Sejarah Portugis Menjajah Indonesia Hingga Terusir dari Sunda Kelapa (10)
Cari Judul Esai

Advertisement

Sejarah Portugis Menjajah Indonesia Hingga Terusir dari Sunda Kelapa (10)

M Abdullah Badri
Senin, 09 September 2019

sejarah perang adipati unus dengan portugis hingga wafat
Portugis masuk menyerang wilayah Indonesia hingga menaklukkan Pasai dan memunculkan kekhawatiran Kerajaan Demak dan Sultan Mukhayyat Syah, Aceh. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

PORTUGIS (Portugal) pernah mengalami desakan dari umat Islam saat negaranya direbut oleh Bangsa Turki tahun 1453. Karena itulah orang Portugis sangat membenci orang-orang Islam. Yang merebut negara tidak dilihat sebagai bangsa, tapi sebagai kelompok agama.

Bangsa Portugis memiliki tabiat selalu memusuhi tiap-tiap umat Islam, tanpa memedulikan atas nama bangsa mana berasal. Karena itu, saat Indonesia masyhur dikenal sebagai negara Islam, yang tanahnya juga subur loh jinawe, Portugis menyerbu Indonesia. Kebetulan saat itu Indonesia sedang lemah akibat timbulnya perpecahan. Para wali yang selama ini menjadi tokoh (berpengaruh) juga banyak yang wafat.

Tahun 1511, Malaka pun berhasil ditaklukkan oleh Portugis. Umat Islam beserta para pemimpinnya terusir hingga ke Andalus, Aceh, Sulawesi dan Jawa. Sultan Demak khawatir. Untuk mengusir Portugis, pada tahun 1512, Demak mengirim angkatan laut terkuatnya, dipimpin langsung oleh sang putra, Laksamana Adipati Unus.

Baca: Sejarah Singkat Raden Fatah Sunan Bintoro Menyerang Majapahit (9)

Terjadi pertempuran sengit. Melihat persenjataan Portugis yang lebih kuat dan lebih modern, Adipati Unus memilih kembali untuk memperkuat tanah air Jawa. Saat Raden Fatah wafat pada tahun 1518, Adipati Unus menggantikan posisi sebagai sultan, dan selanjutnya diteruskan oleh Pangeran Trenggono.

Pada tahun 1531, Spanyol juga menyerbu wilayah Indonesia hingga berhasil menguasai tanah Halmahera. Semakin lama, wilayah jajahan Portugis semakin modot (luas) hingga Sultan Muhayyat Syah, Raja Aceh, mulai khawatir kala Portugis dikabarkan sudah menguasai Pasai.


Kiai Palitihan (Fathullah/Fatahillah) harus mengungsi ke Demak hingga ia diambil Raden Fatah sebagai menantu. Oleh Demak, Kiai Palitihan diberi mandat mengusir bangsa Portugis. Pada tahun 1522, Portugis akhirnya berhasil diusir dari Sunda Kelapa (Jakarta).

Kiai Palitihan akhirnya diangkat menjadi Sultan di Cirebon dengan gelar Sunan Gunungjati (wafat tahun 1570).

Demikian terjemah halaman 26-28 Kitab Tarikh Auliya' KH. Bisri Musthofa. Rampung ditulis pada Senin dini hari, 9 September 2019, pukul 00.55 WIB. Terjemah selanjutnya berjudul: Perpecahan Mataram, Perang Diponegoro dan Pemberontakan Zaman Pergerakan RI. [badriologi.com]