Minggu, 29 Agustus 2010

Kemiskinan Yang “Menggembirakan”

Oleh M Abdullah Badri

Kepada seorang pengemis saya bertanya perihal pekerjaannya. Dia tidak meratapi kemiskinan, justru menjadikannya sebagai semangat bekerja untuk meningkatkan penghasilan. “Kalau mau jadi pengemis jangan tangung-tanggung, kerjakan dengan sepenuh hati,” katanya. Lho kok? Ya, dalam sebulan menggeluti profesi sebagai pengemis bisa meraup untung minimal satu juta. Menggembirakan, bukan?

Meski penghasilannya di atas gaji minimal buruh Semarang, mereka tetap setia menjadi salah seorang yang masuk dalam data statistik angka kemiskinan yang oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 31, 02 jiwa atau 13,33% dari jumlah penduduk Indonesia (data Maret 2010).

Menjadi miskin satu kali adalah berkah. Mengantongi status sebagai golongan miskin dalam situasi ekonomi yang sulit malah seringkali dijadikan alasan mendapatkan “tunjangan hidup” yang disediakan pemerintah. Dengan status miskin, kemudahan berkerja secara konvesional tak perlu dilakukan. Proyek-proyek penanggulan kemiskinan dari pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Beras Miskin (Raskin), kesehatan gratis (jamkesmas), anak mendapatkan dana oprasional sekolah (BOS) atau gratis sama sekali, hingga subsidi murah berlangganan listrik dan air, didapatkan dengan mudah dan barakah.

Dalam proyek-proyek tersebut setiap orang seperti mau saja dikatakan miskin. Ia rela antri berjam-jam untuk mendapatkan bantuan gratis meskipun emas, kalung atau gelang emas terpakai kokoh sebagai hiasan pada tubuh. Ketika itu, tak ada rasa malu menjadi miskin walapun daftar pengantre banyak yang mengendarai sepeda motor dan ponsel bermerek mahal.

Merekayasa Nasib
Karena itulah, dalam pandangan ekonomi tertentu, orang miskin tak mesti perlu dibantu. Mereka bukan orang yang gelisah dengan kemiskinannya. Kemiskinan dalam takaran ini justru diciptakan oleh dirinya sendiri. Nasib menjadi miskin adalah pilihan dari nasib hidup. Kalaupun dibantu bukanlah karena kemiskinannya, namun lebih karena unsur iba sebagai ekspresi sisi kemanusiaan individu.

Dalam permenungan meditatif, saya diam-diam menyetujui bahwa orang miskin memang kadang perlu dibebaskan dengan kemiskinan yang jadi profesinya. Tak perlu heroik menjadi orang kaya dihadapannya.

Pengemis yang datang ke rumah minta shodaqah, entah atas nama diri sendiri, lembaga atau institusi tertentu yang membutuhkan sumbangan dana, sekali proposal permohonan sumbangannya dikabulkan, dia akan kembali untuk kedua kali dan seterusnya. Saya sendiri sering menjumpai orang sama meminta (mengemis) berkali-kali di tempat yang sama.

Karena mengemis sudah dijadikan profesi yang menjanjikan penghasilan cukup tinggi, tak ubahnya ia seperti profesi jasa lainnya laik dokter, perawat, satpam, sopir, pegawai dan lainnya. Belum tentu yang memberi uang lebih kaya daripada yang meminta. Pengemis profesional lebih pintar menerapkan prinsip wirausaha secara strategis. Di kampus saya, ada jejaring pengemis yang keliaran meminta-minta iba kepada mahasiswa yang nongkrong di kantin atau yang sedang ngumpul bareng di sudut kampus.

Acap, ketika sedang asyik diskusi, tiba-tiba seorang pengemis datang menyambangi. Tentu, dari sekian orang yang ada, pasti ada yang mengeluarkan recehan yang jumlahnya bisa mencapai lima hingga sepuluh ribu. Ini sebuah strategi permintaan yang sangat canggih bagi saya. Dan, saya mengaguminya. Menggembirakan juga jadi pengemis.

Ringan Tangan
Para pengemis itu paham betul bahwa kultur budaya kita terhadap orang lemah adalah keihklasan memberi. Kemiskinan yang diidentifikasi sebagai representasi kaum lemah membuat kita ringan tangan memberikan bantuan. Secara moral, hal itu dianggap berpahala. Tetapi secara ideal, kultur ringan tangan dalam konteks meminta-minta (minta berkali-kali) sebagai profesi membuat angka kemiskinan tak akan pernah turun atau minimal terkurangi.

Agaknya, proyek pengentasan kemiskinan yang diagendakan pemeritah seperti BLT, Raskin dan sebagainya berangkat dari paradigma kultur ringan tangan itu. Akibatnya, yang miskin justru makin terus miskin karena status miskin telah “dijamin” sementara oleh negara. Kultur ringan tangan berbanding lurus dengan status quo kultur kemiskinan sebagai anugerah.

Karena kepada kemiskinan harus diulurkan bantuan, bukan diberdayakan, pemiskin akan tetap “gembira” dengan kemiskinanannya. Miskin secara kultural tidak dinyatakan sebagai problem erosi sosial yang perlu dibenahi. Dianggap kesempatan malah. Seakan, dalam adagium aku miskin, maka aku akan sejahtera.

Bantuan pemerintah hanya sesaat untuk menutupi kebutuhan orang tak berpunya. Belum mencapai pada dekonstruksi kultural bahwa miskin itu adalah penanda keterbelakangan peradaban. Pepatah agama yang menyatakan tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah tidak berdampak pada praktik kerja dan etos kebudayaan yang tanggung. Kemiskinan masih menggembirakan dalam janji kultural.

(Dimuat Radar Surabaya, 29 Agustus 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar