Kamis, 05 Agustus 2010

Internet Kotor, Siapa Punya?

Oleh M Abdullah Badri

Era informasi membuat orang harus mau membuka diri. Dalam kenyataan itu, internet sebagai medan pertukaran informasi menempati posisi strategis melakukan mobilisasi sosial. Ketinggalan internet artinya ketinggalan zaman. Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menargetkan pada 2015 pengguna internet di Indonesia diharapkan mencapai separuh jumlah penduduk, sekitar 120 juta pengguna dari keseluruhan penduduk jumlah penduduk, 240 juta jiwa. Sebanyak 45 juta diantaranya kini sudah menggunakan internet secara aktif.

Upaya menumbuhkan melek internet oleh Kominfo itu dilakukan agar akses warga negara Indonesia terhadap dunia yang disebut Thomas L. Friedmen (The World is Flat, 2006: 4) sebagai dunia yang kembali datar itu kian memadai untuk mengahadapi persaingan global. Bukan karena datar daratannya, tapi karena arus informasi yang begitu hebat membuat orang bisa mudah mengakses melalui layar datar.

Internet terus mengalami progresifitas yang menakjubkan, ia telah menjadi barang yang mudah disentuh oleh kalangan siapa saja di semua pelosok negeri. Melintas batas usia, status dan identitas primordial lainnya. Dengan memiliki jejaring sosial facebook misalnya, kita bisa menjadi teman maya para pejabat, wakil rakyat, hingga orang yang ada nan jauh di belahan dunia lainnya. Melalui jejaring facebook, teman saya yang berjualan roti pun bisa mengadu langsung kepada wakil rakyat yang pernah dipilih olehnya. Apalagi yang punya ponsel dengan fasilitas internet, kapan saja dia mau, dunia ada ada dalam genggamannya.

Total pengguna facebook di Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia setelah Amerika dan Inggris. Angkanya mencapai 20,775,320 (Maret 2010). Kalau jumlah sebesar ini tidak memanfaatkan dan menggunakan “rahmat” internet secara bijak, maka dunia maya akan tercemar secara nyata. Belum lagi jumlah pengguna Twitter, Foursquare, dan YouTube yang kian hari terus bertambah.

Dalam berbagai kesempatan, kita sering menemukan ketegangan-ketegangan sosial yang berawal dari facebook. Sudah menjadi hal yang lumrah ditemui dalam dinding pemilik akun fecebook yang menyatakan kebencian terhadap pihak lain, kata bernada kecaman, penyataan lain yang melanggar tata susila, perjudian, pelanggaran hak privasi, perendahan martabat hingga pelecehan seksual. Ada juga penculikan dan perampokan yang berawal dari pertemuan di dunia maya. Ya, internet telah jadi teman baru bagi manusia kini.

Saya sendiri ketika geram terhadap apapun dan siapapun, facebook atau blog kadang jadi ajang menumpahkan segenap kegerahan dan ketidaknyamanan yang cukup efektif “melegakan hati”. Lalu siapa yang salah, internetnya atau orangnya? Internet itu netral. Yang menggerakkan adalah penggunanya, manusianya. Kita yang mewarnai jarring internet dan facebook itu. Jadi, masalah bersih dan tidaknya dari unsur pelanggaran hak seseorang dan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti keadilan, kedamaian dan lainnya itu tergantung bagaimana netiket (etika berinternet) kita pegangi dan laksanakan dengan baik.

Netiket Aristoteles
Berselancar dalam dunia maya dikatakan benar dan membawa kebenaran serta manfaat baik bagi diri sendiri, keluarga, orang lain atau tujuan pendidikan lainnya bila memiliki komitmen membangun hidup bersama untuk kesejahteraan publik. Aristoteles menyebutnya dengan “kebijaksanaan utama” atau dalam bahasa Yunani dikatakan sebagai ArĂȘte. Untuk meraih itu, seseorang harus memiliki dua kebenaran. Pertama adalah kebenaran dalam cara dan tempuhan laku, dan kedua, kebenaran dalam tujuan. Itulah yang dikatakan Aristoteles dalam Nicomachean Ethic.

Dua kebenaran itu harusnya mendasari setiap aktivitas kita dalam dunia maya. Tujuan kita mungkin benar untuk menolong seseorang misalnya, tapi kalau cara yang digunakan melanggar aturan, norma dan nilai yang ada, sama hal melakukan perbuatan baik tapi tak berpahala.

Saya punya teman yang berniat baik menolong kawan membuat skripsi. Tapi karena sebagian besar isi skripsi itu diambil tanpa hak dari karya orang lain yang sudah ada di sebuah situs internet, skripsi jiplakan itu tidak disahkan dan tak jadilah ia diluluskan. Ini adalah contoh tragedi ketercemaran intelektual buah ketidakbijakan menggunakan internet.

Itu bagian dari etika diri. Bagaimana dengan etika publik? Sebagai bagian dari masyarakat publik, dalam memosting tulisan, membuat komentar pribadi di wall jejaring sosial atau menuangkan kreativitas lainnya kita juga harus punya etika publik. Bahwa di luar sana ada banyak orang yang membaca diri kita. Kalau tidak bijak dalam memegang etika publik, bukan hanya orang lain yang merugi, kita juga bisa jadi akan masuk bui. Karena itulah kebersihan internet hanya bisa dijamin dengan self filter (perlindungan diri). Bersihkan dulu cara dan tujuan kita sebelum berselancar di dunia maya. Itulah kebijaksanaan utama, arĂȘte itu. Itu saja

(Naskah dilombakan dalam KOMPETISI MENULIS ARTIKEL Online INTERNET SEHAT AMAN)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar