Rabu, 29 September 2010

Mengheningkan untuk Keseimbangan


Oleh M Abdullah Badri

Judul : Pencerahan dalam Perjalanan
Penulis : Gede Prama
Tebal : 310 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : I, Agustus 2010
Harga : Rp. 50.000

Kekuasaan, kerakusan, dan dendam adalah sifat-sifat manusia yang menciptakan kegelapan dunia dan dirinya. Karakter itulah yang membuat segenap potensi kebaikan tertutup kabut asap tebal.

Dengan demikian, di mana pun, manusia seperti ini akan menjadikan yang lain (the other) sebagai tempat menumpahkan angkara murka kekuasaan, kerakusan material, dan kesombongan diri.

Buku Gede Prama berjudul Pencerahan dalam Perjalanan inilah yang akan mencerahkan jalan-jalan terjal peradaban rendah manusia yang dipenuhi dengan uang, dendam, dan penyimpangan kekuasaan itu.

Berkalikali Gede Prama, dalam kumpulan esainya ini, bicara soal kekuasaan, kepemimpinan, kerakusan material, dan kedengkian yang mengarak jiwa manusiawi kita.

Penulis bukan menyalahkan orangorang yang sedang “tidak tercerahkan itu”. Dia hanya mengajak pembaca untuk bermeditasi, yoga, dan mengheningkan diri dalam cinta dan kasih sayang.

Gede Prama mengatakan akar permasalah kompleks negeri ini tiada lain adalah keakuan (ego) masih mengalahkan segalanya di luar diri. Sehingga, meskipun kaya, tak ada kedermawanan yang mengiringi.

Kepintaran tidak bersanding dengan kemajuan, justru kehancuran dan kesombongan.

Memimpin dijadikan tujuan, bukan sarana. Penulis mengajak untuk menyeimbangkan diri dalam keheningan dan kesolehan asketis (puasa, diam, meditasi, dan lain-lain).

Itulah yang dikatakan tetua Jawa sebagai suwung. Tidak ada keakuan, ketakutan, keinginan, apalagi kerakusan yang tersisa. Semuanya lenyap ditelan suwung. Seperti ruang yang memberi tempat bertumbuh apa saja dan siapa saja.

Kendati terlihat tidak ada apa-apa, ruang melimpahkan kasih sayang tak terbatas. Karena ada ruang, cahaya matahari bisa melaksanakan tugasnya, pohon bertumbuh, manusia menjadi dewasa (halaman 43).

Itulah makna mengheningkan diri, menyuwungkan diri. Dengan pengsosongan diri, penderitaan dan kesedihan yang sedang kita alami tidak akan menjadi benih-benih kemarahan, justru menjelma titik-titik kebeningan dan kebijaksanaan.

Ibarat air, dalam setiap alirannya, ia begitu lentur melewati setiap rintangan dan bebatuan. Pemimpin seperti air adalah yang memancarkan kebijaksanaan di mana pun berada.

Ke atas memancarkan cahaya pelayanan, ke samping menyebarkan persahabatan, dan ke bawah memberikan bimbingan.

Kekuasaan baginya bukan gerbang untuk melakukan dendam dan keangkuhan, namun dipahami sebagai pintu pembebasan dan pelayanan setinggi-tingginya dengan cinta dan kasih sayang karena tak ada orang yang tidak ingin bahagia. Tidak ada di antara kita yang mau menderita.

Para bijak memahami hal itu di kedalaman diri paling jernih. Perlu dicatat, buku yang memancarkan spiritualitas eksotis ini banyak memuat ulang esai penulis yang dimuat di media dan publikasi lainnya. Sayang, tidak disertakan dari mana sumbernya.

Bagi yang mengikuti tulisan Gede Prama, akan mengalami de javu pemikiran. Namun, akan tetap asyik karena pencerahannya begitu nyata dan perlu direnungkan untuk mencapai suwung diri.

(Dimuat Koran Jakarta, 17 September 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar