Rabu, 29 September 2010

Empat Dosa Mahasiswa

Oleh M Abdullah Badri

Jangan dikira menjadi mahasiswa tak akan pernah salah. Adalah konyol menjadikan status mahasiswa sebagai tameng diri untuk berkelit dari kesalahan, ketidaktahuan dan kemalasan. Banyak kawan yang berpaham, tak apa salah, asal masih mahasiswa. Kalau sudah jadi pakar, baru kita harus benar.

Seloroh itu sering terdengar dalam lingkaran diskusi dan perkumpulan di berbagai tempat. Paradigma bebas salah membuat sebagian besar mahasiswa kita asal omong, asal aksi, asal gaya dan asal diperhatikan. Ini adalah laku dosa yang perlu “ditaubatkan”.

Perilaku asal dalam gerakan intelektual, sosial dan politik mahasiswa merupa cermin betapa mahasiswa sebetulnya punya peran tapi tak mau direpotkan beban. Maunya jadi sarjana, tapi belajar saja harus dipaksa. Maunya inggin berdemo tapi isunya asal-asalan. Demostrasi akan dilakoni kalau membuat gagah diri: bisa teriak di depan pejabat dan media.

Seorang kawan ada yang bercita-cita menjadi dosen. Tapi ironis, dia malas membuat makalah. Katanya, dia masih punya teman yang setia membuatkan makalah dan rental yang siap sedia jasa pembuatan makalah. Lho kok? Ini bagi saya adalah dosa besar mugholladloh (berat), yang perlu diratapi.

Dosa Besar
Setidaknya ada empat dosa besar mahasiswa yang harus ditaubati dalam bahasa peradaban. Pertama, tidak suka membaca. Mahasiswa akan kehilangan wajah peradaban (agent social of change), kalau membaca hanya ritus periodik yang terpaksa ditekuni kala mengerjakan tugas kuliah saja. Pandangan umum, mahasiswa adalah makhluk canggih yang paham segala apa dari siapa. Tapi karena membaca bukan tradisi baginya, ia tak ubahnya keledai yang membawa kertas-kertas bertumpuk ke manapun di pundaknya. Ia orang yang digadang sebagai pembaru, tapi awam sekali dengan gagasan pembaharuan, karena malas membaca.

Kedua, enggan berdiskusi. Mungkin saja seorang mahasiswa suka membaca. Mungkin pula dia tahu banyak hal yang dia baca. Namun, tanpa diskusi sebagai pelengkap wacana, apalagi dengan orang lain yang berseberang pemikiran, ia akan menjadi “kambing jantan” di kandang sendiri. Pemikirannya yang menumpuk, unek-uneknya yang seabrek, tak pernah terkena cuaca dan iklim luar. Pemikiran yang “dilemari eskan” akan membeku dalam pembenaran tanpa nalar, kekuasaan tanpa pelayanan. Maunya menang sendiri, karena diskusi dianggap mencemari pemikiran diri.

Ketiga, malas bersosialisasi. Sombong banget mahasiswa yang berpuas pada dirinya saja. Hanya. Dia tidak mau bergaul dengan selain komunitasnya. Ekslusifitas yang dibiasakan membuat ia tak mengenal lingkungan, apalagi dunia luar yang acapkali berbeda dari bayangan imajinasinya. Saya ingat betul petuah guru: kalau kamu kuliah, perbanyaklah teman, belajar hanya formalitas yang tak boleh ditinggalkan. Tanpa koneksi, produk pendidikan perguruan tinggi hanya akan menjadi “sampah”. Jengah saya melihat kawan-kawan mahasiswa yang semasa hidup di kampus punya prestasi tinggi, tapi setelah lulus, masih mengiba dan mengemis dengan ijazahnya dan tak kunjung diterima. Karena ia dulu malas bersosialisasi. Tak mau berorganisasi, berkoneksi.

Keempat, malas menulis. Tradisi ini yang nempaknya belum menjadi gejala akademik yang memuaskan. Banyak mahasiswa kita yang pandai bersilat lidah, tapi meludahkan pemikirannya dalam bahasa tulis kepayahan. Cara berkelitnya banyak; tidak berbakat, tak ada waktu, hingga berkata dengan percaya diri: hanya orang-orang tertentu saja yang diberkati hidayah menulis. Walhasil, para mahasiswa budiman yang suka membaca tapi tak punya karya, ia menjadi intelektual oral jalanan, yang suka bicara (berkhotbah) di mana-mana, punya pengikut banyak, tapi hanya di kandangnya sendiri. Begitu berhadapan dengan orang lain di luar sana, ia seperti mahasiswa semester awal yang baru saja melepas seragam OSPEK. Awam.

Pembersihan
Empat dosa besar mahasiswa itulah yang harus dibersihkan dari kultur akademik kampus kita yang suka membangun daripada membanggunkan mahasiswanya, yang suka prestasi dan promosi tapi lupa mendorong kreasi peserta didiknya. Pertobatan harus dilakukan secara massal agar tak diwarisi oleh generasinya. Agar dosa tak mengutuk identitas keturuanannya, adik kelas ke bawahnya.

Birokrasi kampus perlu digedor agar tak terlelap dalam gegap gempita pemenuhan tenaga kerja saja. Dosen agaknya juga menjadi elemen utama yang harus diperingatkan agar kalau memberikan tugas kuliah tidak asal main dan asal bisa dikerjakan. Diakui atau tidak, dosen kita tak banyak yang punya jiwa entrepreneurship dan leadership. Dia mau bekerja hanya di saat jam kerja, dan mengajar saat di kampus saja. Di luar itu dihitung jam lembur dan sulit ditemui oleh mahasiswanya. Kultur ini sedikit banyak ini yang membuat mahasiswa melakukan dosa besar penjiplakan dan potong arus birokrasi.

Kurikulum kuliah juga hendaknya tak mengajarkan mahasiswa saja. Akan lebih eksotis bila mahasiswa, dengan kurikulumnya, dibombong dan diberikan arahan. Pilihan tetap padanya. Birokrat dan dosen sejauh mungkin menjauhi hasrat inisiasi mahasiswa dalam berbagai karya. Biarkan mahasiswa memilih judul skripsinya, asal bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jangan dipaksa. Pengalaman menyatakan, beberapa kawan mahasiswa enggan membaca dan menulis salah satunya karena mata kuliah atau dosen pengampu dianggap tidak lebih pintar dan lebih mengusai materi. Lalu, siapa yang dosa? Ah.

(Dimuat Suara Merdeka, 25 September 2010)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar