Kebiasaan Mbah Makshum Lasem Sowan ke Para Santri “Ngisor Gedang”

kiai ahmadi abdul fattah kudus dan kiai hasan fauzi tbs kudus
Senyum KH. Ahmadi Abdul Fattah (Kudus) saat para santri TBS sowan, Jumat (15 Maret 2019) petang.
Foto: dokumen pribadi.
Oleh M Abdullah Badri

LAMA tak bersua, santri TBS alumni 2005 silaturrahim ke para masyâyikh pada Jumat sore (15 Maret 2019). Sebelum ke KH. Hasan Fauzi, KH. Ahmadi Abdul Fattah adalah salah satu masyâyikh TBS yang saat itu disowan-i (dikunjungi) oleh 8 orang bolokurowo, saya termasuk di antaranya. Alhamdulillâh.

Laporan sowan ke Kiai Fauzi, silakan baca: Peringatan Kiai Turaichan Kepada yang Merasa Mewakili Ulama. Bulan sebelumnya, saat sowan ke masyayikh TBS lainnya, juga saya dokumentasikan dalam judul: Wirid dan Tirakat Kiai Mahmudi Besito Kudus Saat Babad Tanah MTs TBS

“Ini siapa kok saya pangling semua, TBS yah?” Sapa Kiai Ahmadi, yang juga pengasuh Pesantren Al-Fattâh, Kudus Kota.

Nggeh kiai, kami dari TBS angkatan 2005. Setiap sebulan sekali memang diagendakan silaturrahim ke para guru dan kiai-kiai yang mengajar di Madrasah TBS,” kata Saifuddin Zuhri, salah satu dari rombongan kami.

Alhamdulillâh, aku seneng banget kalian masih ingat saya. Apalagi kalian doakan,” ujar Kiai Ahmadi, yang kala itu nampak keberatan berjalan karena kakinya yang diserang penyakit.

Beliau hanya berpesan, apapun profesi kalian, yang penting bermanfaat, “tidak ada yang nganggur kan?”

“Kalau nganggur, yang jadi bos ini biasanya keluar mancing kiai, meniru Nabi Khidzir, kiai. Tiap hari dia mancing,” kata saya sambil menunjuk Arif. Kiai Ahmadi nggujeng (tertawa senyum), dan semuanya pun ikut tertawa karena ada yang meminta doa mancing agar berhasil. Haha.

Berkah silaturrahim, Kiai Ahmadi sejenak melupakan sakit yang selama ini diterimanya dengan ikhlâsh. Syafâkumullâh, ya syaikh!

Kisah Mbah Makshum Lasem

Tentang silaturrahim ini, KH. Hasan Fauzi yang kami sowan-i berikutnya mengisahkan Mbah KH. Makshum Lasem. Katanya, Mbah Makshum itu ahli silaturrahim, yang sulit ditiru oleh orang-orang sekarang. Bahkan oleh Kiai Fauzi sendiri.

“Mbah Maksum itu, dulu, kalau pondok sedang liburan sebulan, beliau sering silaturrahim kepada para santrinya hingga pernah saya ikuti sampai seminggu di Banyuwangi,” terang Kiai Fauzi, yang juga masih sekeluarga dari Lasem.

Itu dilakukan Mbah Makshum dengan naik bus, meski kadang pula sewa mobil dan sopir. “Zaman itu belum musim ada kiai punya mobil,” tambah Kiai Fauzi.

Terang saja para santri yang “disowan-i” kaget, senang, tapi juga segan. Tidak ada agenda apapun di sana. Hanya silaturrahim saja, dan kadang para santri lain se-daerah biasanya langsung berkumpul ke tempat Mbah Makshum menginap di rumah salah satu santrinya tersebut.

“Beliau tidak ngaji, ya memang silaturrahim saja,” jelas Kiai Fauzi.

Saking seringnya silaturrahim kepada para santri, Mbah Makshum sampai pernah berujar kepada Kiai Fauzi begini:

“Santri-santriku kok rumahnya banyak yang di bawah pisang (ngisor gedang) yah, tidak ada yang hidup di tengah kota”. Hahaha.

Masih adakah kiai yang sudi tilik (mengunjungi) santrinya hingga ke ngisor gedang begitu? Sebaliknya, mengapa kini justru para santri selalu minta doa dan ijazah kepada para kiai sepuh, meski beliau sakit? Mengapa mereka bukannya yang justru mendo’akan?

Kiai itu serba repot, jangan direpotin terus dengan meminta-minta doa. Doakanlah, berikanlah beliau dorongan agar istiqâmah, agar sehat, agar terus bisa memberikan spirit ilaAllâh. InsyâAllah, beliau senang. Dan itu, menurut saya, bagian daripada khidmah kepada guru. [badriologi.com]

Klik untuk komentar
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah