Syaikh Rodhi, Misionaris Wahabi Abad 19 yang Minggat Pasca Kalah Debat dengan Kiai Menara
Cari Judul Esai

Advertisement

Syaikh Rodhi, Misionaris Wahabi Abad 19 yang Minggat Pasca Kalah Debat dengan Kiai Menara

M Abdullah Badri
Sabtu, 15 Juni 2019

sejarah kudus kulon menara kudus
KH. Ahmad Arwan Kudus (peci putih) saat mengisi mau'idhoh hasanah Halal Bihalal alumni Madrasah TBS 2005 (kelas C) di rumah Sdr. Kholilurrohman, Getasrabi, Gebog, Kudus, Jumat 14 Juni 2019/10 Syawwal 1440, malam.  

Oleh M Abdullah Badri

NAMANYA Syaikh Rodhi. Tiba-tiba dapat gelar syaikh. Tidak ada yang mengetahui asal-usulnya. Tiba-tiba saja datang ke daerah Kudus kulon sekitaran Menara Kudus di zaman Nusantara bergerak. Banyak sejarah tutur menyebut Syaikh Rodhi adalah misionaris wahabi yang saat itu sedang di puncak jihad menyebarkan dakwah "bid'ahnya" di daerah yang dari dulu dikenal sebagai wilayah santri; Kudus kulon.

KH. Sya'roni Ahmadi menyebut Syaikh Rodhi hidup sezaman dengan Surkati, tokoh yang difigurkan dalam Jamiyyatul Khoir. Dulunya, Jamiyyatul Khoir dipenuhi dengan tokoh-tokoh ahlussunnah waljama'ah keturunan Arab dan Yaman (khususnya). Tapi sejak Surkati bisa masuk mempengaruhi organisasi Islam pertama tersebut (berdiri 1901), paham yang disebarluaskan menjadi semakin bercorak wahabi.

Di zaman Surkati inilah Jamiyyatul Khoir ditambah akonim menjadi Jam'iyytul Khoir wal Irsyad dan peranakan Arab yang mendirikannya mufaraqah membuat jamiyyah sendiri bernama Rabithah Alawiyyin.

Baca: Peringatan Kiai Turaichan Kepada yang Merasa Mewakili Ulama

Kiai Sya'roni Ahmadi menyebut Surkati dan Syaikh Rodhi adalah utusan misionaris wahabi. Sementara utusan lainnya ada yang dikirim ke luar Jawa, untuk memecah belah umat Islam waktu itu, yang sedang bergerak melawan Belanda.

Di sekitar Menara Kudus abad 19 awal itu (tahun tepatnya belum diketahui sumber saya), Syaikh Rodhi bermukim dan menyebarkan ajaran-ajaran bid'ah untuk kalangan kelompok santri menara. Misalnya, dia mendakwahkan ajaran baru yang mengharamkan ziarah kubur Sunan Kudus, tahlilan serta berjanjenan. Semua itu sudah berlaku ratusan tahun di Kudus.

Banyak kiai dan warga di sekitar Kudus yang tidak setuju atas kehadiran tokoh tiba-tiba yang menyebarkan ajaran yak nah beh itu. Ujaran dan ceramahnya sangat meresahkan warga. Diceritakan, Syaikh Rodhi ini pernah mengikat dirinya sendiri dengan rantai di masjid Menara Kudus. Bukan karena stres dan gila, tapi sebagai ungkapan dia tidak mau berpindah dari lokasi sekitar Menara karena diusir warga.

Tanda buruk kehadiran Syaikh Rodhi ini nampak dari kisah tutur yang menyebut adanya anjing misterius yang tiba-tiba muncul di tengah masjid depan menara kecil yang sekarang lokasinya ada di dalam masjid. Anjing itu adalah isyarah adanya manusia hina yang dikirim tuannya untuk menjaga akidah kotor, senajis hukum anjing dalam fiqih.

Baca: KH Sofwan Durri Kudus, Melawan Belanda Dengan Onde-Onde

Meski "dakwah" nya ditolak oleh warga yang mayoritas santri, Syaikh Rodhi selalu berusaha dengan berbagai cara agar diterima. Sayangnya, pendapatnya yang dangkal mudah dipatahkan hanya oleh santri, belum sekelas kiai.

Dia merasa mendapatkan kesempatan bisa menguasai Masjid Menara peninggalan Sunan Kudus saat para kiai dan tokoh ulama di sekitar menara dipenjara oleh Belanda di zaman geger pecinan tahun 1918 M. Syaikh Rodhi pun menyebar pengumuman tantang debat dengan siapa saja dengan jaminan jika kalah harus mengikuti ajaran bid'ahnya.

Syaikh Rodhi tidak mengetahui kalau Kudus kulon adalah markas para santri, yang sudah dibangun Sunan Kudus sejak masih hidup. Ia mengira bila kiai Kudus banyak dipenjara artinya tidak akan ada lagi orang alim yang bisa melawannya. Dia tidak mengetahui peta bahwa Kudus kulon itu banyak orang alim yang kealimannya tidak nampak karena kalah dengan pamor mahabbah dan haibah Sunan Kudus.

Tantangan Syaikh Rodhi direspon oleh seorang alim yang tidak ikut dipenjara Belanda karena dianggap bukan sebagai tokoh penting. Namanya Kiai Hamid, yang oleh Kiai Sya'roni Ahmadi disebut dengan gelar populer Kiai Hamid Cap Catut.

Kiai Hamid siap debat dengan Syaikh Rodhi dengan satu syarat: yang kalah harus keluar dari Kudus dan tidak boleh kembali selamanya. Syarat itu dipenuhi. Perdebatan ini ada yang menyebut terjadi di Masjid Menara Kudus, yang disaksikan oleh banyak orang.

Baca: Melampaui Hukum Barakah Foto Selfie Bersama Kiai

Kalah dalil, Syaikh Rodhi akhirnya harus keluar dari Kudus dan pergi entah kemana karena memang tidak diketahui asalnya. Kudus pun akhirnya terselamatkan dari pengaruh wahabi yang mengharamkan amaliyah ahlussunnah wal jama'ah, hingga sekarang.

Untuk mengenang peristiwa penting tersebut, Kiai Hambali atau Kiai Kamal (Kamal adalah nama ubahan setelah dipenjara Belanda, mukim di Damaran, belakang makam Sunan Kudus), mendokumentasikan dalam kalimat bahasa Arab,

ماتت البدعة بقيام حجة لأهل السنية

Artinya:
"Bid'ah sudah mati (seiring) ditegakkannya hujjah untuk ahli suni". 

Bila dijabarkan, ajaran bid'ah yang pernah disebar pertama oleh Syaih Rodhi di sekitar Menara Kudus sudah mati sejak dia kalah debat penuh dalil dengan Kiai Hamid Cap Catut yang membuktikan kebenaran ajaran ahlussunnah wal jama'ah.

Kalimat tersebut terukir di dalam Masjid Menara Kudus. Ini gambarnya:

penyebaran wahabi abad 19 di kudus
Artinya: bid'ah sudah mati (seiring) ditegakkannya hujjah untuk ahli suni

Dalam manuskrip di atas, tertera angka 1344. Kiai Kamal menyusun kalimat dokumentatif tersebut bukan hanya sebagai ungkapan penuh makna, tapi juga sangkakala yang menunjuk tahun kelahiran Nahdlatul Oelama (NO) 1926 yang bertepatan dengan 1344 H.

Baca: [In Memoriam KH Choirozyad Tajussyarof] Separuh Ramadhan Pergi, Guruku Kembali Pada-Nya

Artinya, kelahiran NU pada tahun 1344 H adalah penanda "matinya" ajaran wahabi berkembang menjadi ideologi agama yang akan terus ditolak oleh NU, terbukti hingga sekarang. Cara hitung kalimat di atas menjadi angka, Anda harus paham model hitung Abajadun berikut ini.

dokumen sejarah masjid menara kudus
Hitung Abajadun kalimat matinya bid'ah dari Kiai Kamal Kudus. (Tulisan Gus Injung Choirozyad).

Mbah Kiai Turaichan Adjhuri Tajussyarof juga pernah menghitung jumlah kalimat di atas dengan tulisan yang saya dapatkan, berikut ini:

sejarah geger pecinan kudus 1918
Naskah tulisan KH. Turaichan Adjhuri menghitung kalimat dokumentatif Kiai Kamal (dari KH. Najib Hasan)

Kalimat matinya bid'ah di Kudus itulah yang dulu, ketika masih mondok di Kudus sering diucapkan oleh KH. Sya'roni Ahmadi dalam tiap-tiap ceramahnya dalam acara peringatan kelahiran Nahdlatul Ulama'.

Cerita Syaikh Rodhi mengingatkan pola dakwah ala ustadz wahabi di Indonesia zaman now yang selalu gagal dan kalah debat dengan kiai NU tapi tetap saja ndubleg dengan hujjah dangkalnya. Mereka banyak yang tidak paham kekayaan khazanah pesantren yang luas dan dalam. [badriologi.com]

Keterangan: 
Esai ini saya tulis berdasarkan keterangan Gus Nalal disertai hitung manual Abajadun dari Gus Injung yang mendapatkan naskah Mbah Ji Kudus dari KH. Najib Hasan. Cerita dilengkapi lagi saat bertemu dengan Gus Nalal di Getasrabi, Kudus, di tengah obrolan santai Halal Bihalal alumni Madrasah TBS 2005 (kelas C), Jumat (14 Juni 2019) malam. Cerita ini cukup populer di kalangan masyarakat Kudus kulon. 

contoh background acara halal bihalal
Foto Halal Bihalal alumni MA TBS 2005 kelas C IPS.