Wali Paidi Peringatkan Penulis Biografi Kiai
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Wali Paidi Peringatkan Penulis Biografi Kiai

M Abdullah Badri
Kamis, 05 Desember 2019
Loading...

biografi wali paidi dalam serial patroli wali paidi
Cover cerita Patroli Wali Paidi - 11

Oleh M Abdullah Badri

SUGA, seorang penulis biografi, menceritakan kisah ini kepada Yik Lukman saat menjenguk Wali Paidi yang masih di rumah sakit dan tidak boleh diganggu oleh siapapun. Paidi benar-benar uzlah di RS tersebut. Yik Lukman yang jadi tumbal ganti menemui kolega Paidi di kafe-nya.

Cerita bermula dari Suga yang mendapatkan informasi kalau ada kiai di Kudus yang tidak dikenal, tapi oleh Paidi disebut sebagai waliyullah. Mas Paidi -penggilan Suga ke Wali Paidi, menceritakan sedikit saja tentang riwayat kiai yang juga wali tersebut.

Di Kudus banyak sekali kiai yang dikenal sebagai auliya'. Mbah Asnawi, Mbah Arwani, Mbah Turaichan dan Mbah Makmun Ahmad misalnya, Suga pun sudah menulis biografi kecilnya. Tapi untuk kiai satu ini, Suga kesulitan mendapatkan sumber saking minimnya saksi hidup beliau.

Paidi mengetahui seluk beluk kiai tersebut tapi tidak boleh ditulis karena tugas beliau memang tidak boleh muncul sebagai tokoh berpengaruh seperti Mbah Hamid Pasuruan atau Mbah Mangli. Ada wali Allah yang memohon agar tidak dikenal manusia. Tapi, oleh Allah, tiap kali mereka ngumpet dari manusia, selalu saja gagal. Beda dengan nama kiai yang hendak ditulis oleh Suga. Memang tidak akan dikenalkan oleh Allah ke manusia.

Wali Paidi pernah bercerita, ada seorang wali Allah di Jatim yang saking tidak mau dikenal manusia, ia bahkan berpesan ke istri agar jasadnya dibuang ke laut berharap tidak bakal diziarahi orang-orang yang tabarrukan kelak. Bagi mereka, jejak diri sebagai makhluk Allah itu potensial membuat syirik. Selfie dan eksistensi, di mata Tuhan, bagi wali itu, adalah bentuk kemunafikan atas wujud hakiki Allah.

"Kok beda dengan gus dan habib sekarang, yah," Yik Lukman tiba-tiba merespon ungkapan Suga, yang sejak tadi hanya disimak sambil udud.

"Maksudnya?"

"Gus cucu kiai besar sekarang makin pedhe menggunakan nama kakeknya, bukan ilmunya. Apalagi habib. Sejak ada orang ngaku habib teriak-teriak lantang menantang pemerintah, habib lain makin percaya diri ikut menjadi lantang teriak anti pemerintah. Padahal, dulunya, kakek-kakek para gus dan habib itu sangat tawadlu'," terang Yik Lukman.

Suga hanya diam dan terus mendengar.

"Bayangkan, hanya perkara tafsir, antara gus dan habib sekarang jadi bertengkar. Dulu tidak. Mereka saling bantu menjadi khodim satu sama lain," lanjut Yik Lukman.

Lanjut ke cerita Suga. Kepada Wali Paidi, Suga meminta solusi bagaimana seharusnya, ditulis atau tidak biografi sang kiai tersebut? Suga masih ngeyel ingin menulis meski sudah dilarang.

"Bila masih maksa. Baiklah, malam Rabu pekan depan ya kang, sampeyan ke kafe ini lagi. Senin malam sebelumnya biasanya saya bertemu beliau dan njagong dengan beliau. Ada rapat besar di Masjidil Aqsha soalnya. Syaikh Subakir dan para Sunan biasanya datang ke rutinan tersebut. Kalau saya ketemu, saya tanyakan. Bila beliau mengijinkan, silakan tulis. Bila tidak, jangan sekali-kali menulis tentang beliau," Wali Paidi berjanji ke Suga. Suga mengiyakan. 

Di pertemuan rutin antar auliya' se-jagad Nusantara itu Wali Paidi hanya bertugas sebagai "Banser" yang menemui para tamu di pintu masuk masjid. Terhitung masih muda dan yunir soalnya. Di malam itu, ia bisa bertemu dengan wali-wali qutub zaman dulu, bercerita banyak ihwal peristiwa penting di zaman Kerajaan Demak, Mataram Islam dan sesudahnya. Karena itulah, meski ia tidak nampak pernah kuliah sejarah Nusantara, Wali Paidi bisa cerita banyak soal raja-raja dan wali-wali di Jawa yang sudah wafat ila rahmatilah.

"Jangan sekali-kali kamu menulis soal kiai itu loh yah. Bala'nya besar. Saya tidak mau tanggungjawab. Beliau tidak setuju," kata Wali Paidi.

"Beliau bilang apa, Mas Paidi?"

"Beliau tidak banyak bicara. Hanya beri isyarat kedua tangannya disilangkan ke wajah beliau. Tanda tidak setuju," terangnya.

Suga tidak mau bertanya lebih tentang alasannya.

Gara-gara inisiatif menulis biografi kiainya itu, Wali Paidi bercerita kalau makam sang kiai langsung ambles dan nisannya hilang. Beliau tidak rela meski hanya ditulis sebaris kalimat mulia.

"Barangsiapa membuat wali Allah marah, bukan manusia yang akan mengatasinya, tapi langsung Allah yang turun tangan".

Pesan Wali Paidi ke Suga itu membuat Yik Lukman merinding. [badriologi.com]

Bersambung...

Keterangan:
Ini adalah serial Patroli Wali Paidi (edisi 11). Rampung ditulis Kamis Subuh, 5 Desember 2019 - 04.18 WIB. 

Bersambung ke Patroli Wali Paidi Episode ke-12 
Loading...