Minggu, 03 Juli 2011

Komunikasi dalam Kultur Agul

Oleh M Abdullah Badri

Inovasi dan perkembangan teknologi komunikasi telah menciptakan budaya pengiriman pesan orang ke orang kian efektif dan efisien; tapal batas jarak terlipat di sana. Sejak era surat berakhir, dan tergantikan dengan kultur komunikasi elektronik, orang kian tak peduli dengan sederet aturan bahasa. Sistem formal komunikasi yang menggunakan referensi ejaan bahasa baku tak begitu dihiraukan. Asal pesan tersampaikan, bahasa adalah acuan yang kesekian.

Demi efisiensi karakter huruf, singkatan-singkatan kerap digunakan, bahkan oleh guru bahasa atau sastrawan sekalipun, yang mereka dikata sebagai pemegang otoritas bahasa. Kata “yang” misalnya, seringkali dikorupsi menjadi hanya dua huruf, “yg”. Atau kata “belum” disingkat menjadi “blm”.

Kedua contoh itu mungkin masih biasa dalam kultur pragmatisme bahasa SMS kita. Seakan sudah menjadi kesepakatan tanpa ikatan kesepakatan bahwa singkatan tersebut maksudnya adalah “yang” dan “belum”. Tapi kalau kita membaca lebih jauh fenomena SMS ala anak gaul (Agul) atau anak lebay (Alay), pasti akan menemukan kesulitan menangkap pesan, bahkan salah arti bila tak ada keintiman memahami dan merasuki alam mereka.

Dengan “seenaknya” Agul menggunakan bahasa SMS yang tidak lazim. Coba simak pesan berikut : “Qmo dMn? qYu uD dM4ll, jG lUmA2, LuPh u,,,,[Kamu dimana? Aku sudah di mall, jangan lama-lama ya, I Love You,,,,]”. Di situ, huruf disusun secara acak antara yang kapital dan yang seharusnya kecil. Padahal secara teknis, menyusun bahasa seperti itu membutuhkan tenaga dan waktu lebih lama bila dibandingkan dengan menyusunnya secara normal.

Betapa tidak, keypad handphone yang mereka pencet jelas lebih banyak dan lebih sulit karena untuk menulis satu huruf tertentu saja membutuhkan sentuhan hingga tiga kali. Belum pula menyentuh bagian yang punya fungsi memperbesar huruf, apalagi berganti angka. Apa hal tersebut bisa disebut pragmatis yang bertabiat efisien dan efektif itu?

Semena-mena
Menurut saya, gaya bahasa komunikasi ala Agul bukan cerminan efisiensi, tapi eksistensi, meskipun nada-nada pragmatisme tetap terasa. Agul menciptakan bahasa sendiri sesukanya, “semau gue, asal loe ngarti”. Hal itu mengingatkan saya pada sebuah kesimpulan bahwa sejarah bahasa, pada mulanya adalah karena kesemena-menaan manusia menamakan benda-benda yang ada di sekelilingnya. Kita tidak tahu mengapa kursi disebut dengan kursi, begitu pula mata, mengapa ia tidak dinamakan kursi atau meja. Kuasa yang semena-mena itulah yang tampaknya terlihat dalam kultur komunikasi Agul.

Bahasa yang sudah mapan, di tangan Agul bisa hancur berantakan. Dalam acara kumpul bareng keluarga, seorang adik yang masih duduk di SMA minta ijin “uam loeb,” ujarnya. Karena tidak paham, saya balik bertanya. Tapi terburu disahut, “rasad ugul,” jawabnya. Belakangan saya baru mengetahui kalau yang dimaksud dia adalah “mau beol,” dan karena saya tidak paham, disebutnya “dasar lugu.” Nah, terbaca dari sana proses “penciptaan” kosa kata baru dengan membaca secara terbalik kosa kata bahasa yang sudah baku, berlaku.

Televisi, sebagai bagian dari pusat pemasaran gaya hidup ikut serta menyuburkan komunikasi bahasa ala Agul itu. Request lagu dalam life music show, melalui Blackbarry dan pesan layar berjalan, misalnya, yang ditayangkan setiap hari, membuat bahasa ala Agul menjadi kesadaran bahasa tersendiri. Dalam fenomena itu, kiranya hanya media cetak yang tetap setia menggunakan bahasa Indonesia formal dan baku, sesuai EYD. Kalaupun ia harus menggunakan bahasa remaja, tidak sampai kepada lebaisme bahasa ala Agul, hanya menuruti selera bahasa remaja belasan tahun yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, teenlit (teen literature).

Kultur bahasa lisan dan tulisan ala Agul memang merepotkan kemapanan bahasa. Entah itu fenomena yang menggembirakan atau tidak, belum ada penelitian mendalam yang menyoroti secara khusus. Namun yang pasti, technology is my life (techlife), telah menciptakan “kamus bahasa” komunikasi ala Agul kian meluas menjadi gaya komunikasi yang khas. Di sini, teknologi komunikasi menemukan pembenaran; mampu membentuk kultur hibrida “gaya gue”, life style komunikasi baru yang semena-mena.

(Dimuat Radar Surabaya, Minggu, 3 Juli 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar