Kontroversi Kiai Murtadho Kawak Jepara yang Jamin Masuk Surga Muridnya, Percaya?
Cari Judul Esai

Advertisement

Kontroversi Kiai Murtadho Kawak Jepara yang Jamin Masuk Surga Muridnya, Percaya?

M Abdullah Badri
Jumat, 28 Juni 2019

Ilustrasi kontroversi ajaran di padepokan Kiai Murtadho. Foto: satelitpost.com

Oleh M Abdullah Badri

BEBERAPA tahun terakhir nama Kiai Murtadho menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat santri Jepara karena ia dianggap sebagai kiai kontroversial. Meski ucapan-ucapannya sulit dibuktikan secara lahiriyah, ilmiah dan syar'iyyah, ia memiliki banyak murid yang fanatik dan taat tanpa tanda tanya.

Murtadho memiliki padepokan di Desa Kawak, Pakis Aji, Jepara yang lokasinya dibangun di dekat Thu'songo (pusat hulu aliran sungai sekitar), wilayah angker dan keramat yang menurut warga setempat dihuni penuh dengan bangsa lelembut sejak dulu.

Kepada para murid dan warga sekitar, Murtadho juga sering mengaku bertemu dengan Rasulullah Saw. dan waliyullah masyhur seperti Sunan Kalijogo dan lainnya. Hanya murid-muridnya saja yang mempercayai.

Di lokasi itulah Murtadho menyatakan bahwa para pengikutnya yang meninggal dan dimakamkan di di sana dijamin akan masuk surga. Entah dalil hadits dan Al-Qur'an ayat berapa yang digunakan untuk menjustifikasi pernyataan yang dianggap beberapa kiai terkesan khayali (imajinatif-ngawur) tersebut.

Baca: Rutinan Ngaji Gus Baha' dan Sejarah Pengasuh Pesantren Mazro'atul Ulum Damaran 78 Kudus

Di padepokannya itu, murid-muridnya juga percaya kalau Sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash dikebumikan. Karena alasan inilah, Murtadho memfatwakan kepada para murid fanatiknya agar dimakamkan di tanah padepokan jika ada yang meninggal, supaya berkumpul dekat dengan sosok yang dijamin Nabi Muhammad sebagai penghuni surga tersebut.

Jelas saja menjadi kontroversi. Bukankah makam paman Nabi Sa'ad bin Abi Waqqash tersebut ada di Ghoangzhou, Cina? Dan menurut catatan kuno di Cina sana, Sa'ad bin Abi Waqqash adalah utusan Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H / 644-656 M) yang memimpin penyebaran Islam di negeri Bambu tersebut. Sejak kapan makam Sa'ad bin Abi Waqqash, orang ketiga yang masuk Islam pertama itu, berpindah ke Desa Kawak, Jepara?

Fanatik dan Fatalis
Meski fakta berbicara begitu, toh masih ada saja banyak muridnya yang percaya dan fanatik. Beberapa murid yang mati karena penyakit kuning dimakamkan di pedepokan Murtadho. Diketahui, penyakit kuning tersebut kemungkinan besar disebabkan karena ada kewajiban tidak boleh tidur setiap malam agar terus bisa berdzikir alias tirakat melek bengi (terjaga di malam hari).

Artinya, secara kesehatan, kewajiban yang harus dilakukan para murid setianya itu jelas berakibat buruk pada tubuh setelah sekian tahun tidak pernah absen dari tidur pagi, karena sibuk begadang full tiap malam.

Saking taatnya kepada Murtadho, para murid yang mengalami kantuk di malam hari terpaksa berlari-lari di sekitar pedepokan. Warga sekitar pernah mendapati para murid Murtadho berlari thawaf mengitari wilayah pedepokan sambil membaca Laa ilaha IllaAllah dan bacaan lainnya hingga jelang Subuh. Entah untuk menjaga agar tidak tidur atau untuk amalan lainnya, tidak ada yang menelusuri lebih lanjut.

Saat mengitari padepokan dengan wirid, pernah ada insiden kaki anak Murtadho patah hingga sempal jadi dua kaki kanannya seperti usai ditoklek-toklek seseorang dengan keras. Padahal dia hanya berlari-lari. Ada yang menyebut kejadian itu sebagai peristiwa luar biasa yang terkait dengan alam ghaib. Wallhu a'lam soal ini.

Selain berolahraga lari agar tetap taat tidak tidur di malam hari, mereka juga kadang melakukan kerja fisik lain seperti ngusungi klethong (mengangkut kotoran hewan) atau bal-balan (bermain sepakbola) hingga membuat berisik tetangga. Mereka yang tidak kuat tirakat full melek bengi seperti ini banyak yang terserang penyakit, meninggal dan lalu dimakamkan di sana juga.

Para muridnya tidak ada yang memprotes karena mereka sudah gandrung setia kepada Murtadho. Bayangkan, murid padepokan tersebut memiliki rasa sedih yang amat bila meninggalkan ngaji ke padepokan itu. Telat sedikit saja muncul rasa gelo (kecewa) mendalam di antara mereka.

Suatu ketika, seorang murid dari jauh yang hendak datang ke malam pengajian Murtadho di padepokan itu, kebanan (terkena musibah ban kempes) di jalan. Karena tidak ada tambal ban motor yang buka, ia memohon dengan sangat kepada salah seorang kiai yang ia kenal agar meminjamkan motornya agar tidak telat ngaji.

MasyaAllah bukan? Jarang loh ada kiai yang memiliki murid setia begitu di zaman sekarang. Dan Murtadho bisa membangun karakter setia dengan mudah kepada jama'ahnya.

Baca: Tradisi Takbiran Adat "Laa Ilaha Ilola - Uu Lilo Lel Kam" Desa Sukodono, Jepara

Saking hormatnya kepada Murtadho, ada semacam aturan padepokan yang seolah mewajibkan kepada murid agar berhenti dari aktivitas ngaji, ngobrol atau diskusi ketika sang guru terlihat akan lewat di depannya meski baru masuk pintu gerbang padepokan. Sangat tinggi sekali derajat Murtadho di mata para pengikutnya.

Tapi, begitu mereka bergaul dengan kiai atau guru lainnya di luar padepokan, sikap mereka berkebalikan. Begitu mereka sudah merasa inheren (tidak dapat dipisahkan karena terikat kuat), kiai lain tidak akan digubris ucapannya oleh murid Murtadho. Bahkan menampakkan sikap anti kiai lain selain Murtadho. Innalillah

Selain itu, para muridnya juga banyak yang berhasil diajak tidak menyintai dunia sehingga memunculkan sikap ekstrim anti dunia dan hanya fokus wiridan tiap malam tanpa memedulikan kebutuhan keluarga (bagi yang sudah menikah). Karena sibuk wiridan, banyak di antara muridnya meninggalkan kewajiban kerja dan rutinan di siang hari. Dan hal ini berlangsung lama, bukan hanya insidental.

Sikap fatalis para murid Murtadho memunculkan fenomena kegagalan para murid di padepokan yang awalnya datang mengiba karena terkena masalah ekonomi. Tidak dijumpai murid Murtadho yang berhasil menjadi orang kaya karena amalan wiridnya. Ya karena metodenya yang anti duniawi secara total itu. Mereka lupa atau melupa-diri kalau dunia ini digerakkan dengan usaha, kerja keras dan ikhtiyar lahiriyah juga, bukan hanya doa dan wiridan.

Mereka yang betah tinggal di padepokan dengan sistem tirakat melek bengi itu ada yang bertahan bertahun-tahun tanpa pulang ke rumah kelurganya. Karena fanatik buta, ada di antara para murid itu mempertahankan tirakat tanpa pulang dengan cara: tidak masuk ke dalam rumah orangtuanya meski dia di depan pintu rumah karena kangen. Antum kuat? Yakin kuat? Ngapusi ah!

foto masjid tegal sambi tahunan jepara
Suasana sebelum rutinan Ngaji Ihya' Ulumiddin di Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Malam Jumat (27 Juni 2019). Foto: dokumentasi pribadi penulis.


MUI Tidak Bisa Menindak
Tidak ada tindakan apapun atas kontroversi Murtadho dan metode tirakat ala padepokannya tersebut. Secara hakikat, apa yang diungkapkan Murtadho tidak banyak berseberangan dengan metode ilmu kasyyaf dalam ilmu thariqah dan ma'rifat-hakikat.

Bedanya, Murtadho acap berbicara hal-hal yang eksistensinya amat sulit dilihat mata awam kepada publik, dan memang tidak bisa dibuktikan dan apalagi dipercaya kecuali oleh mereka yang mau percaya saja. Bila dia seorang waliyullah, jelas ia tidak akan pamer bertemu Rasulullah Saw. dan para wali yang sudah meninggal. Apalagi kepada orang awam yang baru belajar agama secara fanatik.

MUI jelas pikir-pikir bila hendak menyoal Murtadho dengan pasal kesesatan, seperti pasal lumrah yang dipakai selama ini. Apalagi cara shalat Murtadho wa jama'atihi sama dengan lainnya, lima waktu juga. Kitab yang biasa dipakai juga kitab yang lazim dikaji di pesantren salaf, yakni Anwarul Masalik (syarah Umdatus Salik) karya Ibnu An-Naqib.

Maklum, Murtadho pernah ngaji ke Kiai Umar Jepara, seorang ulama' yang juga disegani. Dia paham juga kitab kuning. Murtadho menjadi seorang guru bercorak mistis dengan imajinasi khayali-nya seperti itu setelah dia tirakat di Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur. Entah berguru kepada siapa di sana, tidak ada keterangan lebih lanjut.

Polisi juga tidak akan menggunakan pasal "meresahkan masyarakat" karena Murtadho berjasa banyak kepada banyak warga Jepara yang membutuhkan jasa pengobatannya. Suatu ketika, puluhan kiai dan dokter tidak mampu menyembuhkan penyakit seorang laki-laki yang sakit menahun tanpa diketahui sebabnya.

Di tangan Murtadho, laki-laki tersebut sembuh total dalam hitungan jam di padepokannya. Hanya butuh semalam untuk mengusir jin yang mengganggu tubuh sang pasien tersebut. Sakti, bukan? MasyaAllah. Baca: Muncul Fenomena Aneh: Banyak Jin yang Diruqyah Mengaku Anak Buah Dajjal.

Pihak manapun makin sulit ambil tindakan "lapor komandan" karena Murtadho juga sangat peduli kepada warga sekitar. Setiap tahun dia menyembelih 2000an ayam ingkung yang dibagikan juga kepada para kiai se-Kecamatan Mlonggo, Pakis Aji dan sekitarnya, di Jepara. Saksinya banyak. Sedekah dekem ayam Manaqib yang diketahui banyak tokoh inilah yang membuat Murtadho tidak disoal secara serius oleh masyarakat. Mereka segan.

Warga juga tidak melihat Murtadho sebagai sosok yang suka koleksi istri seperti kebanyakan citra buruk para ahli pengobatan yang kaya raya. Ia juga hidup tanpa kemewahan mengoleksi mobil mahal seperti kebanyakan orang yang gila harta. Akhlaq baik Murtadho inilah yang membuat masyarakat kian segan dan muridnya makin fanatik saja, meski ke depannya, menurut beberapa kiai sekitar, cukup mengkhawatirkan.

Banyak kiai NU yang tidak sepakat cara-cara pengajaran Murtadho di padepokannya tapi tidak ada yang langsung menindak. Sekelas Mbah Maimoen saja tidak pernah langsung memerintahkan santrinya membubarkan kelompok semacam Murtadho di tempat lain.

Di Desa Kawak, tokoh lain yang disebut-sebut kenyelenehannya mirip-mirip Murtadho adalah Mbah Lopang dan Mbah Wahid. Tapi tidak sebanyak Murtadho perkembangan jama'ahnya, yang fanatik.

Di Desa Ngabul, ada juga tokoh bernama Tomy (asli Semarang) yang nyeleneh karena pengakuannya biasa melakukan Isra' Mi'raj seperti Kanjeng Nabi Muhammad Saw. hingga tembus langit ke tujuh. Keren kan? Jangan-jangan sampai juga ke Sidratil Muntaha juga dia.

Semua itu tidak bisa dibuktikan karena sudah melampaui wilayah syariat dan apalagi fiqih praktis ubudiyah. Husnudzan, barangkali mereka itu sedang bergaul dengan jin (ke-jin-an) yang dianggapnya secara khayali bisa memberi kemampuan khariqul 'adah di luar jangkauan lahir syariat. Hanya orang-orang "mabuk hakikat" saja yang percaya penuh. MUI dan Polisi jelas tidak mampu mendefinisikan pengakuan orang-orang macam Murtadho wa man yuqhasu bihi.

Dan, percaya atau tidak, semua murid Murtadho tidak ada yang berlatar-belakang santri tulen pesantren dan paham fiqih, tasawuf maupun disiplin ilmu thariqah-hakikat bersanad, detail dan mendalam. Semuanya adalah orang awam yang percaya begitu saja atas semua imajinasi khayali Murtadho, yang berhasil dibungkus dengan cantik olehnya, dan sangat memikat. Saya sih no! Anda? [badriologi.com]

Keterangan: 
Esai ini adalah catatan penulis dengan Kiai Haris, Kiai Huda Nashrullah dan Kiai Imron sebelum Ngaji Ihya' Ulumuddin (Bab Asrarus Shalat) yang digelar rutin di Masjid Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Kamis malam (27 Juni 2019).