Kiai Said: Kita Syukuri, Saya dan Gus Baha' Keturunan Mbah Asnawi dan Mbah Mutamakkin
Cari Judul Esai

Advertisement

Kiai Said: Kita Syukuri, Saya dan Gus Baha' Keturunan Mbah Asnawi dan Mbah Mutamakkin

M Abdullah Badri
Selasa, 09 Juli 2019

silsilah kiai said bertemu gus baha' di kh sholeh kudus
Gus Baha' sedang menunjukkan urutan silsilah KH. Said Aqiel Siradj saat bertemu di ruang dalam pengasuh Pondok Pesantren Damaran 78 Kudus, Ahad malam (7 Juli 2019). 

Oleh M Abdullah Badri

INI adalah transkrip lanjutan dari transkripsi sebelumnya (Baca: Gus Baha dan Kiai Said Gayeng Bincang Syarat Tasyarruf (Meniru Kemuliaan) Leluhur Damaran) yang isinya adalah sambutan Gus Baha’ dalam agenda Silaturrahim Halal Bihalal Napaktilas KH. Said Aqiel Siradj ke Pesantren Leluhur: Damaran 78 Kudus (7 Juli 2019). 

Setelah Gus Baha’ memberikan pengantar, Kiai Said berkesempatan untuk memberikan ular-ular kepada para santri Damaran, alumni serta para dzurriyah Mbah Asnawi sepuh selama kurang lebih 20an menit. Berikut dialog yang terjadi sebelum Kiai Said melanjutkan napaktilas dengan ziarah ke leluhurnya di kompleks makam Sunan Kudus. 

Kiai Said: 
Akhinal azizil karim, al-alim, Gus Baha' bin KH. Nursalim a'azzahullAah wa athola baqo'ah. Semua, min dzurriyati Mbah Asnawi sepuh yang hadir, a'azzakumullah

Para santri yang berbahagia. Alhamdulillah, untuk pertama kali لأوّل مرة saya datang في هذا المقام المبارك untuk napaktilas. Yang sebenarnya napaktilas itu saya.  

Gus Baha':
Makanya ndak diundang.

Kiai Said:
Hehehe. Saya mendengar, saya masih keturunan Mbah Asnawi sepuh. Tapi baru kali ini saya baru bisa tabarruk, melangkah kaki ke tempat ini. Itu dosa sebenarnya. Tapi masyaAllah

Gus Baha:
Tak kafarohi (membantu tebus dosa) sekarang.

Kiai Said:
Iyo, hehe. 

إن الكبا ئر فى الغفران كللمم. Dosanya kita itu terbatas. Saya usia 66 tahun. Dosaaa terus. Tapi مغفرة الله لا بداية ولا نهاية 

Gus Baha:
Ini istilah kerennya, doktor sudah taubat. 

Kiai Said dan Santri Damaran:
Hahahahahahahaha. 

Kiai Said:
Jadi misalkan ada orang usianya 80 tahun dosaaa terus. Dosa tok lah isinya. Asal nggak musyrik loh, asal nggak musyrik. Ada batasnya (kita berbuat dosa, pen). Tapi مغفرة الله لا بداية ولا نهاية كبا قى أسمائه لا بداية ولا نها ية. 

Nah, tadi masalah nasab, memang sangat penting. Allah memilih Nabi Muhammad khiyarin min khiyarih. Dipilih dari Quraish, Quraish dipilih dari Bani Kinanah, Bani Kinanah (Nabi dipilih) dari Bani Hasyim. (dari) Bani Hasyim dipilih dari Syaih Abdullah bin Syaikh Abdul Muthalib. Apa artinya? 

Supaya tidak ada celah musuh-musuhnya Nabi Muhammad untuk menghina Nabi Muhammad dari sisi nasab. Maka Abu Jahal tidak pernah mengatakan, "kamu ini keturunane sopo sih!". Tidak. (Paling hanya menghina dengan sebutan, pen) Muhammad kâhin (كاهن: dukun), Muhammad sâhir (ساحر: penyihir), Muhammad syâ'ir (شاعر: ahli puisi), mahjûn (مجنون: orang gila), biasa itu (mereka mencela begitu, pen). 

Tapi "Muhammad anake sopo" nggak ada. Karena semua tahu, Muhammad keturunan orang baik-baik. Jadi turunan baik itu penting. Faktor utama lah. Di toko, yang jualan (nasab) nggak ada. 

