Sabtu, 06 November 2010

Menjaring Fakta (dalam) Identitas

Oleh Ali Mubarok Sayunji

TULISAN M Abdurahman, “Mahasiswa, Kalian Bisa Apa?” (Suara Merdeka, 9/10) yang sebenarnya memberikan pembenaran apologis terhadap tulisan M Abdullah Badri,“Empat Dosa Mahasiswa” (Suara Merdeka, 25/9), menarik didiskusikan lebih lanjut ketika M Abdul Rohim menanggapi dengan judul cukup represif: “Menihilkan Peran Agen Perubahan” (Suara Merdeka, 23/10).

Dalam tulisan itu, Rohim menggugat kecerobohan Rahman yang seakan meniadakan takdir kultural mahasiswa sebagai agen perubahan. Mahasiswa disebut tak bisa apa-apa. Mahasiswa, kata Rahman, tak memiliki kekuasaan ekonomi, politik, dan sosial.

Rohim menganggap sikap apatis Rahman sebagai penghinaan, caci-maki, sekaligus penihilan peran mahasiswa. Polemik problem identitas sebetulnya tak bisa dilepaskan dari tulisan sarkastis Badri. Dalam tulisannya, Badri ingin memberikan penyadaran eksistensial bahwa mahasiswa punya empat kewajiban (membaca, diskusi, sosialisasi, dan menulis). Kalau tidak dilaksanakan, mahasiswa melakukan dosa besar secara etis.

Rahman menanggapi dengan sisnisme apatis. Lalu dibantah Rohim karena terlalu berlebihan menilai mahasiswa seakan “tak punya harga”. Bagi saya, apa yang diungkapkan Badri dan Rahman tak terlalu berlebihan.

Secara sosiologis, fenomena mahasiswa kehilangan identitas kultural (agent of change) sudah menjadi wabah “kudis akademik” yang menjamur dalam kehidupan akademik kampus. Fakta itu, kalau mau ada perubahan di masa depan, harus disampaikan apa adanya.

Fungsi Kritis
Penyampaian fakta secara gamblang adalah manifestasi dari fungsi kritis mahasiswa. Dalam kebohongan selalu ada “besar pasang daripada tiang”. Sebagai kaum akademik, siapa pun tak mau disodori kebohongan. Badri dan Rahman telah menyampaikan fakta “kudisan” itu.

Namun, menurut hemat saya, cara untuk menyampaikan kegelisahan kedua penulis itu berkesan sarkastis dan anarkis. Pesan dari tulisan Badri adalah dekonstruktif, sedangkan Rahman lebih kritis dan apatis. Barangkali itu yang membuat Rohim meradang dalam segepok dendam wacana.

Padahal, jika saya baca secara utuh, gagasan Rohim terlihat “ceroboh” menanggapi Rahman. Dalam tulisannya, Rahman tidak menihilkan peran mahasiswa. Dalam bagian akhir, Rahman mengimani “aktivitas menyumbangkan ide dan tenaga dari para mahasiswa dalam mengubah kondisi sosial” sebagai kewajiban.

Menuju Evaluasi
Rahman dan Rohim sebenarnya sedang melakukan dialog kritis seputar krisis identitas mahasiswa. Upaya berpikir kritis untuk mencari kebenaran harus dilakukan agar tercapai tahapan evaluasi, setelah serangkaian aktivitas analisis, sintesis, dan pelibatan daya rasional tinggi digunakan (Angelo, 1995: 8).

Identitas mahasiswa sebagai agen perubahan akan lenyap dalam “bangkai” peradaban, kalau tidak dievaluasi secara kritis-evaluatif. Yang terjadi kelak adalah romantisme nostalgis yang naif. Setiap rakyat kampus semua tahu dan paham mahasiswa menyandang amanat takdir agen perubahan. Namun siapa yakin dan percaya bila artikulasi itu masih dianggap layak hingga sekarang?

Langkah Proaktif
Karena itulah, di tengah kemalasan global mahasiswa, mempertanyakan idealitas eksistensial akan identitas mahasiswa adalah langkah proaktif menemukan kembali citra positif yang kadung melekat sejak lama itu. Ketika mahasiswa didefinisikan sendiri oleh mahasiswa dalam kerangka dialogis seperti dilakukan Badri, Rahman, dan Rohim, ada harapan untuk keluar dari bias subjektivitas versus objektivitas.

Mahasiswa akan menjadi fa’il (pelaku), bukan maf’ul (objek). Mereka menafsirkan sendiri, mengidentifikasi permasalahan, merumuskan masalah, serta membatasinya untuk mencari kesimpulan solutif di kelak kemudian hari (Beyer, 1995: 12-15).

Ketika mahasiswa gelisah dengan dirinya, mempertanyakan identitas dan karakter perubahannya, saat itulah mereka sedang melakukan refleksi teologis-kontemplatif. Skeptisisme dalam wacana kritis akan memunculkan gairah keyakinan. Tanpa keraguan, menjaring fakta dalam identitas tetap dalam kebimbangan. Badri, Rahman, dan Rohim telah melakukan kerja kultural menafsirkan identitas mereka. Mereka telah melakukan pertobatan eksitensial ñ itu merujuk istilah Badri. (51)

- Ali Mubarok Sayunji, mantan aktivis mahasiswa, kini bekerja di Sayung, Demak
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar