Senin, 24 Mei 2010

Pasar Tradisional Sebagai Rumah Budaya

Oleh M. Abdullah Badri

Pasar tradisional yang menjadi basis kegiatan ekonomi masyarakat bawah kini terancam dengan massifnya pembukaan pasar modern yang menawarkan kenyamanan lebih dan pelayanan ekstra semisal super market dan mall. Di banyak tempat, pasar tradisional mengalami penyurutan peminat yang begitu tajam.

Mall dijadikan pilihan belanja karena dianggap praktis, nyaman dan lebih sederhana untuk melakukan transaksi, karena adanya sistem pembayaran praktis di kasir dan penentuan harga pasti, tidak sebagaimana yang ada di pasar tradisional. Namun secara budaya, mekanisasi sistem ekonomi di sana tidak menawarkan kepuasan nilai budaya. Interaksi dagang berjalan kering, terkesan profesional dan tidak membawa pemaknaan baru secara interaktif, antara pedagang dan pembeli.

Meski di pasar modern orang bebas memilih barang yang ada, namun pembeli tidak bisa menawar harga yang dipampang. Semuanya berjalan di atas dominasi sistem pasar kapitalis. Barang yang sudah dibeli pun, tidak dapat dikembalikan, kendati tidak sesuai dengan peruntukan yang sesuai dan pas, misalnya. Membeli barang dagangan di mall atau di super market harus ada upaya inventarisasi terlebih dulu, jika tidak ingin mengunduh kekecewaan. Sebab, di sana tidak ada tempat untuk menampung kekecewaan. Sistem jual dan beli berjalan final di tempat.

Dominasi sistem kapitalis di pasar modern telah menghilangkan budaya kebebasan berinteraksi. Betul memang pelayanan di sana lebih memuaskan daripada di pasar tradisional, ditunjukkan dengan ekspresi para pelayan berseragam (yang kebanyakan perempuan) nan ramah dan murah senyum. Namun ekspresi tersebut tetap berjalan di atas tuntutan pasar, bukan atas persaudaraan kemanusiaan. Kita tidak akan menjumpai seorang kasir yang bertanya kepada pembeli tentang peruntukan barang yang telah dibelinya itu. Tentu jika hal itu dilakukan, akan memuaskan pembeli. Pembeli dianggap ada. Sayangnya tidak demikian.

Kearifan Lokal
Berbeda dengan sistem transaksi di pasar tradisional. Meski pedagang di sana mendapatkan keuntungan sedikit, atau bahkan merugi, namun tidak menjadi masalah asalkan bisa mendapatkan teman baru. Pepatah Jawa mengatakan: thuna sathak bathi sanak, yang artinya: meski rugi, namun tetap mendapatkan keuntungan berupa saudara baru (sanak). Inilah kearifan lokal dari pasar tradisional yang mulai tergerus oleh dominasi pasar kapitalis.

Calon pembeli di pasar tradisional juga tidak harus bersusah payah untuk menginventarisasi kebutuhan yang akan dibelinya terlebih dahulu, karena ada kebebasan untuk memilih antara meneruskan transaksi atau tidak, sesuai perjanjian. Seandainya pembeli merasa kurang puas, sewaktu-waktu ia bisa mengembalikan barang yang dibelinya tersebut kepada pedagang, tentu dengan persetujuan terlebih dulu. Dari sini kita bisa melihat adanya budaya saling menghormati dalam rangka mewujudkan kerukunan. Nilai inilah yang tidak kita dapati di pasar modern.

Di pasar tradisional tidak ada monopoli dagang, sebagaimana di pasar modern, dimana semua barang dagangan yang ada di sana dikuasai secara tunggal oleh pemilik mall. Dengan adanya mallisisasi, yang kemudian menggeser nilai-nilai luhur yang ada, masyarakat semakin pragmatis dalam melangsungkan interaksi antar sesama. Transaksi ekonomi mereka dilakukan sekadar memenuhi kebutuhan semata, tanpa memperhatikan nilai yang dapat diambil dari hasil interaksi tersebut. Bagi saya, pasar tradisional merupakan rumah budaya yang syarat nilai kearifan; berupa penghormatan dan kerukunan.

Satu hal yang biasanya menjadi keluhan banyak orang enggan berbelanja ke pasar tradisional adalah kebersihannya yang kurang terjaga. Suasana becek dan sumpek juga menjadi alasan kuat untuk memilih berbelanja di pasar modern daripada pasar tradisional. Ini yang menjadi pekerjaan rumah bersama. Di sini, peran pemerintah sangat dibutuhkan.

Sebagai public spare (ruang publik) -meminjam istilah Habermas- pasar tradisional kadang terkesan semrawut. Karenanya, upaya untuk memperbaiki kondisi seperti itu secara struktural juga harus ditempuh, agar eksistensi pasar tradisional tidak tergerus oleh pasar modern yang dicirikan dengan kebebasan, pragmatisme dan individualisme (S. Takdir Alisjahbana: 1988).

Selain itu, untuk menghindari membesarnya celah sosial dan ekonomi masyarakat akibat mallisisasi, penting kiranya tentang pewacanaan budaya secara filosofis, bukan secara ekonomis semata. Selama ini, budaya lokal hanya dipahami dalam tataran ekonomi. Buktinya, masyarakat secara luas -dan juga pemerintah- hanya mau menguri-nguri kekayaan budaya yang bersifat materi dan bernilai ekonomi.
Diam-diam benar apa yang dikatakan Suwaji Bastomi (2003) bahwa kebudayaan itu tergerus bukan oleh karena artefak budayanya yang hilang, namun karena mentalitas masyarakatnya yang rendah dan inferior. Mari kita jadikan pasar tradisional sebagai rumah budaya!

(Dimuat Majalah OBSESI, Edisi XIV, Thn. XVI, 2009)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar