproklamirkan”, laiknya Ahmadiyah. Jelas menyesatkan cara berpikirnya.

Dia tidak paham kalau Ketum PBNU, KH Said Aqil Siraj, pendorong Islam Nusantara jadi tema Muktamar NU di Jombang adalah sosok yang justru men-insyafkan Mushaddiq dan akhirnya kalah debat hingga harus mau tobat mengakui kembali Kenabian Nabi Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dia tidak paham bahwa Islam Nusantara itu hanyalah diskursus tentang tipologi Islam di Nusantara, yang jelas merujuknya ya Al-Qur’an dan Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Islam Nusantara tidak bisa disebut agama, apalagi agama baru di luar Islam. Pasalnya, untuk membuat agama, dibutuhkan seperangkat kitab suci baru, nabi baru, ajaran baru, syariat baru dan misionaris berjibun untuk mendapatkan pengakuan.

Yang baru dalam Islam Nusantara itu hanya istilahnya, kemasannya. Seperti NU, yang jadi wadah bersama penerus Walisongo menegakkan ajaran ahlussunnah wal jamaah. NU nya baru, ajarannya sama. Apakah NU berdiri lalu disebut agama? Ya innalillahi kalau berpikirnya begitu. 

Yang Istimewa dari Cara Berislam Kita
Gus Yahya menyebut Islam kita ini, Islam Nusantara sebagai agama Islam yang sejati semata-mata karena sejarah datangnya Islam di Nusantara faktanya bukan sebagai penakluk, dan faktanya lagi sangat berbeda dengan keberhasilan metode penyebaran Islam di Arab dan anak-anak peradabannya, yang datang sebagai penakluk. Ini fakta.

Dan fakta sejarah di atas, dalam diskursus Islam Nusantara, disebut istimewa. Karena itulah Kiai Said menyebut Islam Nusantara sebagai maziyyah (keistimewaan), bukan agama. Apakah JIL dulu meyakini Islam sebagai maziyyah? Ya tidak ada kamusnya. Lha wong semua agama menurut JIL benar kok. Setidaknya menurut penafsiran Pak Dhe Nono (Hartono Ahmad Jaiz).

Jadi, menyamakan Islam Nusantara dengan JIL lalu menyebut Islam Nusantara sebagai agama adalah bias konsep sejak dari hati dan pikiran. Yang lebih bias adalah mereka yang menganggap Islam Nusantara akan menyuburkan kemusyrikan. Dan tuduhan ini datangnya, rata-rata, dari golongan Islam aliran kathok congklang (alkacong). Ini istilah saja. Jangan baper menyebut istilah ini asli Nusantara. Tipologi saja kok.

Kepada Alkacong ini, jika antum mau bahas apapun, kalau datangnya dari NU, akan dia kenai dalil golongan kuburiyyun. Islam Nusantara yang dominan membahas moderatisme Islam dan kosmopolitanisme Islam saja masih kena dalil anti kubur kok. Dianggapnya, istilah Islam Nusantara akan menjatuhkan diri pada kemusyrikan karena membolehkan jaga gereja, doa bersama dengan umat lain, kepemimpinan non muslim, dan lainnya.

Lihatlah, ujung-ujungnya hanya bermuara pada tafsir mereka sendiri. Padahal, dalam Islam Nusantara, diskursus para santri tidak membahas itu. Bolo-bolo ngopi saya, ketika asyik bincang Islam Nusantara, ghirah mereka malah dominan ngaji kitab kuning karya ulama Nusantara (turost), sejarah pegon, pemikiran bijak ulama di daerah, hingga bagaimana menyelesaikan problem prostitusi di daerah setempat dengan cara yang elegan, damai dan menang tanpa ngashorake.

Hal-hal dianggap musyrik sudah selesai dibahas oleh ke-Aswaja-an, yang banyak membicarakan hujjah amaliyah Nahdliyyin Nusantara. Islam Nusantara, dalam forum kami, sudah membicarakan peradaban, kebudayaan, dan bagaimana bicara perdamaian di tingkat dunia.

Jadi, Islam Nusantara itu tidak dominan membicarakan Islam yang paling yes dalam bergumul dan damai dalam berislam. Lebih dari itu, Islam Nusantara membentuk kesadaran bersama bahwa kita ini manusia. Bukan muslim saja. Mengapa? Karena basis ngajinya adalah ukhuwah wathaniyah, ukhuwah bayariyah, ukhuwah insaniyyah. Bahasa Gus Yahya menyebutnya sebagai “Islam yang datang dan meresap begitu saja di tengah-tengah masyarakatnya, hidup bersama dengan yang lain". Islam yang datang tanpa penaklukan militer.

Perbedaan Islam Nusantara dengan Islam yang menyebar dan hidup di Timur Tengah ya di sini. Makanya, Islam Nusantara dikampanyekan Kiai Said sebagai cara berislam, bukan sebagai entitas agama baru. Agar Islam dibaca dan diresapi lebih dalam, lebih dalam lagi, sebagai agama rahmah. Inilah yang menurut Muhammadiyah disebut dengan sebagai Islam Berkemajuan, yang kemudian oleh PKS dipakai dalam sistem sekolah: Islam Terpadu (IT). Setidaknya menurut opini saya.

Jika Islam Nusantara masih menjajah pikiran Anda, hingga mengikuti arus “ikut mengutuknya”, mungkin para Walisongo tidak ada dalam kamus Anda sebagai penyumbang terbesar atas tersebarnya Islam di Nusantara ini. Tobatlah. [badriologi.com]

Sumber: Abdalla Badri

Perpaduan PKS, HTI, KAMMI: Tawassul Islam Nusantara yang Kaffah

Minggu, Juli 01, 2018 0

Oleh M Abdullah Badri
LTN NU Jepara

INGAT PKS, saya jadi ingat seorang akhi tahun-tahun awal masuk ngaji di kampus. Dia pintar Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan suka berorganisasi.

Ceritanya dimulai dari seorang dosen yang ndadak mengalihkan perbincangan saat saya menyoal klaimnya kalau tawassul bukan syariat Nabi, bid’ah dan karenanya syirik. Alasannya klasik, “doa itu harus langsung meluncur ke Allah, jangan lewat perantara”. Oke, di sini saya tahu tafsir ayatnya. (Bacalah Ghafir: 60).

“Kenapa syirik?” Tanya saya, kemudian dibalas dengan logika klasik dosen tafsir itu begini: “meminta kepada selain Allah itu musyrik?”.

“Kalau meminta kepada makhluk Allah?”

“Boleh jika masih hidup,” timpalnya. Sudah terprediksi.

“Berarti meminta kepada yang sudah wafat, haram?”

“Musyrik, bukan saja haram”.

 “Okelah. Tapi saya ingin tanya Pak, la muatstsira illa Allah, bagaimana Anda memahami?”

“Artinya memang benar, tidak ada yang bisa memberikan pengaruh apapun, kecuali Allah”.

“Jika meyakini bahwa semua perbuatan makhluk Allah tidak ada yang terjadi kecuali atas “kehendak dan pengaruhnya” (atsar-Nya), maka, yang melarang tawassul berarti syirik donk”.

“Loh, kok bisa?”

“Ya bisa karena Anda sama saja meyakini ada yang memiliki kekuasaan yang sama dengan Allah untuk membuat atsar, yakni manusia yang masih hidup dan diminta tolong tadi. Bukankah itu menyekutukan Allah? Tawassul menurut saya boleh bahkan sunah adabiyah. Jika kita meyakini hanya Allah yang bisa membuat atsar, tak ada bedanya kan meminta tolong kepada mahluk, baik yang mati maupun yang hidup”.

Diskusi masalah tauhid di kelas akhirnya buyar karena hanya dijawab “tidak bisa begitu tafsirnya” dan “intinya syirik”. Duh.

***

Pasca pertemuan itu, saya terlibat obrolan dengan akhi di luar kelas. Lain waktu. Bahasan itu masih berlanjut, niat melibatkan diri dalam mencari hikmah yang tercecer.
“Menurut kamu gimana, akh?” Tanya saya.

“Ya memang betul kata Pak Dosen kemarin. Tawassul masuk bid’ah bahkan syirik karena meminta-minta kepada selain Allah kan memang haram”.

