Jumat, 21 Januari 2011

Melawan Hegemoni Sejarah Dunia

Oleh M Abdullah Badri



Judul : Dari Pucak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam (Destiny Disrupted: A
History of The World Through Islamic Eye)
Penulis : Tamim Ansary
Penerjemah : Yuliani Liputo
Penerbit : Penerbit Zaman, Jakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : 589 halaman

Konstruksi pikiran kita tentang muasal dunia selama ini didominasi oleh superioritas sejarah peradaban Barat sejak kemunculannya hingga sekarang. Dimulai dari romantisme sejarah peradaban Romawi, Yunani, Revolusi Perancis, Tragedi Perang Dunia I dan II hingga kemenangan kapitalisme demokrasi. Barat dicitrakan sebagai pusat peradaban yang menggairahkan gerak umat manusia di muka bumi, sementara yang lainnya adalah peradaban pinggiran yang layak dicerahkan dengan kultur dan budaya Barat.

Edward Said, penulis buku Orientalisme telah menyatakan kesesatan Barat dalam fantasi dan imajinasinya memandang peradaban di luar dirinya sebagai “liyan”. Superioritas rasial mengental dalam warna sejarah dunia yang dihegemoni oleh Barat. Dalam kerangka melawan hegemoni wacana sejarah Barat itulah, buku berjudul Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam ini, disusun oleh Tamim Anshary.

Islam yang pernah menjadi kampiun peradaban dunia sengaja dinegasikan dalam teks-teks sejarah versi Barat karena dianggap sebagai musuh. Hemat penulis, hal itu sebetulnya tidak perlu terjadi bila integralitas komunikasi berbasis humanisme dan universalisme menjadi kesadaran umat manusia. Dalam buku ini, penulis menunjukkan bahwa tanpa bangunan peradaban Islam, Barat tidak akan pernah mencapai kemajuan seperti sekarang. Begitu juga Islam.

Pada masa kejayaannya, Islam tak akan pernah menuju puncak peradaban kalau saja tak mau belajar kepada bangsa Romawi dan Yunani. Intinya, antar peradaban di dunia ini bermula dan berakhir pada kesadaran untuk belajar. Islam dan Barat jadi dua kategori peradaban yang hampir tidak saling mengakui dan mengenal karena menurut penulis ada titik waktu yang membedakan dimulai-lahirnya peradaban itu, yakni sejak hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah.

Perjalanan hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah (dulu bernama Yastrib), menjelma secara ideologis sebagai penakar waktu dalam peradaban Islam karena dari situlah cita-cita Nabi untuk mendirikan Madinah (kota) yang Munawwarah (tercerahkan), dimulai. Islam terus meniti kemajuan peradaban hingga Dinasti Utsmaniyah runtuh. Islam jadi kelam dalam sejarah dunia. Kesadaran berperadaban di kalangan umat Islam mulai tumbuh lagi pada awal abad XIV hijriyah seiring progresivitas peradaban Barat yang dianggap mengancam eksistensi dan nilai peradaban Islam.

Melihat pesatnya Islam di Barat, Barat merasa terancam pula. Lalu muncullah tesis-tesis provokatif yang meminggirkan Islam serupa wacana “perbenturan peradaban” dan “akhir sejarah manusia”. Padahal, menurut penulis, jika kita mau objektif, dalam setiap peradaban mengandung sejarah dan peristiwanya sendiri. Jadi, yang penting adalah dialog antar peradaban, bukan benturan yang cenderung hegemonik.

(Dimuat Koran Jakarta, 20 Januari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar