Halusnya Cara Dakwah Para Wali di Indonesia (8)
Cari Judul Esai

Advertisement

Halusnya Cara Dakwah Para Wali di Indonesia (8)

M Abdullah Badri
Minggu, 08 September 2019

raja yang tidak mau masuk islam setelah didakwahi para wali
Cara dakwah para wali di Indonesia selalu halus dan tidak pernah mengganggu penguasa dan adipati setempat. Bahkan hampir semua para raja kala itu memiliki menantu seorang pendakwah Islam. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

SETELAH berpulangnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. ila rafiqil a'la pada tanggal 8 Juni 633, para sahabat dan tabi'in meneruskan perjuangan Nabi Saw. tabligh menyebarkan agama Islam hingga tersebar ke seluruh dunia dan pernah mengalami zaman keemasan, yakni kala negara dan umat saling dihargai dan berjalan beriringan.

Para mubaligh dan pendakwah Islam sangat banyak yang berkelana mensyiarkan agama Islam. Indonesia juga tidak ketinggalan disinggahi oleh para mubaligh ulung, yakni para wali, seperti Maulana Ibrahim Asmara (ayah Raden Rahmat), Raden Rahmat Sunan Ampel sendiri, Maulana Ishaq, Syarif Hidayatullah dan lain-lainnya.

Semua wali dan ulama' yang datang ke Indonesia itu tujuannya hanya tabligh (menyebarkan agama Islam). Bila ada yang berdagang, hal itu hanya sebagai sitir (tutup-samaran) saja.

Baca: Silsilah Maulana Ibrahim Asmarqandi hingga Sunan Ngudung (4)

Cara dakwah para wali itu sangat praktis. Para raja diajak duluan. Sebab, bila orang besar mau diajak, yang di bawah tentu akan mengikuti. Cara tabligh para wali dan pendakwah ketika itu juga sangat gigih hingga ditempuh dengan bertapa, menikah (dengan pribumi) dan cara-cara lain yang bertujuan tercapainya cita-cita.

Dalam berdakwah, para wali dan pendakwah juga tidak menganggu para raja (penguasa) dan adipati. Bila mau, mereka diajak memeluk agama Islam. Bila tidak, ya sudah. Karena itulah para raja dan adipati merasa sungkan dan luluh hati. Diceritakan, kala Sunan Ampel mengajak masuk Islam Prabu Kertawijaya Majapahit, sang prabu berkata:

"Sebetulnya, bila aku rasakan sendiri, agama Islam itu sangat bagus. Namun, aku terpaksa tidak bisa meninggalkan agama yang telah aku peluk sejak lahir dan agama yang sudah diyakini oleh nenek moyang".

Pembaca tentu bisa merasakan saat mengetahui nasab para wali dan pendakwah, sebagaimana telah ditulis (Baca: Silsilah Singkat Ustman Haji Hingga Siti Jenar Jepara). Bisa dibayangkan betapa giat dan halusnya cara dakwah mereka. Hampir semua raja memiliki menantu pendakwah.

Maka, bukan perkara aneh bila agama Islam di Indonesia (pada umumnya) dan tanah Jawa (khususnya), cepat mengalami persebaran yang luas.

Lihatlah, Sunan Ampel adalah trah Raja Champa, Sunan Giri keturunan Raja di Blambangan, Raden Fatah juga putra Raja Brawijaya, Sunan Kalijaga putra Adipati Wilatikta, Sunan Muria trah Adipati Wilatikta, Sunan Ngudung juga putra mantu Adipati Wilatikta.

Intinya, langkah dan pengaruh para wali dan pendakwah Islam sangat besar efeknya, alias nggenah (bisa dirasakan).


Demikian terjemah halaman 17-19 Kitab Tarikh Auliya' KH. Bisri Musthofa. Rampung ditulis pada Ahad, 8 September 2019, pukul 22.10 WIB. Terjemah selanjutnya berjudul: Sejarah Singkat Raden Fatah Sunan Bintoro Menyerang Majapahit (9). [badriologi.com]