Melampaui Hukum Barakah Foto Selfie Bersama Kiai

foto di pondok pesantren alquran di kudus
Mampir ke pondok usai sowan ke masyayikh TBS Kudus, Jumat (15 Maret 2019) malam.
Foto: dokumen pribadi. 
Oleh M Abdullah Badri

TRADISI silaturrahim santri kini tidak diisi dengan hanya meminta nasihat bijak dan doa. Ada juga santri, yang karena mendukung salah satu calon legislatif tertentu, bukannya diminta doa restu malah dijadikan objek kampanye “terselubung”.

Itulah pengalaman saya saat sowan bersama Saifuddin Zuhri, kawan masak di Pondok Pesantren Tasywîquth-Thullâb Kudus dulu, ke ndalem KH. Hasan Fauzi di Kudus, Jumat (15 Maret 2019) petang.

Ceritanya, karena Din Telo —panggilan akrab saya ke Saifuddin Zuhri, mendukung caleg DPRD II di Kudus, nama calegnya didzikirkan berkali-kali saat sowan. Seolah dia memprospek Kiai Fauzi agar mendukung calegnya. Tak mau kalah, Saifuddin pun akhirnya “diprospek” balik Kiai Fauzi untuk mendukung nama caleg di DPR RI. Ada-ada saja kelakuan santri.

Apakah hal itu tidak sopan? Ya tidak menurut saya. Itu hak masing-masing. Justru yang terjadi sore itu adalah lahirnya suasana akrab antara kiai dan santri meski berbeda soal urusan pilihan politik. Baca pesan Kiai Fauzi dalam esai: Peringatan Kiai Turaichan Kepada yang Merasa Mewakili Ulama.

Keakraban antara kiai dan santri bukan hanya bicara soal politik Pilpres 2019. Sore petang itu, Saifuddin juga meminta berkah. Bukan cuma berkah doa, tapi berkah selfie (swa-foto) bersama kiai. Ini bukti foto selfie bersama KH. Ahmadi Abdul Fattah dan KH. Hasan Fauzi.

foto selfie paling unik di kalangan santri
Selfie bersama KH. Ahmadi Abdul Fattah, Kudus, Jumat (15 Maret 2019) sore. Foto: dokumen pribadi. 
hukum foto selfie dengan lawan jenis
Selfie bersama KH. Hasan Fauzi, Kudus, Jumat (15 Maret 2019) petang. Foto: dokumen pribadi

Hukum Selfie Barakah

Selfie dengan kiai, kini bukan hanya aksesori, tapi juga syariat santri, yang menurut saya, hukumnya seolah sudah fardlu ā’in hampir mendekati wajib. Dulu, santri mendahului kiai bicara saja tidak berani dengan alasan kurang adab. Kini, santri milenial sudah melangkah, foto adalah syariat sowan kiai.

Dari foto, kata Saifuddin, berkah bisa kita dapat. Artinya, kesediaan kiai saat diminta selfie oleh santrinya adalah bagian dari keridla’an kiai. Berbeda ketika foto diambil nyolong tanpa request.

“Itu ghashab namanya, dan dosa secara santri,” ujar Saifuddin.

Baca esai lain dalam edisi sowan bersama, di postingan berjudul: Kebiasaan Mbah Makshum Lasem Sowan ke Para Santri “Ngisor Gedang”.

Selfie berbeda dengan cepret asal foto. Dalam selfie, ada kebanggaan tersendiri yang membuncah dari para santri.

“Apalagi kalau selfienya bersama hapenya kiai, wah, itu sudah bukan berkah lagi namanya, tapi keramat gandul, hahaha,” kata Saifuddin.

Karepmu Din, pakananmu Telo yo ngunu kuwi. Wkwkwk. [badriologi.com]

Klik untuk komentar