Logika yang saya baca karena ditulis di majalah ormas itu, ia ulang-ulang lagi, disampaikan detail. Tawassul haram karena (ini poin tambahan saya):

  1. Menyembah kepada selain Allah. Logika menyembah disamakan dengan meminta dan berdoa pula. Rancu kuadrat. 
  2. Apakah yang kamu tawassuli yakin lebih selamat darimu? Suudzon dipelihara. Ini keseleo berhujjah.
  3. Tentang waliyullah, diyakininya ada, tapi tidak punya konsep kewalian kecuali secara bahasa bahwa wali ya “mereka yang dikasihi oleh Allah”. Akhirnya hampir terjerembab pada penafian Walisongo karena tidak punya konsep mendeteksi “ini wali Allah”, “ini hamba Allah yang pencilakan”. 
  4. Mengajak kepada rasa diri menjadi jumawa sebagai hamba, bahwa Allah pasti mengabulkan segala doa. Jadi tawassul itu bagian dari kaum lemah iman karena tidak yakin doa dikabulkan oleh-Nya. 
  5. Dengan logika nomor 4 di atas, kita diajak agar tidak punya keyakinan kecuali keyakinan kepada diri sendiri. Kita pasti selamat dari bughdlul Allah (murka Allah) kok.


Akhi setuju bahwa tawassul kepada yang masih hidup dibolehkan, sebagaimana dikatakan Pak Dosen di kelas. Tapi ketika saya ulang “la muatstsira illa Allah”, ia malah memutar pendapat, yang awalnya boleh, jadi tidak boleh. Dia terlihat bingung.

“Tapi menurutku kok begini yah, karena tawassul tidak boleh, jadi baik kepada manusia yang masih hidup maupun yang sudah mati dikubur, ya tetap tidak boleh,” katanya, seingat saya.

“Waduh, kok saklek begini?” Batin saya.

Dalam hal lain, akhi ini dikenal terbuka. Tapi soal tawassul ini, karena mungkin dianggap bagian daripada mempertahankan iman, ia bersikukuh “mengharamkan tawassul” secara mutlak.

Saya biarkan, tak pernah lanjut diskusi soal syiriknya tawassul dengannya karena sudah jadi dogma “pokoke njoget”, “pokoke syirik”, meski tanpa logika dan dalil. Walaupun kalah, harus merasa menang. Fakta tidak begitu penting, apalagi logika. Dalil aqli tidak lebih menguntungkan daripada imajinasi.

Saya ingat akhi ini ketika dalam Pilkada kemarin, ada yang kalah dan memotivasi dirinya dengan membuat survei sendiri, didukung sendiri, dikonsumsi untuk kalangan sendiri sambil menunggu pengumuman. Biar tidak patah semangat mungkin.

Soal tawassul saja dibuat muter, apalagi Pilkada. Eh, iya, akhi tadi tawassul tata diri dan sosialnya di kampus bersama gerakan KAMMI. Di luar kampus, tawassulnya nyaman PKS dan HTI. Katanya, saat sekolah tawassulnya juga di IMM dan Silat Tapak. Demikianlah perpaduan dan putaran tawassul antar Islam Kaffah se Nusantara. Islam Unggulan InsyAllah. [badriologi.com]

Kamis, 28 Juni 2018

Akibat Elite PKS Menggunjing NU

Kamis, Juni 28, 2018 0
Akibat Elite PKS Menggun
"SAYA itu pusing kalau dijapri orang, saya harus pilih mana mas, Gus Yasin atau Mbak Ida? Kalau pilih Ida, kok ada PKS-nya?” Demikian pengakuan salah satu Ketua PKB di daerah yang jadi lumbung PPP, di Jateng, kemarin (Rabu, 27 Juni 2018).

Dia bersyukur, perolehan angka pasangan Sudirman Said – Ida Fauziyah tidak kalah buncit hingga 20 persen dari pasangan Ganjar-Yasin, sebagaimana survei-survei yang berkembang, seturut diberitakan media massa.

Dia menyatakan, andai saja tidak ada kasus PKS menghina Gus Yahya, “Mbak Ida akan menang”. Menurut dia, PKS jadi faktor utama PKB pimpinannya bergerak sendirian di lapangan. “PKS ora mlaku blas mas,” ujarnya kepada saya saat bertemu di rumah Ketua NU Cabang setempat.

Hanya dengan menggunjing NU, PKS kalah mengusung pasangan calon gubernurnya di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Iya, hanya menggunjing. Belum melakukan serangan. Salman Alfarisi (PKS Medan) paling fatal.

Tidak setuju Gus Yahya ke Israel, ia menyebut Gus Yahya “cecunguk”. Kan kurangajar. Belum ditambah keberanian Hidayat Nur Wahid, yang dulu terkenal kalem, isa-isanya ikut mencatut NU lalu menyebut PBNU mendukung Ida.  Padahal hoax.

Sebelumnya, dia ngrasani Gus Yahya dan mencatut pula atas nama Islam bahwa umat Islam (berarti saya termasuk di dalamnya), kecewa atas kehadiran Gus Yahya ke Israel. Ini belum pencatutan PKS kalau Tebuireng mendukung PKS sebagai partai dakwah. Padahal faktanya, dobol mukiyo.

Tifatul Sembiring, sang mantan Menkominfo “pelindung situs-situs provokatif” sejak menjabat 2004, juga ndlodog kepada Gus Yahya. “Oh, baru tahu saya, mas Yahya itu seorang Kiai. Kalau boleh tahu, mengelola pesantren di mana ya..,” demikian ndlodognya Tifatul.

Ironisnya, semua itu mereka ekspresikan di media sosial yang dibaca, diretweet serta dishare para Netizen di Twitter dan Facebook. Hanya Salman yang meminta maaf atas statusnya kepada Gus Yahya. Sementara dua elite PKS lain, Tifatul dan Hidayat, malah terus bermain mencatut dawuh-dawuh tokoh NU, muji-muji NU, mencatutnya jelang Pilkada serentak. Demi apa kalau bukan menggaet massa NU.

Ya Jabbar ya Qohhar, akhirnya, Netizen NU bergerak bersama via media, blog, medsos, baik dalam bentuk teks, video atau meme, membela Gus Yahya. Serangan balik dilancarkan.

Orang NU itu mudah dikumpulakan, meski tidak mudah untuk mau diajak baris bersama. Tapi kali ini tidak. Tanpa komando, isu tenggelamkan PKS, muncul dimana-mana dengan iringan fakta-fakta dan opini nahdliyyin muda di media.

Ini mengingatkan bersatunya warga NU, kiai dan santri ketika Full Day School (FDS) akan diterapkan total di sekolah-sekolah oleh Mendikbud Muhadjir Efendi. Barisan santri makin rapat melawan hingga Presiden Jokowi bersikap mendukung pembatalan FDS. Andai saja tetap jalan, gerakan penolakan FDS seluruh negeri akan terus terjadi, dan jelas akan dimasuki kepentingan politik praktis yang mendukung NU.

Soal gunjingan elite PKS ini, respon bolo-bolo NU mirip dengan saat FDS ala Muhadjir itu. Namun lebih massif dan sarkastik karena berdekatan dengan momentum Pilkada. Segenap isu bernuansa ideologis (dan bahkan politis) pun tersebar, antara lain:

  1. Pendiri PKS Hilmi Aminuddin ternyata anak Danu Muhammad Hasan yang pernah menjadi pimpinan militer Pantura Darul Islam/Negara Islam Indonesia, salah satu sel pemberontak NKRI yang hingga kini masih beranak-pinak secara ideologis dan masuk ke “partai-partai Islam kanan”. Bagi pemuda milenial, ini informasi baru. 
  2. Pengakuan Hilmi Aminuddin yang menerima dana dari Ikhwanul Muslimin (IM) hingga 90 persen di tahun-tahun awal berdirinya partai, juga dibacakan secara massif di forum-forum diskusi ngopi dan online. 
  3. Pernah menolak asas tunggal Pancasila di tengah Pancasila ingin “dihabisi” oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 
  4. Sistem kaderisasi PKS ternyata juga sama dengan kaderisasi yang pernah dilakukan dalam Partai Komunis Indonesia (PKI). Bedanya, PKS punya misi yang mirip dengan Hizbut Tahrir, yakni daulah islamiyah yang mengancam keutuhan NKRI, seperti ditulis mantan aktivis KAMMI-PKS dari Universitas Indonesia.  
  5. Hubungan mesra PKS dan Komunis Cina juga diungkap kembali oleh media-media yang dikelola Netizen NU di internet. Sebut misalnya, dutaislam.com, baldatuna, suaraislam, islami.com, islampers.com, dll. 
  6. Beberapa elite partai, laiknya Fahri Hamzah Al-Cocoti, Anis Matta, dll, juga tercyduk pernah mencibir para penentang ISIS di Indonesia. Anis Matta bahkan pernah kagum kepada teroris kakap kalas global hingga membuat puisi untuknya dan dibacakan kepada ribuan orang. 
  7. Peristiwa ancaman pembunuhan para kader PKS kepada Yusuf Efendi, salah patu pendiri PKS, juga viral lagi hingga membentuk opini karakter PKS yang tidak punya adab kepada orangtua, tidak punya etika dan bebal. 
  8. Fatwa Kiai Fawaid Sukorejo yang tidak ridha santrinya ikut PKS juga tersebar lebih massif dari tahun-tahun lalu ketika isu anti PKS muncul. 

Ini belum soal isu politik praktis mulai korupsi, pornografi, poligami, dangdut koplo kader PKS, survei abal-abal paslon PKS jelang Pilkada, munafik dalam bermanuver atas nama Islam, hingga karakter-karakter sumir kader PKS dari ranting sampai pusat yang tidak mampu mengontrol ucapan-ucapan anti amaliyah aswaja dan anti NU di media sosial.

Diketahui sebagai meniru dan merupakan tangan panjang IM, PKS pun dianggap sebagai representasi partai yang konon karakter islamnya melebihi kaffahnya orang Islam di Indonesia. Ketidakjelasan sebagai partai atau ormas inilah yang menjadikan PKS mudah diserang lewat jalur idelogis dengan isu: 1). Anti Pancasila, 2). Pendukung Gerakan Radikal Islam, dan juga, 3). Anti NKRI.

Sementara, nahdliyyin jaman now adalah komunitas paling melek dan konsisten ngaji soal literasi tiga isu tersebut, baik di dunia maya maupun di lapangan. Inilah yang sepertinya tidak disadari elite PKS ketika jarinya meluncur tanpa kontrol menggunjing Kiai NU, Gus Yahya, lewat akun medsosnya.

Andai saja yang diserang bukan sosok kiai, tapi amaliyahnya saja, jagad Nahdliyyin tidak penuh dengan gerakan #2019TenggelamkanPKS, #2019BubarkanPKS, #2019GuremkanPKS, #2019TanpaPKS, #2019JanganPilihPKS dan lainnya.

Buktinya mudah. Saat Banser NU Banyumas (ditumpangi FPI) menggeruduk kantor PDIP karena isu money politic dalam tahlilan, warga NU tidak berbaris melawan PDIP dengan tagar bernada teror seperti kepada PKS. Demikian pula saat terjadi gesekan antara PSHT dan Pagar Nusa di Ngajuk soal pembakaran bendera NU, warga NU tetap damai dan konflik selesai dengan dialog dan saling rangkulan.

NU tidak menyerang balik PDIP maupun PSHT, karena kasusnya adalah salahpaham, miskomunikasi tanpa sengaja, dan yang terkena dampak bukan kehormatan kiai dan NU secara personal.

Bagaimana dengan PKS? Mereka ini bebal. Page Facebook Partai Keadilan Sejahtera sempat memosting permintaan maaf  Salman Alfarisi, tapi dihapus kembali. PKS seperti bermain api. Hidayat Nur Wahid, Tifatul Sembiring juga tak ada niat meminta maaf. Ini yang jadi karakter umum kader dan elite PKS: munafiq dan merasa benar sendiri, setidaknya menurut Nahdliyyin muda.

Sadisnya, oleh buzzer pendukung PKS di Instagram dan Twitter, gambar Gus Yahya malah diedit lalu dipasang dengan foto perempuan tanpa pakaian sebagai balasan atas serangan balik ke PKS. Kan kurangajar.

Di sisi lain, mereka tidak mengcounter isu PKS = DI/TII, PKI, HTI dan anti NKRI, malah menyerang secara membabi buta Islam Nusantara, proyek ideologis NU untuk perdamaian dunia sejak Muktamar 33 di Jombang (2015).

Fakta-fakta yang digelontorkan untuk menggembosi PKS itulah yang membuat partai kaffah se Nusantara itu terjungkal di pulau Jawa. Secara politik PKS lebih besar tuai kemenangan dalam perebutan Cagub-Cawagub dibanding PDIP, yang hanya menang di dua propinsi saja. Tapi gerakan sadar anti PKS di kalangan warga NU makin menjadi-jadi dibanding anti PDIP.

“Andai saja Ganjar tidak bersanding Gus Yasin, lalu PKS tidak blunder menggunjing NU, PDIP di Jawa Tengah sudah bablas, mas,” ujar Ketua PKB yang gemes dengan PKS itu.

“Itu baru menggunjing saja mas, belum memfitnah kiai-kiai NU. Bisa benar-benar bubar kayak Masyumi tahun depan,” timpal saya, sambil ngopi di petang pada hari coblosan itu. [badriologi.com]

Sumber: Abdalla Badri

Jumat, 08 Juni 2018

[In Memoriam KH Choirozyad Tajussyarof] Separuh Ramadhan Pergi, Guruku Kembali Pada-Nya

Jumat, Juni 08, 2018 0
Saat salat janazah sebelum pemakaman (alm) KH Choirozyad Tajussyarof, 8 Juni 2018 
Oleh M Abdullah Badri

Harusnya, Jumat Wage ini (8 Juni 2018) adalah harapan hari yang saya tunggu sejak Kamis, 1 Ramadhan 1439 H. Pasalnya, saya akan khataman ngaji Kitab Nasho’ihul Ibad di hari ke-23 puasa itu bersama warga desa kampung saya yang sudah 5 kali Ramadhan saya baca khatam untuk kedua kalinya.

Namun, kabar itu menyentak saat siang hari jelang masuk masjid Jumatan siang tadi, kang Eko tetangga saya menyebut KH Choirozyad Tajussyarof kembali ila rahmatillah. Innalillah wa innal ilahi rooji’un.

Satu guru sepuh kami di Kudus dipanggil setelah sebelumnya, KH Abdullah Hafidz, guru tafsir Al-Qur’an pertama saya di TBS Kudus, juga wafat. Sebelumnya lagi, KH Abdul Bashir, guru Falak yang ngajari saya memprediksi gerhana bulan dan matahari, juga wafat, disusul Kiai Iskandar Dinata, guru Fisika saya yang sabarnya MasyaAllah.

Satu-persatu guru kami di TBS Kudus pergi. Dan saya sebagai santri Kiai Zyad selamanya, tidak bisa langsung hadir karena alasan kedonyan: khataman kitab di kampung. Hanya bisa kirim Fatihah puluhan kali untuk beliau.

Kifayatul Atqiya’
Semasa sekolah, saya tidak terlalu dekat dengan putra KH Turaichan Adjhuri tersebut. Saya hanya suka ngaji dengan beliau tiap sore Ramadhan, bandongan Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajil Ashfiya’ di masjid tertua di Kudus, Langgardalem (berdiri 1480 M), yang disebut-sebut sebagai rumah Sunan Kudus. 200 meter sebelah utara makam Sunan Kudus.

Kitab tasawuf ala syu’bil iman yang bahasanya ndakik-ndakik ini, bisa dijelaskan gamblang untuk para jamaah ngaji oleh Kiai Zyad. Saking mudahnya mencerna, saya sering hafal syair-syair rumit. Bukan karena syairnya, tapi karena bahasanya sudah saya tangkap, maknan wa lafdhan (makna dan lafalnya). Berkah ngaji dengan Kiai Zyad.

Coretan kitab saat ngaji dengan Kiai Zyad, bandongan ngaji saya dimulai dari halaman 39 sampai halaman 117, lima halaman sebelum lembaran akhir (shohifah: 121). Coretan saya menulis bahwa kitab saya beli senilai Rp. 6.000,-, dan mulai ngaji Jumat Wage, 2 Ramadhan 1420 H/10 Desember 1999 M.

kitab kuning irsyadul ibad

Dalam catatan ngaji di halaman 116 Kifayatul Atqiya’, saya sempat menulis angka 10 Ramadhan 1423 H (tidak sebut miladiyahnya).

Jarak waktu ngaji mulai halaman 39 hingga 116 itu, setidaknya 3 tahun. Banyak yang bolong tak ada tinta makna di kitab kuning karangan Syeikh Muhammad Syatho Ad-Dimyathi tersebut, karena seingat saya, pernah saya tinggal muter-muter dua tahun mengikuti kilatan pasanan zaman Gus Dur presiden (karena puasa libur full), ke Sarang dan Pati.

Jadi, saya ngaji bandongan ke Kiai Zyad itu sejak mondok di Tasywiquth Thullab Baletengahan, asuhan Mbah KH Ma’mun Ahmad, tahun 1998.

Pondok Mbah Yai waktu itu membebaskan para santri ngaji kemanapun. Ngaji ke Kiai Zyad adalah favorit saya usai pulang sekolah. Sore tiap Ramadhan. Malamnya ngaji di pondok tempat saya mikim, dengan KH Taufiqurrahman dan KH Dzi Taufiqillah.

kilatan ramadhan di kudus

Hanya saat Ramadhan saya bisa ngaji bandongan ke Kiai Zyad. Sementara di hari biasa, saya ngajinya muter-muter sekitar menara ke:

  1. Masjid Busyrol Lathif (Kitab Kasyifatus Saja syarah Safinatun Naja) bersama KH Hasan Fauzi (Maghrib), dan Tartil Qur’an dengan KH Muhammad Manshur (tiap Subuh habis ngaji di pondok). 
  2. Masjid Menara Kudus (Kitab Irsyadul Ibad) dengan KH Ma’ruf Irsyad (Selasa ba’da Maghrib), dan juga di Masjid Jagalan (kitabnya banyak, habis Maghrib).
  3. Asrama Muslimin Janggalan (Tafsir al-Ibriz) kepada KH Sya’roni Ahmadi (Senin malam ba’da Maghrib),
  4. Kenepan (Kitab Asybah wan Nadho’ir, Is’adur Rofiq syarah Sulam Taufiq, dll.), dengan Kiai Aniq (tiap sore).

Sayangnya, karena ngajinya sebagai santri kalong (tidak mukim), ngaji kitab-kitab tersebut tidak ada yang pernah selesai dari awal sampai akhir, kecuali ke Kiai Mahmud Junaidi, yang saya bersama teman-teman sepondok dulu ngajinya tiap Kamis sore – Sabtu pagi, di Gringging, Samirejo, Dawe, Kudus.

Puluhan kitab Nahwu, Shorof, Fiqih, Tauhid, Tibb, Sirah Nabawiyah, Ushulul Fiqh, saya lahap dengan cara bandongan kilatan full dengan Kiai Jun di Dawe. Tidak pulang jika belum selesai. Modal sangu Rp. 5000,- untuk ngaji 2 hari di sana.

Namanya kilatan, ngajinya ya cepet. Jarang ada caption tiap kalimat. Pokoknya ngaji. Kadang dikasi sanad silsilah hingga muallif (pengarang kitab). Kilatan itu jalan ngajinya kalbarqil lami’ (seperti kilat sambar).

Jika Tafsir Jalalain (ratusan halaman) saya ngaji dengan Kiai Said MUS Sarang selesai secara kilatan hanya 17 hari, maka, untuk menyelesaikan dengan cara bandongan, Kiai Zyad butuh bertahun-tahun untuk Kitab Kifayatul Atqiya’-nya yang jumlah halamannya 121.

Dan, alhamdulillah, saya bagian santri ngaji Kifayatul Atqiya’ Kiai Zyad, yang Matan Kitabnya, Qomi’uth Thughyan ala Syu’bil Iman, saya khatam dengan Mbah Yai Makmun Ahmad Kudus. Syair Qomi’ Thughyan dan Alfiyah inilah yang dulu jadi syarat saya lulus madrasah TBS tahun 2005 silam. Entah sekarang.

Setelah Silatnas
Zaman sekolah, saya tidak pernah mukhollid (dekat hingga nempel) dengan para asatidz dan masyayikh TBS. Hingga kuliah pun, saya tidak pernah menjadi murid atau mahasiswa kesayangan syeikh atau dosen, seperti mbah dan bapak saya kepada para guru beliau di Balekambang, Jepara.

Saya tipe orang yang kuatir jika guru yang dekat dengan saya, suatu saat justru akan menjauh karena barangkali, ada perbuatan yang tidak saya sengaja membuat hati terluka dan mengeluarkan sabda buruk. Itu yang saya jaga. Di kampus, orang menyebutnya sebagai tabiat “bebas tekanan”.

Begitu pula dengan Kiai Zyad. Banyak teman saya yang dekat beliau, tapi saya tidak ikut jalannya karena alasan “memilih lebih bebas”. Saya menjadi akrab dengan beliau tanpa sengaja menjelang Silatnas Alumni TBS tahun 2016 lalu, tepatnya saat saya sowan ke Kiai Zyad, dan teman-teman memperkenalkan nama saya dengan akhiran nama “Badri”.

Mendengar nama itu, Kiai Zyad langsung tanya man huwa badri? Saya jawab, bapak saya. Anehnya, Kiai Zyad tanya kabar bapak saya. Padahal, setahu saya, orangtua saya tidak pernah ngaji di TBS. Sekolah bapak saya di Diniyah Kradenan, Kudus.

Bukan hanya itu, Kiai Zyad sampe menyebut pak lek saya, Masdim. Katanya, bapak saya dan lek saya dulu pernah ngaji di Langgar Dalem. Saya klarifikasi, memang betul. Jadi, bapak saya, lek saya, dan saya, ngajinya sama-sama ke Kiai Zyad.

Kesimpulan saya, Kiai Zyad punya ingatan super lengket. Beliau inilah yang menyimpan data sejarah Madrasah TBS sejak zaman awal KH Turaichan Adjhuri menjadi guru termuda dari generasi murid pertama Madrasah TBS Kudus.

Beberapa esai tentang sejarah Madrasah TBS Kudus, saya tulis dari penjelasan KH Khoirozyad, hingga kadang saya kewalahan menanggapi respon pembaca karena ingin saya tulis apa adanya dari beliau. Publik banyak yang merespon sebaliknya.

Bukan hanya itu, ketika saya salah menulis keterangan beliau pun, atau kurang lengkap misalnya, beliau tidak membiarkan. Saya langsung dijapri Kiai Zyad lewat pesan WhatsApp. Diterangkan, ditulis. Tanpa menghakimi langsung.

Beliau yang guru saya, tak sungkan bertanya langsung jika ada hal penting dimana saya dianggap tahu. Ini terjadi berkali-kali. Hampir tiap hari, beliau mengikuti isu terkini. Buktinya, saya sendiri sering dikirim link berita. Agar saya baca, meski kadang yang dishare tulisan yang pernah saya tulis di situs saya sendiri.
Kilatan Ramadhan bersama KH Choirozyad Tajussyarof (alm) Ramadhan 1439 H
Saya menyimpulkan, Kiai Zyad adalah sosok kiai pembelajar dan pengingat tingkat tinggi. Ini ciri ulama akhirat karena cara ngajinya wiki, wira’i, sehingga ingatannya terjaga. Ta’lim Muta’allim menjelaskan, murid yang jauh dari maksiat, ilmunya dari masa kecil akan terus menyertai jadi sahabat. Afatul Ilmi, An-Nisyan. Begitu yang saya ingat dari kitab babon santri, Ta’lim. Tapi Kiai Zyad tidak begitu. Lha wong bapak saya ngaji tidak lama dengan beliau saja masih diingat namanya. Padahal sudah puluhan tahun lamanya.

Maaf Kiai, saya belum bisa menulis panjang “Mozaik Sejarah TBS” karena separuh Ramadhan ini pergi, semua harapan saya ikut pergi sejak kabar jenengan sowan ila rahmatillah saya dengar Jumat siang.

Muridmu masih kedonyan hingga tidak langsung sendiko dawuh menulis lengkap sejarah TBS yang dinamis, melingkar-lingkar dan tentunya, perlu diinventarisir serta diklarifikasi pasti.

Saya ngaji bandongan ke Kiai Zyad mulai Jumat Wage 10 Ramadhan, 19 tahun lalu (1999). Dan beliau sowan ila rahmatillah, Jumat Wage pula, 23 Ramadhan 1439 H. Saya mendoakan kiai agar dicatat sebagai ulama yang menginspirasi luar biasa, setidaknya kepada saya dan anak-anak saya.

Wafat panjenengan mengingatkan saya kepada simbah guru, guru simbah saya dan bapak saya: KH Abdullah Hadziq Balekambang, yang wafat pada Jumat bulan Ramadhan, saat Subuh menjelang, usai mengucapkasan “Wa’alikum Salam”. [badriologi.com]

Al-Fatihah ila hadrati:
KH Choirozyad Tajusyarof
KH Abdul Bashir
KH Abdullah Hafidz
Kiai Iskandar Dinata

Sumber: Abdalla Badri