Maka harus kita syukuri, saya dan Gus Baha' keturunan Mbah Asnawi dan Mbah Mutamakkin ini fadlun minallâh. Wa irôdatuhul muthlaqôh (وإرادته المطلقة/ keinginan mutlak Allah). Tidak bisa ditawar. Mau tidak mau, saya keturunan Mbah Mutamakkin. (Baca: KH. Mutamakkin dan Cerita Batu Ginjal)

Gus Baha': 
Dan sekarang diakui, karena mau sowan ke Mbahnya. 

Santri dan Kiai Said: 
Hahahahahaha.

Kiai Said:
Suatu ketika, Imam Hasan Bashri ada yang menghina, karena Bapaknya bernama Syaikh Yasar, (yang seorang) tahanan perang; orang Majusi (dan pernah) ditahan, dibawa ke Madinah. Ya (meskipun) akhirnya Islam, (ia) menjadi mawâlî namanya, (atau) maulâ. (Ketika) punya anak Hasan Bashri ini, (beliau justru melahirkan generasi terbaik yang) menjadi sayyidut ta'bi'in/pemuka para pengikut sahabat Nabi. 

Ada yang ngenyék (menghina Hasan Bashri begini); "Kamu ini walau terkenal, tapi kamu anaknya tahanan perang, budak". 

Jawabnya Imam Hasan Bashri, "Jangan menghina anak saya. Ayah besar punya anak seperti saya. Ayah saya jelek-jelek punya anak seperti saya. Saya belum tentu punya anak seperti saya". 

Jadi, di sini (dalam kasus Hasan Bahsri), unsur keturunan tidak terpakai (sebagai pencegah munculnya hinaan). Gus Baha' belum tentu memiliki anak seperti Gus Baha' begini. Belum tentu. Tapi kalau melebihi barangkali bisa insyaAllah


Gus Baha: 
Karena namanya gak sama. 

Santri: 
Hahaha. 

Kiai Said: 
Oleh karena itu, ala kulli hal, saya terimakasih atas هذه الحفالة, penghormatan yang sangat luar biasa, mendadak dan tidak saya sangka, خارج عن الظن. Ternyata antum semuanya menghormati kedatangan saya. Ini merupakan kehormatan bagi saya. 

Hadirin yang saya hormati! 
Mari keturunan itu kita pelihara. Dengan apa? Kita pun membangun kebesaran seperti kebesaran yang kita warisi dari kakek kita. Jangan sampai kita hanya membanggakan kakek doank. Hanya membanggakan kakek saja. Kita sendiri gombal. Itu yang salah. Sejelek-jeleknya orang hanya bisa membanggakan kakeknya, yang ente sendiri tidak ada apa-apanya. 

"Oh kakek saya, wuih mbah saya", tapi kita sendiri gombal. Gombal itu lap itu loh (kain buat ngepel lantai, pen). Iya kalau lap meja, lha kalau lap closed (toilet)! 

Santri:
Hahahahahaha. 

Gus Baha': 
Bener-bener Pak Said ini. 

gus baha gayeng guyon bersama said aqil siraj di damaran
Kiai Said saat memberikan sambutan dalam Napaktilas ke Pesantren Leluhur, Damaran 78 Kudus. Didampingi dzurriyah Mbah Asnawi sepuh Kudus. Ahad malam (7 Juli 2019).

Kiai Said: 
فـشر العا لمين ذوو خمول - إذا فاخرتَهم ذكروا الجدودا

Sejelek-jeleknya orang (adalah) yang hanya bisa mengandalkan judud. Mbah saya, kakek saya, buyut saya, hebat. Hanya itu tok. Yang paling bagus adalah yang kayak Gus Baha' ini. 

وخير الناس ذو حسب قديم - أقام لنفسه حسبا جديدا

Sebaik-baik orang (adalah) yang mempunyai mbah besar, kakek besar, juga dia membangun kebesaran dirinya. أقام لنفسه حسبا جديدا. Mbahnya 'alim, cucunya juga orang alim. Ini yang luar biasa. 

Nah, kalau satu pesantren, atau satu daerah-negeri, dulunya di situ kiainya besar-besar, alim-alim, (ibarat) singa, macan, harimau, sekarang kok sepi, nah ini yang kasihan ini, kasihan itu. Mudah-mudah di sini tidak begitu, dan tidak begitu di sini. Kalau ada gimana? 

Ada pesantren tadinya kiainya besar, alim, berwibawa, tokoh pejuang, mujahid, sekarang kok sepi, nah ini yang kasihan. 

إذا ما الجهل حيِّمَ فى بلادِ - رأيتَ اُسُودها مُسختْ قرودًا

Gak usah tersinggung nih. Saya terjemahkan. Hehe. Kalau ada desa, negeri atau pesantren, yang dulunya (diasuh) oleh kiai besar-besar dan alim-alim (dan) sekarang kok enggak, itu berarti رأيت اسودها مسخت قرودا, singanya sudah jadi monyet. (Baca syair lengkapnya oleh Abdul Ghani Ar-Roshofy dari Baghdad, DISINI).

Gus Baha:
Wkwkwkwkwkwkwkw.

Kiai Said: 
Ya Allah, dulunya Mbah saya hebat, kakeknya saya hebat, sekarang kok sepi, berarti singanya sudah jadiii...monyet. Kalau di sini nggak, di sini nggak. Gus Baha' macan juga. 

Gus Baha': 
Ini cucu-cucu Mbah Turaichan macan-macan semua. Ini semua cucu Raden Asnawi. Itu juga cucunya Mbah Kamal. Mbah Kamal itu saudaranya Mbah Makshum. 

Kiai Said:
Mbah Kamal itu punya anak namanya Nyai Imroh, sepupunya nenek saya. Nenek saya Nyai Fathimah binti Fadhilah. 


Gus Baha':
Yang (di) depan ini (para santri Damaran) Bani Adam semua. وَمِمَّنْ هَدَيْنَا. Aman. Pokoknya aman semua. 

Santri:
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkw. 

Kiai Said:
Dalam setiap diri manusia itu ada namanya hawa nafsu. Nafsu ada dua, ghodlobiyah dan syahwatiyah. Ghodlobiyah, interest. Syahwatiyah, hasrat. Selama nafsu ghadlobiyah dan syahwatiyah disinari dengan خواطر إلهية, direct illumination from Allah, maka, ghodlobiyahnya menjadi himmah (همّة), syahwatiyahnya menjadi 'azimah (عزيمة). 

"Saya harus jadi gubernur, jadi presiden", (bila) niatnya baik, karena benar, (dan) tujuannya baik, maka itu bukan hubbul jâh (حب الجاه/suka pangkat), tapi namanya himmah. (Contoh) Kiai Ma'ruf Amin menang jadi wakil presiden, itu (karena) niatnya baik, (baik kan, beliau baik kan? Gak pernah macam-macam! Hehe), dan limardhâtillâh (لمرضاة الله) tujuannya, berarti Kiai Ma'ruf itu bukan hubbul jâh, tapiii himmah

(Tentang) Nabi Muhammad (Kiai Said kembali bersyi'ir): 

محمد قا ئم لله ذو همم - محمد خاتم للرسْل كلهم

Nabi Muhammad Saw. memiliki himmah besar. Tanpa himmah besar tidak mungkin menang.

والله لو وضعوا الشمس في يميني والقمر في يساري ما تركت هذا الأمر حتى يظهره الله أو أهلك دونه

Seandainya mereka meletakkan Matahari di tangan kananku dan Bulan di tangan kiriku, untuk meninggalkan jalan dakwah ini, saya tidak akan meninggalkan dakwah sampai saya hancur. Demi dakwah, Nabi himmahnya besar (Baca teks lengkapnya DISINI). Gak seperti kita-kitaan, baru dibentak Ndan Ramil sudah ketakutan. 

Santri: 
Hahahahahah. 

gus baha ziarah ke makam sunan kudus dan kiai asnawi sepuh kudus
Didampingi Gus Baha', santri Damaran 78 Kudus dan dzurriyah, Kiai Said ziarah ke makam Mbah Asnawi sepuh di kompleks Makam Sunan Kudus, Ahad malam (7 Juli 2019).

Gus Baha':
Kiai Zubaidi, pak lek-nya Mbah Moen (jadi keluarga sini ada yang besanan dengan pak lek-nya Mbah Moen), menantunya Mbah nya Mbah Maimoen, punya anak Mat Ainul Yaqin.... 

Kiai Said:
Sama Zubaidi Nyambung ya?

Gus Baha': 
Ya nyambung, Zubaidi itu saudaranya Badi'ah. 

Kiai Said: 
Berarti sama Kiai Sahal yah. (Ibu Kiai Sahal adalah Nyai Badi'ah, pen). 

Gus Baha': 
Beliau ini di Sidogiri (dapat keturunan Sidogiri, Pasuruan, pen). 

Kiai Said:
Banyak macannya itu (di Sidogiri). 

Santri: 
Wwkwkwkwkw.

Kiai Said:
Dah. Sebaliknya, kalau masalah 'azimah, (misalnya memiliki tekad) "saya harus kaya", "saya harus jadi konglomerat", masak konglomerat nomor satu Djarum, kenapa bukan keturunannya Mbah Asnawi? 

Di Indonesia ini (orang kaya) nomor satu (pemilik) Djarum. Punya uang 35 miliar dolar. Satu miliar dolar 14 triliun rupiah. Ping pira, coba hitung sendiri (jumlah kekayaannya). Nomor dua (terkaya adalah pemilik) Sinar Mas. Kenapa bukan kita? 

Oleh karena itu, kita tidak boleh miskin. Tidak boleh melarat. Harus kaya. 

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: 
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9). 

Kita harus kuat, ekonominya kuat, budayanya kuat. Gak boleh kita menjadi ضِعَافًا (lemah). Lemah ekonomi, lemah ilmu, lemah budaya, lemah akhlak, lemah syahwat, nggak boleh. 

Santri:
Wkwkwkwkwkw. 

Kiai Said:
Walaupun kaya kalau syahwatnya lemah, untuk apa! Gak ada gunanya itu. 

Santri:
Wkwkwkwkwkw. 

Kiai Said:
Karena itulah kita harus kaya. Harus kaya itu apa? Kalau niatnya baik, caranya benar, tujuannya baik, maka namanya bukan hubbud dunya, bukan. (Tapi) namanya 'azimah. Sayyidina Ustman kaya, Sa’ad bin Abi Waqqash kaya, Abdurrahman bin 'Auf kaya. Kalau Sayyidina Umar dan Ali miskin. Potongane jenengan pengikut Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali mungkin. 

Santri:
Wkwkwkwkw. 

Gus Baha': 
Mbah Makshum sini (Damaran) juga kaya. Mbah Sholeh juga kaya. 

Kiai Said:
Nggih? MasyaAllah

Mbah Wahab (juga) kaya. Muter-muter sosialisasi NU sampai Sumatra Selatan. Kemudian (ke) Kiai Kamil Sholeh (asli Semarang katanya), yang pertama kali mendirikan NU di Sumsel. Banten (Menes, Pandeglang), ada Kiai Abdurrahman. Jakarta, Guru Marzuki. Bogor (Pagentongan), Kiai Abdul Hamid. Majalengka, Kiai Abdul Halim. Cirebon, Kiai Abbas (Buntet), Kiai Syathori (Arjawinangun), Kiai Amin (Ciwaringin). Indramayu, Kiai Suja'i. Semarang, Kiai Ridlwan. Kudus, Raden Asnawi (yang muda), mbah-nya ini (Kiai Said menujuk Gus Fata, pen). Lasem, Mbah Makshum. Cepu, Kiai Ihsan. Sampai Lombok Tengah, Kiai Faishol. 

Link esai ini: http://bit.ly/2LaPExu

Mbah Wahab muter-muter (ke semua kiai di atas, pen). Bayangkan, tahun 25, 26, 27. Waktu itu transportasi kayak apa (risiko dan kesulitannya, pen). Mlaku tok gampangane. Karena ketika tidak ada kendaran, ya jalan kaki. Daan, tanpa proposal. 

Santri:
Hahahahaha. 


Kiai Said:
Oleh karena Mbah Wahab muternya lama, istrinya banyaak. Gak apa-apa. Bibit unggul harus dikembang-biakkan. 

Santri:
Wkwkwkwkwkw. 

Kiai Said:
Lah, nanti kalau bibit jelek yang dikembang-biakkan gimana? Gus Baha' ini harus mengembang-biakkan....

Gus Baha' dan Santri:
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

Kiai Said:
Oleh karena itu, 'azimah kita harus besar. Harus jadi orang kaya. Harus pegang peranan dalam ekonomi. Ya Allah. Panjenengan kalau tahu yah. Yang namanya perdagangan ini, ada GATT: The General Agreement on Tariffs and Trade. Itu, komoditi kita, hasil Indonesia ini, yang menentukan harganya bukan kita. (Tapi) Singapura. 

Minyak, emas, berlian, batubara, meaning, bauksit, nikel, timah, "Harganya sekian! Besok sekian. Naik sekian". Naik turunnya Singapura yang menentukan. Bukan Indonesia. Kalau Indonesia itu bisa menentukan (harga) mendoan (tempe kemul).

Santri:
Hahahahaha. 

Kiai Said:
Kalau Kudus apa? Jenang? Nah, itu apa kata kita itu. Harganya berapa, apa kata kita. Banyumas, mendoan, gethuk goreng, itu (juga) apa kata kita (harganya). Tapi kalau hasil batubara (dan lainnya) tadi, bukan kita yang menentukan. Singapura yang menentukan. Negara cilik, yang kata Gus Dur, kalau diuyuhi (dikencingi) wong sak Indonesia bisa miring itu pulau (Singapura). 

Santri:
Hahahahaha. 

