Kisah Maulana Ishaq Menikahi Dewi Sekardadu Blambangan hingga Lahir Raden Paku (6)
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Kisah Maulana Ishaq Menikahi Dewi Sekardadu Blambangan hingga Lahir Raden Paku (6)

M Abdullah Badri
Minggu, 08 September 2019
Loading...

cerita kelahiran sunan giri raden paku dalam sejarah gresik
Sejarah singkat Sunan Giri lahir dari ibunda Dewi Sekardadu putri Raja Blambangan. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

DEWI Sekardadu, Ibu Sunan Giri adalah putri dari Minak Sembuyu (Raja Blambangan) bin Minak Pragala bin Bambang Pengging bin Bambang Wajana bin Raden Siung Wanara, putra Raja Mundiwangi.

Diceritakan, dari istri Permaisuri (Pademi), Raja Pajajaran Mundiwangi memiliki tiga putra, yakni: Raden Ayu Himuk, 2). Raden Ayu Retna Kusuma, 3). Raden Suruh (eyang Raden Fatah). Selanjutnya, dari istri Ampiyan (selir), ia memiliki satu putra bernama Siung Wanara.

Bambang Pengging tidak bisa dihentikan oleh Majapahit hingga akhirnya dia memilih pindah (bertempat tinggal) di Semeru sampai memiliki banyak keturunan. Dari sinilah anak keturunannya mendirikan Keraton Blambangan.

Diceritakan pula, ketika Raden Rahmat mendirikan pesantren di Ampeldenta, Maulana Ishaq dari Pasai -saudara Maulanan Ibrahim Asmara-, datang ke tanah Jawa untuk tabligh Agama Islam sekaligus menjenguk keponakannya itu di Surabaya.

Baca: Silsilah Raden Fatah bin Kertawijaya Hingga Nabi Adam as (3)

Maulana Ishaq menaiki sebuah perahu milik seorang juragan di Gresik (saat ini beliau sudah memiliki dua putra; Sayyid Abdul Qadir dan Siti Sarah). Dari Gresik beliau bertolak menuju Ampeldenta, Surabaya.

Sesampinya di Ampel, Raden Rahmat sedang berjama'ah Shalat Ashar yang kebetulan hanya tiga santrinya yang menjadi ma'mum, yakni Wiraraja, Abu Hurairah dan Ki Bang Kuning.

Saat Maulana Ishaq bertemu dengan Raden Rahmat inilah mereka berbagi tugas (dakwah). Maulana Ishaq sempat tinggal di Ampel beberapa bulan lamanya sebelum beliau kembali melanjutkan perjalanan dakwah agama ke berbagai tempat.

Merasakan beratnya jalan dakwah, -saat itu penduduk Jawa mayoritas beragama Budha dan Hindu-, Maulana Ishaq akhirnya bertapa, tirakat di Gunung Selangu Banyuwangi.

Dewi Sekardadu, putri Minak Sembuyu Raja Blambangan sedang sakit keras, yang tidak bisa diobati dengan segala jenis obat. Sayembara digelar. Siapa saja yang bisa menyembuhkan sang putri akan dijadikan menantu dan diberi separo wilayah kerajaan.

Mendengar sayembara itu, Maulana Ishaq merasa bersyukur bahwa pertolongan Tuhan akan segera datang. Cita-cita penyebaran agama Islam akan segera tercapai.

Singkat cerita, Maulana Ishaq mengikuti sayembara tersebut dan terbukti berhasil menyembuhkan Dewi Sekardadu hingga sehat. Akhirnya Maulana Ishaq dijodohkan dengan sang putri serta diberi separo tanah kerajaan. Apa yang dicitakan oleh Maulana Ishaq tercapai. Semua daerah di bawah kekuasaannya memeluk agama Islam.

Raja Blambangan Tidak Mau Masuk Islam 


Meski begitu, Maulana Ishaq masih terus berjuang mengingat sang Raja belum berislam. Ia membujuk sang raja secara intensif tapi tetap saja belum mau memeluk agama Islam. Bahkan sang raja justru marah dan sempat menghunuskan pedang ingin membunuh Maulana Ishaq.

Maulana Ishaq akhirnya kabur dari Blambangan. Sementara istrinya, Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan. Ihwal kesedihan dan tangisan sang putri tidak perlu diceritakan di sini.

Tak lama kemudian, pasca pelarian Maulana Ishaq, turunlah bala' di Blambangan. Banyak yang sakit di sore hari, paginya meninggal. Yang sakit di pagi hari, sorenya meninggal.

Karena sulitnya obat, Raja Blambangan beranggapan bahwa penyebab penyakit pagebluk tersebut adalah anak yang dikandung Dewi Sekardadu. Ia bersumpah, bila anak itu lahir akan dilarung olehnya ke samudra.

Benar nian. Begitu sang cucu lahir ia dibuang ke lautan luas dengan sebuah peti, hingga sampailah ke daerah Gresik. Peti itu kemudian ditemukan oleh seorang janda bernama Panatih. Si bayi dalam kondisi sehat dan bersih. Bayi itu dirawat penuh kasih olehnya dan diberi nama Raden Paku, yang di kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Sunan Giri Gresik.


Menurut sebagian riwayat, ketika ke tanah Jawa, Maulana Ishaq datang sendirian, tidak disertai putranya. Barulah ketika melarikan diri dari Blambangan dan kembali ke negerinya, Pasai, Maulana Ishaq memerintahkan kedua putranya, Sayyid Abdul Qadir dan Dewi Sarah, untuk datang menjenguk saudara misananya, Raden Rahmat.

Maulana Ishaq sendiri wafat di Pasai.

Demikian terjemah halaman 12-15 Kitab Tarikh Auliya' KH. Bisri Musthofa. Rampung ditulis pada Ahad, 8 September 2019, pukul 20.42 WIB. Terjemah selanjutnya berjudul: Silsilah Sunan Gunungjati dan 16 Wali yang Takziyah Wafatnya Sunan Ampel (7). [badriologi.com]

Loading...