Kisah Suraqah bin Malik - Asbabun Nuzul Surat Al-Ikhlash
Cari Judul Esai

Advertisement

Kisah Suraqah bin Malik - Asbabun Nuzul Surat Al-Ikhlash

M Abdullah Badri
Rabu, 17 Juli 2019

asbabun nuzul surat al-ikhlash
Ilustrasi penunggang kuda mencari jejak. Foto: istimewa. 

Oleh M Abdullah Badri

JIKA dalam bab Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlâsh sudah ada keterangan sedikit yang menyinggung makna dan tafsir ayatnya, esai kali ini membincang tentang bagian Kitab Al Mawâi’dlul Ushfuriyah berkaitan dengan Asbâbun Nuzul Surat Al-Ikhlâsh, tentang Kisah Suraqah bin Malik di masa Jahiliyah, berikut ini:

Di tengah Nabi Muhammad Saw. keluar ke Madinah (untuk hijrah), orang-orang kafir Makkah berkumpul di daerah Dârun Nadwah. Tepatnya di komplek kediaman Abû Jahal.

Mereka bersepakat, siapa saja yang bisa membawa/mengembalikan Muhammad (ke Makkah) atau membawa kepalanya (mati) disediakan hadiah 100 ekor onta indah yang matanya hitam bening.

Mendengar sayembara itu, Suraqah bin Malik tertarik, "aku tertarik tawaran kalian, kumpulkan saja hadiahnya (untukku)," sumbarnya.

Ia kemudian membuntuti perjalanan Nabi Muhammad Saw. hingga berhasil menemukan (jejak)nya. Tanpa pikir panjang, pedang yang sudah disiapkan untuk membunuh Nabi Saw. ia hunuskan. Tapi bumi tidak menghendakinya.

Atas ijin Allah Saw., bumi membuat Suraqah bin Malik tersungkur dari kudanya. Ia terperosok dalam pasir sedalam lututnya.

"Tolong...tolong aku!"

Nabi Saw. menolongnya. Tapi sesaat setelah ditolong, Suraqah bin Malik justru kembali hendak membunuh Nabi. Ia kemudian terperosok lebih dalam lagi ke pasir bersama kudanya, sedalam pusar perut.

"Tolong...tolong aku! Kali ini aku tidak akan mengulanginya lagi".

Kembali Nabi Saw. menolong Suraqah untuk kedua kalinya. Suraqah bin Malik turun dari pelana kuda, menghampiri Nabi Saw. yang masih di atas onta. Ia duduk, lalu berkata,

"Ya Rasullah, ceritakanlah, siapa sebenarnya Tuhanmu sehingga berkuasa melakukan seperti ini, (terbuat) dari emas atau perak-kah?"

Rasulullah Saw. kemudian menundukkan kepala, berdiam cukup lama, Jibril lalu turun dan berkata:

قُلْ (يا محمد) هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (سورة الإخلاص) فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا  يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ (يعني يخلقكم فيه اى في الرحم)  لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ(الشورى: 11)

Artinya:
"Katakanlah, Dia (Allah) adalah Maha Esa. Allah tumpuan segala harapan. Dia tidak berketurunan dan diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya". (QS. Al-Ikhlash: 1-4). (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri berpasangan dan dari jenis binatang ternak berpasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu (menciptakanmu lewat rahim). Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. As-Syura: 11).

Mendengar jawaban tersebut, Suraqah bin Malik berujar, "Ya Rasûlallâh perkenankan aku mengenal Islam," katanya. Ia kemudian masuk Islam dan menjadi muslim yang taat. Inilah sebab turunnya Surat Al-Ikhlâsh.

____________________________


Siapa Suraqah bin Malik? Nama lengkapnya adalah Suraqah bin Malik bin Ju’syum bin Malik bin ‘Amr bin Taim bin Mudlij bin Murrah bin Abdi Manaf bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan (segaris dengan keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim as.). Suraqah bin Malik hidup di lembah yang disebut Qadid/Qudaid, sebuah desa di pinggiran Kota Makkah.

Suraqah bin Malik berasal dari Bani Mudlij dan Kinanah, suku Bangsa Arab yang terkenal pandai mencari jejak di zaman Nabi Muhammad Saw. hidup. Karena itu, ia kemudian populer disebut dengan Suraqah bin Malik bin Ju’syum al-Mudliji/Mudlaji.

Secara fisik, Suraqah bin Malik berperawakan tinggi besar, bermata tajam dan merupakan seorang penunggang kuda handal yang sangat berpengalaman mencari jejak, sehingga dia dikenal banyak orang sebagai laki-laki yang biasa melewati jalan-jalan terjal dan sukar dilalui.

Karena kepandaiannya mencari jejak, dalam sejarah sîrah Nabi, Suraqah dikenal sebagai satu-satunya orang yang berhasil mengejar Nabi Saw. bersama Abu Bakar ra. saat tengah hijrah ke Madinah, sementara puluhan orang lainnya gagal melakukan hal yang sama.

Ceritanya lengkapnya begini: 
Saat Nabi Saw. mendapatkan perintah untuk berhijrah, Nabi dibantu oleh Sayyidinâ Ali bin Abi Thalib ra. dan Sayyidinâ Abu Bakar ra. Abu Bakar bertugas menemani Rasulullah Saw. di perjalanan agar selamat. Sementara Ali bin Abi Thalib bertugas mengganti Nabi Saw. di rumah, tidur.

Saat para kafir Qurays berhasil mengepung rumah Rasulullah Saw. di Makkah, genggaman pasir ditabur di atas kepala mereka masing-masing tanpa sadar, hingga mereka tertidur pulas, dan Rasulullah Saw. (dibantu Abu Bakar ra.) menyelinap sukses dan aman.

Tiga hari Rasulullah Saw. sempat berada di dalam goa Tsûr bersama Abu Bakar ra. sebelum kemudian disusul oleh ‘Amir bin Furaidhah, penunjuk jalan ke Madinah yang juga bekas budak Abu Bakar ra. Dua kuda tunggangan sudah dipersiapkan olehnya, untuk Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra.

Berjalan melalui pinggiran kota, pesisir Makkah, Rasulullah Saw. dikawal oleh golongan sahabat assâbiqunal awwalûn tersebut. Di jalan, Rasulullah Saw. terlihat selalu tenang dan terus berdzikir, menyebut asma agung Allah Swt. Tapi Abu Bakar ra. terlihat waspada. Ia selalu menoleh ke kanan dan kiri. Berjaga karena khawatir.

Saat menemui daratan tinggi dan jalanan sepi, Abu Bakar ra. menyilakan Rasulullah Saw. untuk berhenti dan beristirahat. Dengan tangannya, Abu Bakar ra. meratakan tanah tempat Rasulullah Saw. hendak istirahat. Di tengah istirahat, Abu Bakar ra. tetap waspada. Ia selalu melihat sekitar, keluar ke jalan sebentar untuk memastikan keamanan Rasulullah Saw.

Abu Bakar ra. sempat bertemu dengan seorang penggembala kambing yang diketahuinya berasal dari Makkah. Abu Bakar ra. diijinkan untuk mengambil air susu kambing gembalanya. Untuk keperluan rombongan Rasulullah Saw. MasyâAllah.

Bila di tengah perjalanan ada orang yang bertanya tentang Muhammad Rasulullah Saw., ia selalu menjawab diplomatis demi keamanan. Ini yang ia katakan kepada tiap penanya:

هَذَا الرَّجُلُ يَهْدِينِي السَّبِيلَ

Artinya:
“Orang ini menunjukkan jalan untukku”. (HR. Anas bin Malik).

Kata “penunjuk jalan” yang dimaksudkan Abu Bakar ra. adalah bermakna “jalan kebenaran dan kebaikan”. Tapi banyak orang mengira, penunjuk jalan adalah guide (pemandu), Rasulullah Saw. dianggap guide. Diplomasinya menyelamatkan perjalanan Nabi Muhammad Saw.

Kisah Suraqah Membunuh Nabi 

Kafir Qurays yang saat itu sudah merasa segera bisa membunuh Nabi Saw., jelas kehilangan jejak. Nabi Saw. dan Abu Bakar ra. sudah bergerak lebih jauh duluan. Geram, mereka berkumpul di Dârun Nadwah, yang letaknya satu komplek dengan rumah milik Abu Jahal, alias Abu Hakam.

Mereka sepakat menggelar sayembara, yang isinya: siapa saja yang berhasil membawa Nabi Saw. pulang ke Makkah, baik dalam kondisi hidup atau mati, akan diberi hadiah besar 100 onta yang harganya mahal. (Soal hadiah ini, ada yang meriwayatkan 100 ekor ontanya adalah onta pilihan, onta betina beranak). 

Suraqah bin Malik juga mendengar kabar sayembara berhadiah menggiurkan tersebut dari kaumnya, Bani Mudlij. Di antara Bani Mudlij tersebut, ada yang mengaku melihat rombongan Nabi Saw. berlalu. Tapi tidak ada yang memastikan siapa sesungguhnya rombongan yang baru saja lewat tersebut.

Rasulullah Saw. beserta rombongan memang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melewati pemukiman Bani Mudlij. Wajar jika ada di antara mereka yang melihatnya.

Suraqah bin Malik menduga bahwa rombongan tersebut memang Nabi Saw. dan Abu Bakar ra. Tapi, ia mengatakan kalau rombongan tadi adalah orang-orang yang sedang mencari barang (onta) hilang. Begitu kata Suraqah.

Diam-diam, dugaan itu hanya untuk meyakinkan kalau selain dia, tidak akan ikut mencari jejak perjalanan Nabi Saw. Hadiahnya lumayan bila untuk satu orang saja. Suraqah kemudian memerintahkan budak perempuannya membawa kuda tunggangan ke balik sebuah bukit.

Kau ikat kudaku di sana, jangan sampai kelihatan orang-orang, dan jangan lupa siapkan segala keperluan persenjataan yang aku butuhkan,” pinta Suraqah kepada budaknya.

Suraqah kemudian mengambil senjata (tombak dan panah, di Kitab Ushfuriyah disebut pedang), mengenakan pakaian besi, bersandang pedang dan kemudian keluar dari pintu belakang rumahnya. Agar tidak dicurigai siapapun, senjatanya disimpan rapat, sembari merunduk, berjalan menuju balik bukit dimana kudanya sudah diikat sang budak tadi.

Ia pacu kudanya secepat mungkin demi mengejar rombongan Nabi Muhammad Saw. Sayang, kudanya terjatuh, terjerembab dalam tanah pasir dan Suraqah terlempar dari punggung kudanya sedalam lutut kaki. Ia hardik kuda “sialan”nya itu.

Ragu meneruskan pengejaran, Suraqah bin Malik mengambil beberapa mata panah (yang belum diberi bulu) untuk mencari jawaban, “antara diteruskan (niatnya) atau tidak”. Dalam tradisi Jâhiliyah Arab kala itu, mata panah dan tombak biasa dijadikan alat  mengundi nasib masa depan tentang keberuntungan dan kerugian. Tradisi ini disebut dengan azlâm.

Jawaban atas azlâm Suraqah ternyata berkata: “jangan (diteruskan)”. Tapi karena ingin memenangkan sayembara, hasil azlâm itu tidak ia laksanakan. Dipaculah kembali kudanya hingga berhasil mendekat. Saking dekatnya, ia bisa mendengar dzikir dan doa Rasulullah Saw. yang selalu dilantunkan.

Kembali Suraqah gagal mendekat kepada Nabi Saw. Alih-alih mendekat, kuda yang ditungganginya justru tersungkur, dan kedua kaki kuda tunggangannya terjerembab dalam ke tanah pasir, tertanam dalam sedalam pusar perut Suraqah, terasa lekat seperti dipaku dalam tanah.

Matanya kelilipan akibat debu yang beterbangan di sekitar lokasi kudanya tersungkur. Suraqah turun dari kuda, dan menghardik kudanya lagi. Begitu bangkit, ada cahaya yang memancar dari bekas kaki kuda yang tertancap dalam di tanah tadi. Suraqah mulai yakin bahwa orang yang ingin dibunuhnya bukan sembarangan.

Oleh Suraqah, cahaya tersebut diyakininya sebagai tanda atas kemenangan perjuangan dan kebenaran Rasulullah Saw. di kemudian hari. Ia kemudian menyerah dan berjanji tidak akan mengganggu Rasulullah Saw. lagi.

وَوَقَعَ فِي نَفْسِي حِينَ لَقِيتُ مَا لَقِيتُ مِنْ الْحَبْسِ عَنْهُمْ أَنْ سَيَظْهَرُ أَمْرُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ جَعَلُوا فِيكَ الدِّيَةَ وَأَخْبَرْتُهُمْ أَخْبَارَ مَا يُرِيدُ النَّاسُ بِهِمْ وَعَرَضْتُ عَلَيْهِمْ الزَّادَ وَالْمَتَاعَ فَلَمْ يَرْزَآنِي وَلَمْ يَسْأَلَانِي إِلَّا أَنْ قَالَ أَخْفِ عَنَّا

Artinya:
"Setelah terjadi apa yang aku alami (gagal mengganggu mereka), dalam hati muncul keyakinan bahwa kelak, ihwal (perjuangan) Rasulullah Saw. akan menang. Aku berkata kepada Rasulullah Saw: “Sesungguhnya kaummu telah menjanjikan tebusan untuk dirimu”. Aku juga memberitahukan tentang keinginan banyak terkait Rasulullah Saw. dan rombongannya. Aku menawarkan (ambillah) bekal dan harta-benda(ku), namun keduanya (Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra.) tidak menanggapi tawaranku, dan juga tidak bertanya kepadaku. Beliau (Nabi Saw.) hanya mengatakan: “Rahasiakanlah tentang (perjalanan) kami”. (HR. Imam Bukhâri).

Abu Bakar ra. menyatakan tidak butuh semua harta benda dan persenjataan yang ditawarkan Suraqah, kecuali hanya diminta untuk mencegah mereka yang ingin menjera rombongan hijrah Nabi Saw. agar kembali ke Makkah saja.

Setelah pertemuan itu, Suraqah berjanji akan merahasiakan perjalanan Nabi Muhammad Saw. beserta rombongan dari kalangan kafir Qurays. Tapi ia meminta sebuah bukti perjanjian damai dari Nabi, yang kemudian oleh ‘Amir bin Furaidhah ditulis dalam sebuah kulit, yang isinya:

“Kelak Suraqah dijanjikan Nabi Muhammad Saw. memakai gelang kebesaran Raja Persia (Kisra bin Hurmuz) —yang waktu itu memiliki pengaruh besar di Jazirah Arab”.

Suraqah benar-benar melaksanakan janjinya. Sekembalinya ke Makkah, ia mengabarkan kalau rombongan Nabi Saw. sulit dicari dan memerintahkan setiap kelompok pencari jejak agar kembali, karena dia sendiri, —yang pandai mencari jejak pengelana saja— tidak berhasil.

Sayangnya, Abu Jahal (Abu Hakam) mengetahui pertemuan Rasulullah Saw. dengan Suraqah. Abu Jahal menghina Suraqah sebagai pengecut, tapi, inilah jawaban yang diberikan Suraqah, dalam bentuk sya’ir, yang artinya:

“Hai Abu Hakam, demi Allah, andai kau saksikan kudaku saat terperosok kakinya,
kau bakal yakin bahwa Muhammad adalah seorang Rasul yang membawa bukti (kebenaran), lantas siapakah yang dapat menghadapinya? Hentikanlah permusuhan kaummu terhadapnya, karena sungguh aku melihat tampak ada terang cahaya dakwahnya, dengan perkara yang semua orang akan berkeinginan (baik) bahwa seluruh manusia berdamai dengannya.”

Berkat perjanjian dengan Suraqah, Nabi Saw. berhasil lolos hingga ke Madinah bersama rombongan. Dan 10 tahun kemudian, Suraqah kembali kepada Nabi Saw. untuk menagih janji yang pernah diteken bersama.

Usai perang Hunain, Suraqah tiba-tiba datang berkuda ke tengah perkemahan para pasukan Nabi Saw. di Ji’ranah, sekembalinya beliau dari Haji Wada’ (haji perpisahan, terakhir dilakukan Nabi Saw.). Banyak sahabat mengira Suraqah hendak membunuh Nabi Saw., sebagaimana terjadi waktu awal Nabi Saw. hijrah.

“Berhenti! Stop!” Teriak para Sahabat Anshor. Tapi Suraqah tidak menghiraukannya. Ia menembus barisan pengaman utama hingga berhasil masuk menemui Rasulullah Saw. yang saat itu masih di atas onta.

“Saya Suraqah bin Malik ya Rasul. Ini tulang bertulis perjanjian panjenengan dengan saya waktu itu,” kata Suraqah sambil menunjukkan perjanjian tertulis di atas kulit.

“Mendekatlah Suraqah! Ke sinilah! Hari ini, adalah hari menepati janji dan hari berbuat baik,” kata Rasulullah Saw.

Saat berhadapan dengan Rasulullah Saw. inilah Suraqah menyatakan masuk Islam. Namun, sembilan bulan setelahnya, Suraqah bin Malik ditinggal wafat oleh Rasulullah Saw. Ia kecewa tidak berkumpul lama sebagai sahabat Nabi Saw. Lebih kecewa lagi kala mengingat masa lalunya yang ingin membunuh Nabi Saw. dengan hadiah 100 ekor onta.

“Bagaimana (perasaanmu) jika engkau Suraqah memakai dua gelang kebesaran Kisra?”

Ia ingat betul, saat perjanjian itu ditulis, Rasulullah Saw. pernah bersabda begitu sambil tersenyum, meski ia tak sepenuhnya mengerti apa yang disabdakan itu, kala itu, sebelum Rasullah Saw. melanjutkan perjalanan hijrah. Tapi Suraqah yakin, suat saat nanti ia akan mengenakan gelang kebesaran Raja Persia tersebut.

Di zaman kekhlifahan Sayyidinâ Umar bin Kahttâb, pasukan umat Islam berhasil dalam perang melawan kerajaan yang sudah berjaya ratusan tahun, yakni Persia.

Teringat kisah Rasulullah Saw. dengan Suraqah, Umar ra. lalu mencari dua gelang ghanimah (jarahan perang) yang bertumpuk. Umar ra. kemudian memanggil Suraqah, "Pakailah dua gelang ini, naiklah ke mimbar dan angkat tanganmu, lalu katakan: Maha Benar Allah dan Rasul-Nya".
   
Penuh haru, Suraqah melakukan apa yang diperintahkan Khalifah Umar ra. Apa yang dikatakan Nabi Saw. sepuluh tahun lalu, benar-benar terbukti. Suraqah bin Malik radliyallâhu anhu wafat pada tahun 24 H, tahun-tahun awal saat Sayyidinâ Ustman bin Affan menjadi khalifah menggantikan Umar ra. Al-Fâtihah! [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi Ngaji malam Kamisan (Kliwon), 14 Rajab 1440 H/20 Maret 2019.