Kiai Said:
Kenyataannya seperti itu. Begitu pula kedhaliman di bidang moneter. Rupiah ini apa kata dolar. Negara kalau mau mencetak, menerbitkan rupiah, (misalnya) satu triliun rupiah, harus punya backup, koleteral, disimpan di gudang. Kalau nggak punya, ya hutang ke Bank Dunia atau IMF. 

Dihutangi, tapi (mereka akan bilang) "ojo dienggo lo yaw, ana bungane lo yaw". Uang itu (statusnya) pinjaman, ada bunganya (pula), tapi "jangan dipakai" (tidak boleh digunakan karena) hanya untuk mem-backup rupiah yang akan diterbitkan (saja).  

Ini ظُلمٌ عَظِيــم. Ini namanya kedhaliman di bidang moneter. Oleh karena itu, kita harus kaya. (Kiai Said kembali bersyair). 

عَلى قَدْرِ أهْلِ العَزْم تأتي العَزائِمُ - وَتأتي علَى قَدْرِ الكِرامِ المَكارمُ
وَتَعْظُمُ في عَينِ الصّغيرِ صغارُها - وَتَصْغُرُ في عَين العَظيمِ العَظائِمُ
Kesimpulan syairnya, kita harus menang. Begitu sajalah terjemahannya. Tidak boleh kalah. Nggak boleh miskin. Gak boleh bodoh. 

Gus Baha':
Kecuali takdir.

Santri:
Hahahahahahahah

Kiai Said:
Jadi, Allah itu tidak ridlo jika umat Islam itu kalah. Kita harus menang.  لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ - Agar berperan di tengah-tengah masyarakat (QS. Al-Baqarah: 143). Apa itu peran? شهودا لتكونوا حا ضرين فى المجتمع شهداء عليهم دينيا, ثقفيا, حضاريا, إقتصاديا, سياسياً. Ya politik, ya ekonomi, ya peradaban, ya pendidikan, harus dipegang orang NU. Gitu. Apalagi agama. Kalau dipegang bukan orang NU, salah kabeh engko bakale. Kaffaro - yukaffiru - kufron.  

Santri:
Hahahahahahahuuuu....

Kiai Said:
Gitu kok Majelis Ulamaaa. MasyaAllah. Mantan artis penyanyi, langsung pakai sorban pakai gamis, (terus langsung diambil jadi) sekretaris Majelis Ulama (MUI). Yang namanya Yusuf Martak itu bendahara Majelis Ulama. (Padahal dia) itu Direktur PT. Lapindo Brantas. (Kok bisa jadi) ulama. Biasanya (dia, Yusuf Martak, sering memimpin agenda bernama) Ijtima'ul Ulama'. Untung nggak jima'ul ulama'

Santri dan Gus Baha':
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw

Kiai Said:
Siapa lagi? Hassan Haikal yah? Haikal Hassan? (yang berpendapat): Kâfir itu orang yang tidak beriman. Tapi kalau kuffâr itu orang yang menyerang, memerangi orang Islam. MasyaAllaaah. Ngono kok ulama', ya Allah. Aduuh. 

Kalau orang yang tidak waras setiap zaman selalu ada. Tapi yang kali ini (akhir-akhir ini, orang tidak waras) pengikutnya lumayan banyak. Zaman dulu banyak yang ngaku jadi wali, jadi Nabi, pengikutnya paling 10 ribu 20 ribu. Tapi yang ini, ratusan ribu. Bahkan boleh dibilang jutaan. 


Yang anti Pancasila (sekarang) ini lebih dari 9 persen, berarti sekitar 20 juta se-Indonesia. Di tentara pun ada, di polisi ada, setiap kantor-kantor (pemerintah) pun ada, di universitas pun (juga) ada, kecuali di UNU (yang) nggak ada. 

Ini kalau panjang-panjang nggak habis-habis. Terimakasih. Barokallahu lakum, yahfadzkum minal 'âhâdi wal âfâti wal mihan wal fitan. (Kiai Said kembali bersyair). 

إن لم يكن فى معاد أخي ذنبى يدي - فضلا وإلا فقل يا زلتا القدم
حاشاه أن يحرم الراجي مكارمه - أو يرجع الجار منه غير محترم  

MasyaAllah, semoga kita semua dapat syafaatnya Rasulullah. Tidak mungkin Rasulullah tidak memberikan syafaat kepada kita. InsyaAllah, tidak mungkin. حاشاه أن يحرم الراجي مكارمه - أو يرجع الجار منه غير محترم (Tidak perlu penulis terjemahkan). End. Wallahu a'lam. [badriologi.com]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah