[In Memoriam KH Choirozyad Tajussyarof] Separuh Ramadhan Pergi, Guruku Kembali Pada-Nya

Saat salat janazah sebelum pemakaman (alm) KH Choirozyad Tajussyarof, 8 Juni 2018 
Oleh M Abdullah Badri

Harusnya, Jumat Wage ini (8 Juni 2018) adalah harapan hari yang saya tunggu sejak Kamis, 1 Ramadhan 1439 H. Pasalnya, saya akan khataman ngaji Kitab Nasho’ihul Ibad di hari ke-23 puasa itu bersama warga desa kampung saya yang sudah 5 kali Ramadhan saya baca khatam untuk kedua kalinya.

Namun, kabar itu menyentak saat siang hari jelang masuk masjid Jumatan siang tadi, kang Eko tetangga saya menyebut KH Choirozyad Tajussyarof kembali ila rahmatillah. Innalillah wa innal ilahi rooji’un.

Satu guru sepuh kami di Kudus dipanggil setelah sebelumnya, KH Abdullah Hafidz, guru tafsir Al-Qur’an pertama saya di TBS Kudus, juga wafat. Sebelumnya lagi, KH Abdul Bashir, guru Falak yang ngajari saya memprediksi gerhana bulan dan matahari, juga wafat, disusul Kiai Iskandar Dinata, guru Fisika saya yang sabarnya MasyaAllah.

Satu-persatu guru kami di TBS Kudus pergi. Dan saya sebagai santri Kiai Zyad selamanya, tidak bisa langsung hadir karena alasan kedonyan: khataman kitab di kampung. Hanya bisa kirim Fatihah puluhan kali untuk beliau.

Kifayatul Atqiya’
Semasa sekolah, saya tidak terlalu dekat dengan putra KH Turaichan Adjhuri tersebut. Saya hanya suka ngaji dengan beliau tiap sore Ramadhan, bandongan Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajil Ashfiya’ di masjid tertua di Kudus, Langgardalem (berdiri 1480 M), yang disebut-sebut sebagai rumah Sunan Kudus. 200 meter sebelah utara makam Sunan Kudus.

Kitab tasawuf ala syu’bil iman yang bahasanya ndakik-ndakik ini, bisa dijelaskan gamblang untuk para jamaah ngaji oleh Kiai Zyad. Saking mudahnya mencerna, saya sering hafal syair-syair rumit. Bukan karena syairnya, tapi karena bahasanya sudah saya tangkap, maknan wa lafdhan (makna dan lafalnya). Berkah ngaji dengan Kiai Zyad.

Coretan kitab saat ngaji dengan Kiai Zyad, bandongan ngaji saya dimulai dari halaman 39 sampai halaman 117, lima halaman sebelum lembaran akhir (shohifah: 121). Coretan saya menulis bahwa kitab saya beli senilai Rp. 6.000,-, dan mulai ngaji Jumat Wage, 2 Ramadhan 1420 H/10 Desember 1999 M.

kitab kuning irsyadul ibad

Dalam catatan ngaji di halaman 116 Kifayatul Atqiya’, saya sempat menulis angka 10 Ramadhan 1423 H (tidak sebut miladiyahnya).

Jarak waktu ngaji mulai halaman 39 hingga 116 itu, setidaknya 3 tahun. Banyak yang bolong tak ada tinta makna di kitab kuning karangan Syeikh Muhammad Syatho Ad-Dimyathi tersebut, karena seingat saya, pernah saya tinggal muter-muter dua tahun mengikuti kilatan pasanan zaman Gus Dur presiden (karena puasa libur full), ke Sarang dan Pati.

Jadi, saya ngaji bandongan ke Kiai Zyad itu sejak mondok di Tasywiquth Thullab Baletengahan, asuhan Mbah KH Ma’mun Ahmad, tahun 1998.

Pondok Mbah Yai waktu itu membebaskan para santri ngaji kemanapun. Ngaji ke Kiai Zyad adalah favorit saya usai pulang sekolah. Sore tiap Ramadhan. Malamnya ngaji di pondok tempat saya mikim, dengan KH Taufiqurrahman dan KH Dzi Taufiqillah.

kilatan ramadhan di kudus

Hanya saat Ramadhan saya bisa ngaji bandongan ke Kiai Zyad. Sementara di hari biasa, saya ngajinya muter-muter sekitar menara ke:

  1. Masjid Busyrol Lathif (Kitab Kasyifatus Saja syarah Safinatun Naja) bersama KH Hasan Fauzi (Maghrib), dan Tartil Qur’an dengan KH Muhammad Manshur (tiap Subuh habis ngaji di pondok). 
  2. Masjid Menara Kudus (Kitab Irsyadul Ibad) dengan KH Ma’ruf Irsyad (Selasa ba’da Maghrib), dan juga di Masjid Jagalan (kitabnya banyak, habis Maghrib).
  3. Asrama Muslimin Janggalan (Tafsir al-Ibriz) kepada KH Sya’roni Ahmadi (Senin malam ba’da Maghrib),
  4. Kenepan (Kitab Asybah wan Nadho’ir, Is’adur Rofiq syarah Sulam Taufiq, dll.), dengan Kiai Aniq (tiap sore).

Sayangnya, karena ngajinya sebagai santri kalong (tidak mukim), ngaji kitab-kitab tersebut tidak ada yang pernah selesai dari awal sampai akhir, kecuali ke Kiai Mahmud Junaidi, yang saya bersama teman-teman sepondok dulu ngajinya tiap Kamis sore – Sabtu pagi, di Gringging, Samirejo, Dawe, Kudus.

Puluhan kitab Nahwu, Shorof, Fiqih, Tauhid, Tibb, Sirah Nabawiyah, Ushulul Fiqh, saya lahap dengan cara bandongan kilatan full dengan Kiai Jun di Dawe. Tidak pulang jika belum selesai. Modal sangu Rp. 5000,- untuk ngaji 2 hari di sana.

Namanya kilatan, ngajinya ya cepet. Jarang ada caption tiap kalimat. Pokoknya ngaji. Kadang dikasi sanad silsilah hingga muallif (pengarang kitab). Kilatan itu jalan ngajinya kalbarqil lami’ (seperti kilat sambar).

Jika Tafsir Jalalain (ratusan halaman) saya ngaji dengan Kiai Said MUS Sarang selesai secara kilatan hanya 17 hari, maka, untuk menyelesaikan dengan cara bandongan, Kiai Zyad butuh bertahun-tahun untuk Kitab Kifayatul Atqiya’-nya yang jumlah halamannya 121.

Dan, alhamdulillah, saya bagian santri ngaji Kifayatul Atqiya’ Kiai Zyad, yang Matan Kitabnya, Qomi’uth Thughyan ala Syu’bil Iman, saya khatam dengan Mbah Yai Makmun Ahmad Kudus. Syair Qomi’ Thughyan dan Alfiyah inilah yang dulu jadi syarat saya lulus madrasah TBS tahun 2005 silam. Entah sekarang.

Setelah Silatnas
Zaman sekolah, saya tidak pernah mukhollid (dekat hingga nempel) dengan para asatidz dan masyayikh TBS. Hingga kuliah pun, saya tidak pernah menjadi murid atau mahasiswa kesayangan syeikh atau dosen, seperti mbah dan bapak saya kepada para guru beliau di Balekambang, Jepara.

Saya tipe orang yang kuatir jika guru yang dekat dengan saya, suatu saat justru akan menjauh karena barangkali, ada perbuatan yang tidak saya sengaja membuat hati terluka dan mengeluarkan sabda buruk. Itu yang saya jaga. Di kampus, orang menyebutnya sebagai tabiat “bebas tekanan”.

Begitu pula dengan Kiai Zyad. Banyak teman saya yang dekat beliau, tapi saya tidak ikut jalannya karena alasan “memilih lebih bebas”. Saya menjadi akrab dengan beliau tanpa sengaja menjelang Silatnas Alumni TBS tahun 2016 lalu, tepatnya saat saya sowan ke Kiai Zyad, dan teman-teman memperkenalkan nama saya dengan akhiran nama “Badri”.

Mendengar nama itu, Kiai Zyad langsung tanya man huwa badri? Saya jawab, bapak saya. Anehnya, Kiai Zyad tanya kabar bapak saya. Padahal, setahu saya, orangtua saya tidak pernah ngaji di TBS. Sekolah bapak saya di Diniyah Kradenan, Kudus.

Bukan hanya itu, Kiai Zyad sampe menyebut pak lek saya, Masdim. Katanya, bapak saya dan lek saya dulu pernah ngaji di Langgar Dalem. Saya klarifikasi, memang betul. Jadi, bapak saya, lek saya, dan saya, ngajinya sama-sama ke Kiai Zyad.

Kesimpulan saya, Kiai Zyad punya ingatan super lengket. Beliau inilah yang menyimpan data sejarah Madrasah TBS sejak zaman awal KH Turaichan Adjhuri menjadi guru termuda dari generasi murid pertama Madrasah TBS Kudus.

Beberapa esai tentang sejarah Madrasah TBS Kudus, saya tulis dari penjelasan KH Khoirozyad, hingga kadang saya kewalahan menanggapi respon pembaca karena ingin saya tulis apa adanya dari beliau. Publik banyak yang merespon sebaliknya.

Bukan hanya itu, ketika saya salah menulis keterangan beliau pun, atau kurang lengkap misalnya, beliau tidak membiarkan. Saya langsung dijapri Kiai Zyad lewat pesan WhatsApp. Diterangkan, ditulis. Tanpa menghakimi langsung.

Beliau yang guru saya, tak sungkan bertanya langsung jika ada hal penting dimana saya dianggap tahu. Ini terjadi berkali-kali. Hampir tiap hari, beliau mengikuti isu terkini. Buktinya, saya sendiri sering dikirim link berita. Agar saya baca, meski kadang yang dishare tulisan yang pernah saya tulis di situs saya sendiri.
Kilatan Ramadhan bersama KH Choirozyad Tajussyarof (alm) Ramadhan 1439 H
Saya menyimpulkan, Kiai Zyad adalah sosok kiai pembelajar dan pengingat tingkat tinggi. Ini ciri ulama akhirat karena cara ngajinya wiki, wira’i, sehingga ingatannya terjaga. Ta’lim Muta’allim menjelaskan, murid yang jauh dari maksiat, ilmunya dari masa kecil akan terus menyertai jadi sahabat. Afatul Ilmi, An-Nisyan. Begitu yang saya ingat dari kitab babon santri, Ta’lim. Tapi Kiai Zyad tidak begitu. Lha wong bapak saya ngaji tidak lama dengan beliau saja masih diingat namanya. Padahal sudah puluhan tahun lamanya.

Maaf Kiai, saya belum bisa menulis panjang “Mozaik Sejarah TBS” karena separuh Ramadhan ini pergi, semua harapan saya ikut pergi sejak kabar jenengan sowan ila rahmatillah saya dengar Jumat siang.

Muridmu masih kedonyan hingga tidak langsung sendiko dawuh menulis lengkap sejarah TBS yang dinamis, melingkar-lingkar dan tentunya, perlu diinventarisir serta diklarifikasi pasti.

Saya ngaji bandongan ke Kiai Zyad mulai Jumat Wage 10 Ramadhan, 19 tahun lalu (1999). Dan beliau sowan ila rahmatillah, Jumat Wage pula, 23 Ramadhan 1439 H. Saya mendoakan kiai agar dicatat sebagai ulama yang menginspirasi luar biasa, setidaknya kepada saya dan anak-anak saya.

Wafat panjenengan mengingatkan saya kepada simbah guru, guru simbah saya dan bapak saya: KH Abdullah Hadziq Balekambang, yang wafat pada Jumat bulan Ramadhan, saat Subuh menjelang, usai mengucapkasan “Wa’alikum Salam”. [badriologi.com]

Al-Fatihah ila hadrati:
KH Choirozyad Tajusyarof
KH Abdul Bashir
KH Abdullah Hafidz
Kiai Iskandar Dinata

Sumber: Abdalla Badri
Advertisement

Klik untuk komentar