Tes Ombak Jejak dan Kisah Wali di Jepara -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Tes Ombak Jejak dan Kisah Wali di Jepara

M Abdullah Badri
Jumat, 01 Maret 2024
Flashdisk Ebook Islami

Jual Kacamata Minus
kisah dan jejak wali di jepara
Cover awal Buku Jejak Kisah Wali di Jepara 2024. Foto: dokumen penulis.


Oleh M. Abdullah Badri 


DALAM calon naskah buku berjudul "Jejak dan Kisah Para Wali di Jepara" (Seri I), setebal 330an halaman lebih, saya menulis puluhan kisah wali di Jepara yang versinya ternyata banyak yang sama dengan versi yang beredar pada umumnya walaupun diantaranya ada yang berbeda sejak dari nama. 


Buku yang masih dalam bentuk file PDF embrio terbit itu berisi setidaknya tentang sejarah auliya', diantaranya: 


  1. Kiai Rifa'i Ujungpara, Saripan (dari Persia)
  2. Kiai Manshur Syah Sutojiwo, Bondo (dari Malaka)
  3. Kiai Murwat, Bandungrejo (dari Kedawung, Cirebon)
  4. Syaikh Ja'far, Kiai Faqih Lob dan Kiai Rotib, Bandengan (dari Aceh dan Pati)
  5. Kang Mas Jeglong (murid Kiai Wasi Bandengan asal Kayen, Pati)
  6. Kiai Amir Hasyim + Juminah, Mantingan (dari Tlare, Jepara)
  7. Kiai Joyorekso Laduni, Karangkebagusan (dari Tuban)
  8. Kiai Surgi Manis/Anis Bin Yahya, Tegalsambi (trah dari Tarim, Yaman)
  9. Datuk Gurnadi/Bagus Gede Suratna, Singorojo (trah Aceh asal Gayaman, Buleleng, Bali)
  10. Kiai Sani Barkah, Troso (dari Mataram Yogyakarta)
  11. Ki Kusumodirjo Buyut Malang, Pecangaan (dari Kaligelis, Kudus)
  12. Datuk Kiai Madinah Hamzah Fansuri, petilasan di Lebak (dari Aceh)
  13. Kiai Hasan Majmur Sentono, Pecangaan Wetan (asal Demak)
  14. Nyai Mbirah, Sumanding (asal Sragen)
  15. Raden Sasi Senopati, Mindahan (asal Mataram Yogyakarta)
  16. Kiai Joyo Kusumo Raharjo, Dongos (lahir di Demak)
  17. Kiai Singo Blendang Karto Rajimin bin Joyo Kusumo, Suwawal (asal Dongos)
  18. Kiai Agung Alim, Tubanan (utusan Mataram era Belanda)
  19. Kiai Hasan Wiso Bisri, Bugel (lahir di Bugel)
  20. Kiai Tirto, Karimunjawa (asal Kudus)
  21. Sayyid Hafidh dan Datuk Sulaiman/Mbah Bucu, Bucu (dari Aceh dan Malaka)
  22. Tumenggung Cendol [Rekso Karsono], Margoyoso (asal Merapi)
  23. Demang Kiai Srigi/Demang Socodiwiryo Mursiti (sezaman Alim Agung, Tubanan)
  24. Mbah Margo Tiyoso, Margoyoso (asal Cirebon)
  25. Mbah Resi Kuning, Margoyoso (asal Daren, Kudus)
  26. Mbah Rawit, Margoyoso (asal Loram, Kudus)
  27. Kiai Joko Samudra, Cumbring (asal Galih, Priangan, Banten)
  28. Kiai Amiruddin Hamzah, Potroyudan (asal Madura)
  29. Kiai Hamid Jupri, Potroyudan (asli Potroyudan, punya murid Ahmad Hasyim bin Abdul Manaf asal Bugel, Jepara)
  30. Kiai Sholeh Anwar Pesajen, Potroyudan (asal Desa Binangun, Demak)
  31. Mbah Semboja, Demaan (murid Mbah Sabilan, asal Tlare, Jepara)
  32. Datuk Jokosare Asy'ari, petilasan di Ngabul (asal Aceh) 
  33. Datuk Kiai Subuh, Sidigede (asal Aceh)
  34. Ki Joko Tirto Jumeneng, Karimunjawa (asal Demaan, Jepara)
  35. Nyai Azizah/Mbah Jijah, Karimunjawa (istri Joko Tirto asal Mlonggo, putri Kiai Hasan Mahfudh, Mlonggo)
  36. Kiai Sareh Kartolo bin Karto Rajimin, Wonorejo (asal Dongos)
  37. Kiai Leseh Joko Glagah, Banyumanis (asal Jasinga, Bogor -dulu masuk wilayah Banten)
  38. Kiai Rohmat Hasyim [dikenal Sayyid Usman], Mandalika (asal Bugel, Jepara)
  39. Mbah Subandi (asal Dongos, murid Datuk Jokosare, Ngabul) 


Mbah Kiai Hasan Wiso Bugel hanya satu dari sekian profil waliyullah yang masuk dalam daftar cerita yang alhamdulillah ceritanya selesai saya tulis, walau dipastikan tidak sempurna, karena tentu masih banyak hal-hal yang perlu ditulis tapi saya tidak mampu menulisnya. Misalnya, nama ibu beliau dan guru-guru beliau. Yang tidak mampu saya tulis, tentu tidak akan saya karang.  


Namun, setidaknya, untuk menulis semua cerita auliya' di atas, kronologi sejarah waktu, pertemuan antar tokoh, konfirmasi fakta sejarah di zamannya, harus diupayakan sedemikian rupa hingga  sinkronisasi pemahaman orang saat ini bisa terjadi. 


Karena itulah, untuk cek fakta cerita yang saya tulis bisa dilakukan antara lain dengan mencocokkan tahun atau periode peristiwa, sambungan tokoh, bocoran nama desa, bocoran nama daerah, bocoran nama tempat, bocoran silsilah, bocoran nama makanan khas sesuai zaman, bocoran ilmu tauhid, bocoran sanadnya, atau lainnya. 


Yang pasti, tidak semua waliyullah memiliki kaitan langsung dengan kerajaan, penguasa, atau bahkan keturunan Rasulullah Saw. Jika semua wali sepuh di Jepara harus dikaitkan dengan hal-hal agung seperti kesaktian, kadigdayaan, kekuasaan, nasab, dll, hal itu justru seolah terkesan mengebiri qudrotullah Yang Maha Mutlak. 


Manusia yang dimuliakan Allah Swt menjadi auliya', ada yang justru awam soal syariat karena beliau muallaf. Contoh Mbah Buyut Malang Pecangaan, Mbah Gimbal (teman Datuk Jokosare, Ngabul) dan Mbah Subandi, Banyumanis, yang makamnya di Banyumanis diberi judul seolah sebagai maqbarah trah pendiri kerajaan. Ada pula mantan pemabuk berat yang bertaubat, laiknya Mbah Resi Kuning. 


Semua itu sama sekali tidak mengurangi kemuliaan mereka di sisi Allah Swt. Bila qolbunya bersih, Allah Swt tetap melirik mereka sebagai kekasih meskipun berpakaian kusut, compang-camping. 


Hampir dipastikan, semasa hidup, para wali memiliki karatker inti mau ber-istiqomah khidmah kepada umat dan memiliki pembimbing, guru, mursyid. Banyak wali -yang mungkin berpangkat wali umi- di Jepara, berhasil mengislamkan masyarakat Jepara hingga berjumlah ribuan. Inilah yang menjadikan mereka menjadi mulia di sisi Allah Swt dan Rasul-Nya, hingga diberi anugerah "al-hayat ba'dal mamat" tanpa mereka minta. 


Menurut data yang saya kumpulkan sejak 2016, di Jepara setidaknya ada 592 makam yang dikenal sebagai waliyullah di Jepara. Dan jumlahnya akan terus bertambah seiring data yang masuk dari jaringan Sarkub dan Nahdliyyin di Jepara. Sayangnya, banyak warga Jepara yang tidak mengenal hikayat maupun riwayat mereka. Termasuk hikayat Mbah Hasan Wiso, Bugel. 


Upaya menulis profil 500an wali bukan perkara mudah. Energinya banyak, dan tentu melahirkan kontroversi di bumi maupun laingit. Apalagi penulisnya seorang yang bodoh, yang pasti tidak semuanya mempercayai. Ditulis serapi dan sedatail apapun, salah paham atas tulisan, pasti ada. Sekelas Imam Ghazali saja, tulisannya dikritik sana-sini. 


Saya meyakini, ide yang sudah menjadi karya tulis sebetulnya telah membunuh penulisnya. Maka, karena telah mati setelah melahirkan karya, seorang penulis -siapapun dia- akan mengalami kematian berkali-kali, seiring kritik yang datang berkali-kali pula. 


Barangkali, buku "Jejak dan Kisah Para Wali di Jepara" belum akan saya terbitkan dalam waktu dekat. "Tes ombak" penerimaan isi buku masih belum luas diterima di Jepara, bahkan oleh juru kunci makam sendiri. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi baru diterima publik Jepara. Atau, bisa lebih cepat. Tergantung ombaknya seperti apa. Bila diterima, mungkin ada buku berseri yang mengikuti. Wallahu a'lam.[badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha