Sejarah Singkat Raden Fatah Sunan Bintoro Menyerang Majapahit (9)
Cari Judul Esai

Advertisement

Sejarah Singkat Raden Fatah Sunan Bintoro Menyerang Majapahit (9)

M Abdullah Badri
Senin, 09 September 2019

biografi para walisongo dan raden fatah demak
Sejarah singkat Raden Fatah di Palembang hingga ke Ampel dan menjadi Sultan di Kerajaan Demak hingga akhirnya menyerang Majapahit karena pilihan politik yang realistis atas munculnya para adipati yang siap membelot. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

SEBAGAIMANA sudah dijelaskan sebelumnya, Raden Fatah adalah putra Majapahit dari Ibu asal Campha (Baca: Silsilah Raden Fatah bin Kertawijaya Hingga Nabi Adam). Dengan Raden Rahmat, Raden Fatah terhitung saudara misan (satu kakek).

Diceritakan. Kala Raden Fatah masih dalam kandungan, ada konflik kecil antara sang raja dan nyai ratu pademi (permaisuri) ketika Putri Champa sedang mengandung seorang anak. Pademi tidak mau bertemu suaminya, sang raja, karena ia cemburu berat. 

Saat ada acara sowan antar adipati ke kerajaan, Adipati Palembang (Arya Damar), ikut serta dalam agenda penting kerajaan Majapahit tersebut. Kepada Arya Damar, Prabu Kertawijaya berkata begini:

"Kamu akan saya berikan anugerah seorang putri dari Champa. Saya akan berikan, tapi karena dia sekarang sedang hamil, kamu saya beri pesan (weling/fatah) agar tidak "mengumpulinya" sebelum dia melahirkan," kata sang Prabu yang dijawab sendiko dawuh (iya) oleh Arya Damar.

Sang putri pun diajak ke Palembang. Tak berapa lama sang putri melahirkan bayi, yang kemudian diberi nama (oleh ibunya) dengan sebutan Raden Hasan. Setelah melahirkan Hasan, sang putri dinikah oleh Arya Damar dan melahirkan seorang putra bernama Raden Husain.

Ketika menginjak dewasa, Raden Hasan mulai berpikir tentang siapa ayah biologisnya, yang sesungguhnya. Munculnya pertanyaan tersebut diawali dari seringnya Arya Damar yang acap terpeleset memanggil Raden Fatah (Hasan) dengan sebutan "adimas" (adik saudara).

Baca: Kisah Maulana Ishaq Menikahi Dewi Sekardadu Blambangan hingga Lahir Raden Paku (6)

Kepada sang ibu, Raden Hasan sering menanyakan siapa ayah sesungguhnya. Makin penasaran saja karena sang ibu tidak menjawab dan justru menangis tersedu. Raden Fatah makin mendesak, tapi sang ibu bersikukuh tidak mau mengeluarkan pernyataan sama sekali.

Keingintahuan Raden Fatah yang tidak segera mendapatkan jawaban dari sang ibu membuat dia sedih dan prihatin hingga tidak mau makan dan tidur. Tentu saja sang ibu ikut prihatin melihat anaknya bersedih.

Merasa kasihan, sang ibu akhirnya menceritakan semuanya; mulai perpindahannya dari negeri Champa hingga akhirnya hidup di Palembang. Sang putra mendengarkan dengan baik penjelasan sang ibu, sambil sesekali meneteskan air mata.

"Kanjeng Ibu, bila begitu, aku mohon dengan sangat supaya ibu mengijinkanku bertemu dengan ayahanda, dimanapun berada, saya akan temui, dan tidak akan kembali sebelum berhasil bertemu dengan beliau," pinta Raden Fatah usai mendengarkan cerita dari sang ibu.

"Anakku, bagian hatiku, walau dengan berat hati, tapi karena kesungguhanmu, ibu mengijinkan. Tapi ibu berpesan agar engkau datang ke Ampeldetan dulu, menjadi santri beberapa tahun di sana. Dekatlah dengan saudaramu, Raden Rahmat, supaya engkau mendapatkan bekal ilmu utama. Ibu hanya mendoakan dari rumah, tiada lain semoga maksud-maksud baik dikabulkan oleh Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Maha Pencipta Jagad Maujud)," jawab sang ibu.

Begitu mendengar Raden Hasan akan berkelana, adiknya, Raden Husain, ternyata berkehendak ikut. Keduanya mendapatkan ijin berkelana, dan bersama-sama, mereka bertolak menuju Ampeldenta. Di Ampeldenta, mereka diterima dengan hangat oleh Raden Rahmat. Keduanya diajari ilmu aqa'id dan syariat. Raden Hasan (Fatah) nampak lancar belajarnya - mudah menerima pelajaran.

Beberapa tahun kemudian, keduanya meminta ijin untuk sowan ke Majapahit. Raden Rahmat mengijinkan tapi dengan syarat harus segera kembali ke Ampeldenta meneruskan ngaji sampai rampung.

Setelah beberapa bulan Raden Hasan di Majapahit, ia mohon ijin pulang ke Ampel, sesuai syarat sang guru. Namun, adiknya, Raden Husain, tidak ikut. Sepertinya dia lebih betah di Majapahit. Raden Fatah melanjutkan ngaji di pesantren Ngampel hingga menjadi alim allamah dan dijadikan menantu oleh Raden Rahmat.

Setelah alim allamah, atas usulan para wali, Raden Fatah diangkat sebagai Adipati Bintoro Demak. Saat Sunan Ampel wafat, para wali yang takziyah di Ampel saling berembug menetapkan sosok pengganti Sunan Ampel. Para wali sepakat (muwafaqah) menetapkan Raden Fatah sebagai pengganti Sunan Ampel. Baca: 16 Wali yang Takziyah Wafatnya Sunan Ampel.

Selain menjabat sebagai adipati, Raden Fatah juga mendirikan pesantren di Bintoro Demak. Saking banyaknya santri (hingga jumlahnya ribuan), Raden Fatah lebih ternyata mementingkan urusan ngaji. Kesibukan kadipaten terbengkalai. Banyak perintah-perintah dari Majapahit yang tidak segera terlaksana hingga memunculkan kecurigaan kerajaan.

Raden Fatah Menyerah Majapahit?


Raden Fatah dikabarkan pihak Majapahit hendak membelot dan akan memberontak. Sang Prabu Majapahit akhirnya memerintahkan penangkapan Raden Fatah secepatnya. Baca: Halusnya Cara Dakwah Para Wali di Indonesia (8).

Sang senopati, Raden Husain (saudara seibu lain ayah) menyerbut Demak. Terjadilah pertempuran antara pasukan Majapahit dan Bintoro. Para wali berdiri membela dan membantu Raden Fatah, hingga akhirnya Sunan Ngudung dan Sunan Kudus gugur syahid dalam medan pertempuran.

Menurut satu riwayat, saat itu sebetulnya sudah banyak adipati yang ingin membelot. Begitu mendengar ada pertempuran antara Majapahit dan Bintoro, mereka mengambil kesempatan masing-masing untuk merebut kekuasaan ke Majapahit.

Karena sejak awal Bintoro tidak berniat merebut kekuasaan, sikap politik pihak Bintoro cukup bijaksana dan waspada. Bintoro berpendapat, daripada Majapahit direbut oleh kadipaten lain, lebih baik direbut sendiri. Apalagi Bintoro melihat jumlah pasukan Majapahit yang hampir seluruhnya dikerahkan ke Bintoro Demak. Artinya, Majapahit sendiri sedang sepi penjagaan militer ketat (pathing kelendhang).

Karena itulah, meski pasukan Majapahit sudah bisa dipukul mundur, pasukan Bintoro terus merangsek saja menuju Majapahit hingga Raden Fatah berhasil merebut Majapahit sebelum direbut oleh orang lain, adipati lain.

Sayangnya, sebelum pasukan Bintoro sampai ke Majapahit, sang raja sudah melarikan diri terlebih dulu ke arah Timur. Segenap pusaka Majapahit pun dipindahkan ke Demak. Bila datang ke Masjid Demak, pembaca bisa menyaksikan serambinya yang penuh dengan ukiran. Itulah Pendapa Majapahit yang ikut dipindah pada zaman itu.

Atas rekomendasi para wali, Raden Fatah terpilih sebagai seorang Sultan di Bintoro. Atas dukungan para wali juga, pemerintahan diatur dengan giat dan sistematis, keamanan dijaga, kemakmuran disempurnakan, pembangunan besar-besaran atas masjid juga disokong dengan penuh gotong-royong, dipimpin oleh para wali dan ulama.


Barisan prajurit disusun kuat. Angkatan militer darat dan laut juga demikian. Barisan penerangan (muballighin) syariat Islam tidak lupa dibangun dan berjalan baik tanpa rintangan. Para ulama dan wakil pemerintah (umara') saling berjalan beriringan.

Semua itu bertujuan untuk membangun kemaslahatan umat dan masyarakat. Meski hanya sebentar saja Kerajaan Demak menjadi kerajaan yang kajen kiringan (dihargai dan semuanya berjalan beriringan), tapi Indonesia sudah terkenal sebagai negara Islam. Tidak aneh bila hampir semua umat Indonesia dekat dengan sunnah.

Kasultanan Demak berdiri mulai tahun 1478 hingga 1518 M (40 tahun). Hanya sebentar Raden Fatah menduduki jabatan sebagai sultan.

Demikian terjemah halaman 19-26 Kitab Tarikh Auliya' KH. Bisri Musthofa. Rampung ditulis pada Ahad, 8 September 2019, pukul 23.58 WIB. Terjemah selanjutnya berjudul: Sejarah Portugis Menjajah Indonesia Hingga Terusir dari Sunda Kelapa. [badriologi.com]