Jumat, 04 Februari 2011

Menegakkan Kedaulatan Negara

Oleh M Abdullah Badri

Judul : Si Vis Pacem Para Belum: Membangun Pertahanan Negara yang Modern dan
Efektif
Penulis : Sayidiman Suryohadiprojo
Penerbit : Pustaka Intermasa
Terbit : I, November 2010
Tebal : 558 halaman

Judul buku ini cukup representatif menunjukkan pesan yang diinginkan penulis, Sayidiman Suryohadiprojo. Si Vis Pacem Para Bellum, peribahasa Latin Kuno yang berarti “siapa yang menginginkan perdamaian maka siaplah berperang” dipilih sebagai provokasi isi buku. Kesiapan untuk berperang adalah kekuatan energi yang bisa menyiutkan nyali pihak-pihak yang akan melakukan agresi militer. Energi itu, dalam buku ini disebut sebagai deterrence (daya tangkal). Daya tangkal itu tidak nampak kasat mata, tetapi efeknya dapat dirasakan oleh rakyat seluruh bangsa.

Kedaulatan, keamanan, akhirnya menjadi sumber menuju kesejahteraan. Amerika Serikat (AS), India, China dan Singapura, menjadi negara maju karena kekuatan pertahanan militernya sangat diperhatikan. Sewaktu-waktu mereka siap berperang dengan kecanggihan alat utama sistem pertahanan (alutsista) mutakhir bila ada negara yang berkehendak melakukan penyerangan militer. Negara lain berpikir ulang untuk melakukan agresi.

Harga diri bangsa Indonesia salah satunya ditentukan oleh kemapanan angkatan militer dalam negeri. Beberapa waktu silam, nasionalisme kita menyeruak sebagai perlawanan yang menggairahkan kala negeri tetangga menginjak-nginjak harga diri nasionalisme kita dengan menganiaya putra bangsa tak berdosa. Pelecehan itu terjadi dan menyulut emosi anak negeri karena angkatan perang kita dianggap belum tangguh siap siaga perang melawan negara dengan taktik dan peralatan perang yang lebih maju.

Belum ada rasa takut dari negara lain. Oleh karena itulah syarat utama untuk menegaskan kedaulatan bangsa melalui angkatan militer, dalam buku ini, adalah dengan meningkatkan sistem keamanan nasional dan kesejahteraan para prajurit. Mereka harus diperhatikan kesejahteraannya dan fasilitas kesenjataannya yang memadai agar siap bertempur melawan serangan musuh kapan pun saja.

Penulis menyatakan kenaikan angggaran militer TNI sebesar 10,72 persen dari tahun lalu atau meningkat dari 42,9 triliun rupiah pada 2010 menjadi 47,5 triliun tahun ini, adalah langkah strategis meningkatkan kualitas inti pertahanan nasional itu. Cukup besar memang bila diperuntukkan pengembangan ekonomi kerakyatan, namun bila dibandingkan dengan negara lain anggaran itu ada di posisi paling rendah di antara negara-negara ASEAN.

TNI perlu melakukan strategi penghematan efektif agar sasaran pertahanan negara demi kemanan nasional tercapai. Buku ini hadir untuk menyuarakan pentingnya pertahanan nasional dalam rangka menjaga kedaulatan bangsa dan perdamaian dunia. Bukan hanya kalangan militer yang layak membaca teks buku langka ihwal perang; operasi, strategi, taktik, pelaksanaan perang, pertahanan, mekanisme logistik, pengembangan kekuatan personel prajurit.

(Dimuat Koran Jakarta, 4 Februari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar