Rabu, 15 Juni 2011

Dalam Buaian Ego

Oleh M Abdullah Badri

Ego ibarat replika diri. Ia yang membentuk sifat, karakter dan sikap setiap kita, manusia berbudaya. Selaras tidaknya kita dengan lingkungan kosmologis, bergantung pada manajemen ego diri.

Karena ego adalah ruh manusia yang memiliki unsur tubuh, akal dan perasaan. Peradaban adalah efek tak langsung manajemen ego. Peradaban dan kebudayaan bukan berdasarkan pada kebenaran, tapi tindakan: mengatur ruang eksistensi ego. Yakni sejauh mana manajemen itu berhasil diterapkan; manusia akan tetap dianggap manusia, yang memiliki tabiat membangun keharmonisan.

Hazrat Inayat Khan (2002: 327) membagi ego dalam tiga kategori: ego fisikal, ego mental dan ego spiritual. Ego fisikal dihidupi dengan selera badani. Orang merasa puas sebagai "aku yang fisik" ketika setelah makan dan minum merasakan kenikmatan kenyang dan hilang dahaga. Begitu pula dalam kepuasan tidur. Rangsangan tubuh yang lelah membuat kita istirahat. Akan mengalami rasa sakit bila minim tidur, kurang makan dan lupa minum.

Ego fisikal bisa ditahan oleh ego mental dan spiritual. Sama-sama memejamkan mata, antara tidur dan meditasi tak memiliki efek yang sama. Antara puasa dan lapar pun, meski sama dalam tiadanya energi badani, efek yang ditimbulkan beda. Meski tidur kurang dari dua jam sehari, seorang yang sedang bermeditasi, tidak akan mengalami rasa sakit sebagaimana orang yang kurang tidur. Begitu pula puasa, seharian tanpa makan minum, tetap saja bisa bertahan hidup, berbeda dengan kelaparan, yang mengakibatkan kerusakan badan, hingga kematian.

Kesimpulannya, ketahanan itu bisa lahir karena ego fisikal dibungkus oleh ego mental (pikiran) dan spiritual (keyakinan). Inilah manajemen ego. Fokus kepada pikiran menunda pemuasan badani, sementara memusatkan diri kepada keyakinan mampu menghentikan efek yang akan dialami oleh hukum fisikal.

Dalam lanskap lebih luas, kita nyinyir melihat kenyataan, bahwa dalam keseharian kita kadang lebih mementingkan ego fisikal daripada membungkusnya dengan ego mental dan spiritual. Ada banyak diantara kita yang ternyata hanya hidup untuk mencari makan, bukan makan untuk bertahan hidup. Ini dalam tataran kebutuhan primer. Yang lebih ironis ada dalam kultur pembudakan kepada selera (sekunder) dan citra (tersier).

Fenomena yang kita lihat, banyak orang yang demi memenuhi selera dan citranya, ia tega menyakiti orang lain yang bukan musuhnya, bahkan kawan baik. Selera dan citra, membutakan mata. Manusia yang harusnya sebagai bintang penyinar kehidupan merubah diri menjadi binatang buas yang suka memangsa, menebar ketakutan. Seperti pemabuk, yang mudah mengatakan atau melakukan banyak hal dengan langkah sempoyongan tanpa memedulikan kesejahteraan, kesenangan, kenyamanan, kebahagiaan, keharmonisan orang lain di sekitarnya. Karena mabuk, ia buta.

Menghamba Ego

Di mall misal, bagi yang menghamba pada keangkuhan ego, belanja di pasar modern itu bukan untuk bertransaksi. Lebih dari itu, ia hadir di ruang transaksi untuk melecehkan orang lain, membuat orang lain merunduk di hadapannya, membuatnya menyerah, menempatkannya pada posisi rendah, membuatnya tampak jahat, meskipun uang belanjanya tak terkontrol.

Dalam dimensi lain, hasrat menundukkan orang lain dengan kekuasaan membuatnya harus menukar kebenaran dengan kecurangan, keharmonisan dengan ketidakadilan, dan menggadaikan harapan dengan angkara murka, ketika duduk di kursi kekuasaan.

Demi melanggengkan kekuasaan dan hegemoni, alasan-alasan dibuat seakan bersentuhan dengan kepentingan yang hendak ditundukkan. Seperti kutu loncat, teknik menghindar untuk menutupi keangkuhan egonya berlipat dan berlapis. Selalu ada alasan di balik setiap alasan yang diutarakan, agar dimengerti oleh yang akan ditundukkan.

Ego spiritualnya mengetahui bila kekuasaan adalah untuk mengabdi dan melayani, namun ego fisikal yang dijadikan penyembahan kepuasan utama, menjadikan nafsu kebinatangannya mengajak untuk menghindari dari semua risiko. Akibatnya, kala ego fisikal yang membutakan itu tak tersampaikan, sakitlah ia; tubuh, jiwa dan pikiran. Imperium kuasanya jatuh, tak punya kawan, tidak punya pengaruh, tubuhnya lemah dimakan struk, pikirannya dihantui oleh dosa, jiwanya pun tergoncang.

Itu tercermin dalam laku para penguasa yang terbuai ego fisikal yang tanpa dibungkus oleh ego mental dan spiritual. Penghamba ego fisikal yang menginginkan dihargai orang lain dengan kekuasaan, kekayaan, kecantikan, kekuatan, banyak kita temui pada setiap diri yang menghamba pada keangkuhan, kecongkakan, dan kesombongan, dalam latar kehidupan agama, sosial, ekonomi, budaya, intelektual, dan lainnya.

Keterbuaian pada ego fisikal, pada tahapan pastinya akan menampakkan ketidakharmonisan hidup. Hakim berbuat tidak adil, politikus tanpa nurani, pemimpin tanpa keteladanan, tokoh tanpa karakter, individu tanpa kebijaksaan serta anak tanpa bapak. Manajemen ego penting agar replika peradaban bangsa merupa bintang yang menyinari persada kemajuan dan penghormatan nilai-nilai kemanusiaan.

(Dimuat Harian Analisa Medan, Rabu, 15 Juni 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar