Mengoreksi Syair Untuk Haul Mbah Fadhol Pamotan Rembang -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Mengoreksi Syair Untuk Haul Mbah Fadhol Pamotan Rembang

M. Abdullah Badri
Minggu, 21 Juni 2026
Flashdisk Ebook Islami

Kitab Makna Pesantren
koreks syair bahar basith dan bahar rojaz
Mengoreksi syair untuk haul Mbah Fadhol Pamotan.


Oleh M. Abdullah Badri


NAMANYA Kang Rohim. Dia tinggal di Desa Tasikagung, Rembang. Saya kenal sebab ia pernah memesan buku saya, Nuhudlul Kafi (Berdaya dengan Ilmu Arudl dan Qofiyah). Dia tertarik Nuhudlul Kafi karena setiap video kalam yang saya buat diakhiri syair Arab. 


Dia mengaku, tidak pernah belajar ilmu Arudl syair Arab. Babar blas. Tapi, dia paham Nahwu dan Shorof. Dengan semangat, dia membaca buku saya sampai khatam selama empat hari. Tambah diulang, kata Kang Rohim, tambah ngeh dan mundak paham. Alhamdulillah. 


Tak berapa lama, dia minta koreksikan syair Bahar Rojaz yang bicara tentang alasannya masuk ke PPP. Belepotan banget awalnya. Terjadi inkisar (tidak sesuai wazan) hampir di semua taf'ilat (potongan wazan)nya. Kacau banget lah. Maknanya pun sulit saya paham. 


Saya kemudian diminta koreksi, saya beri stabilo mana redaksi yang salah wazan dan mana yang syadz (menyimpang). Setidaknya, saya mengoreksi hingga 5 kali. Akhirnya, jadilah hasil akhirya seperti di bawah ini:


وَلَجْتُ حِزْبَ الْكَعْبَةِ ابْتِغَاءَ مَا :: مِنَ الْعُلُومِ مَشْرَبًا وَمُغْرَمَا

أَنْوِي اتِّصَالًا لِاعْتِمَادِ الْمُسْنَدِ :: وَلِلْمَصَابِيحِ الْبِلَادِ نَقْتَدِي

كَشَيْخِ مَيْمُونٍ بِخَيْرِ جَامِعِ :: وَبِشْرِنَا بِالرَّمْزِ خَيْرُ بَادِعِ

وَأَنَا مُسْلِمٌ بِنَفْسِي الرَّاجِيَةْ :: لِشَيْخِ إِدْرَارٍ بِنُورِ الْوَارِثَةْ

عَنْ زَوْجِهِ مَشْرَبُ عِلْمِ الْحَالِى :: ابْنَة شَيْخِ اللَّاعِتَانِ الْعَالِي

مِنْ مَعْدِنَيْنِ مُسْنَدِيْ قَدْ كَمُلَا :: شُكْرًا لِرَبِّ الْعَالَمِينَ جَمَّلَا


Saya mengatakan, semua nadhom Bahar Rojaz di atas shahih wazan dan mumtaz. Mudah dipahami. 


Lalu, dia kemudian mengirimkan lagi syair ber Bahar Basith. Yang bicara tentang ngalembono Mbah Kiai Fadhol Pamotan. Lha kok langsung banyak shahih. MasyaAllah tenan kang iki. Sediluk ngaji lewat buku, langsung nyes mudah membuat syair. Ini syairnya: 


Singa Mulia Tersembunyi (Kiai Fadhol)


كَثِيرُنَا لَمْ يَرَ الْكَبِيرَ مِنْ أَسَدٍ :: بَسِيْطُهُ هَيْبَةٌ وَبَاقِرُ الْكَتَمِ

Banyak dari kita belum pernah melihat (belum tahu) "Singa Besar" di antara para singa. Kesederhanaannya adalah wibawa, dan pembelah rahasia-rahasia ilmu yang tersimpan.


هُوَ السِّرَاجُ الَّذِي ضِيَاؤُهُ انْتَشَرَ  ::وَكَانَ لَا يَنْطَفِي يُنِيرُ فِي الظّلَمِ

Beliau adalah pelita yang cahayanya telah menyebar kemana-mana tak pernah padam selalu menyinari di tengah kegelapan


لَا تَسْأَلُوا كَيْفَ بِاسْتِقَامَةٍ ثَبَتَ :: إِحْيَاؤُهُ شَاهِدٌ وَقُرْاَنُ الْخِتَمِ

Jangan tanya, bagaimana beliau kokoh dalam istiqomahnya. Kitab Ihya' dan Hafalan qur'annya sebagai saksi nyata. (Karena disepanjang umurnya beliau Istiqomah mengajarkan kitab Ihya' dan seorang penghafal Al-Quran juga pengajar tafsir)


فَإِنْ أَرَدْتَ اسْمَهُ فَنَادِ يَافَضَلِي :: هُوَ الْكَرِيْمُ الخَفِيْ وَمَنْبَعُ الْحِكَمِ

Maka jika kau ingin menyebut namanya, panggillah: "Wahai  Fadholku"(kyai Fadhol). Beliau orang mulia yg  tersembunyi, dan sumber banyak hikmah


يَارَبِّ بَارِكْ لَنَا بِحُرْمَةِ الأَثَرِ :: تَعُمُّ لِلْحَاضِرِيْنَ حَامِلِي الغَرَمِ

Ya Allah, berkahilah kami sebab hormat hari wafatnya (haul) / hormat napak tilas jejak perjuangan beliau. Meliputi semua yang hadir, para pecinta yang membawa kerinduan tiada tara.


Hasil Koreksi Syair

Hanya di kata وَقُرْاَنُ (di bait ke-3) yang saya nyatakan maksur (tidak sah secara wazan) dan dia siap memperbaiki. Saya juga usul mengganti kata بِاسْتِقَامَةٍ dengan باستقامه biar pembaca seperti saya tidak menduga kalau kata ثَبَتَ setelahnya merujuk ke kata إستقامة yang muannas. Salah Nahwu bila saya mengira demikian, padahal maksud penulis tidak demikian. 


Kata الْخِتَمِ untuk وَقُرْاَنُ juga saya nilai janggal karena kata وَقُرْاَنُ mufrod, tapi sifatnya jamak (الْخِتَمِ). Uniknya lagi, kata الْخِتَمِ ternyata, karepe Kang Rohim, artinya berkali-kali khatam Al-Qur'an. Ya malah tambah syadz makna kalau demikian. Sebab, tamat berkali-kali itu dalam bahasa Arab bukan الْخِتَمِ tapi إختتم atau كثيرا ما تلا


Setelah sejam mikir, akhirnya, inilah editan Kang Rohim: 


لَا تَسْأَلُوا كَيْفَ بِاسْتِقَامِهِ ثَبَتَ :: إِحْيَاؤُهُ والكِتَابُ شَاهِدُ الْخِتَمِ


Buat syair itu memang kudu pas kalimat yang dipakai. Jika tidak, pembaca seperti saya bisa salah duga dan salah kira. Akhirnya salah tangkap makna. Syair yang bagus itu kalau tanpa harokat, pembaca mudah paham. Akhirnya pun saya salah duga nama tokoh. Awalnya saya mengira kalau yang disyairkan adalah Mbah Fadhol Senori Tuban, eh, ternyata Mbah Fadhol Pamotan. 


Kesalahpahaman saya ini sangat wajar sebab tidak ada kata Pamotan di syair Bahar Basith yang ditulis oleh Kang Rohim. Karenanya, saya usul supaya menambah satu bait lagi yang menjelaskan tanah asal tokoh yang disyairkannya itu. Katanya, syair itu akan dibacakan ketika haul Mbah Fadhol Pamotan pada Agustus 2026 nanti. Harus dikoreksi memang. 


Siapa Kiai Fadhol Pamotan?

Beliau ini, KH. Ahmad Fadhol, pernah mondok di Ponpes MUS Sarang Rembang selama 12 tahun di bawah asuhan Mbah Mad (KH. Ahmad bin Syu'aib), kakek KH. Maimun Zubair. Suatu klai, Fadhol santri pernah diminta ngokop banyu peceren sampai tiga kali oleh Mbah Mad. Gara-gara ini, ilmunya futuh (gerbangnya terbuka).


Saat jadi kiai, beliau itu dikenal sebagai pelanggeng baca kitab Ihya' Ulumiddin. Dan jama'ahnya masyaAllah. Kalau ngaji, sering melihat atap. Artinya, setengah hapal. Ngajar tafsir Jalalain di Madrasah Pamotan juga tidak membawa kitab. Hapal. Keren tenan. 


Suatu kali, pas ngaji Ihya', hujan turun sangat lebat. Di depan majelis ada gabah dipeme (dijemur). Sambil lanjut membaca Ihya', Mbah Dhol melihat atap, dan berkata: "Nek pingin dungamu mandi, Ihya' istiqomah nderes. Nek awakmu pengen ngelerenke udan, gak usah dungo. Mbok lirik langsung prei udane". Dilirik tok, udan mandeg. Keren. Jan ampuh tenan. Ini yang cerita malah Kiai Najih bin Maimun Zubair.


Pernah ditawari jadi Rais Syuriah PCNU Rembang, Mbah Dhol hanya jawab gini: "Aku ranting wae. Cah ndeso soale". Ya Allah. Gak kayak Jepara, Syuriah iso royokan. Ngakune orak nyalon, jebule lamis lambe. Pulithik! Yo dadi kok. 


Kiai Fadhol wafat pada Jumat, 23 Rabiul Awwal 1443 H/29 Oktober 2021 M di usia 91 tahun. Dan pada tahun ini, syair tentang beliau akan dibacakan. Tapi saya minta koreksi dulu biar lebih sah secara Ilmu Arudl. 


Gara-gara syair, saya kenal Mbah Dhol, yang sebetulnya sudah masyhur di Rembang. I Love You Mbah Fadhol (Pamotan). Al-Fatihah. [badriologi.com]


M. Abdullah Badri, penulis buku Nuhudlul Kafi


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Gus Baha