Jumat, 28 Januari 2011

Menyoal Kesehatan Makanan


Oleh M Abdullah Badri

Judul : Fakta Mengejutkan Makanan Modern
Pengarang : Michael Pollan
Penerbit : Qanita, Bandung
Tahun : I, November 2010
Tebal : 290 halaman
Harga : Rp59,000

Mahalnya makanan belum tentu menjamin kesehatan tubuh. Michael Pollan, dalam buku yang berjudal asli The Omnivore’s Dilemma: A Natural History of Four Meals ini mengulas banyak bukti perihal makanan modern yang tidak menyehatkan. Pollan yang merupakan kontributor majalah New York Times berpendapat bahwa mengonsumsi daging hewan liar lebih sehat daripada daging hewan ternak karena tidak mengganggu kesehatan jantung.

Pollan menginvestigasi makanan modern mulai dari tempat penanaman hingga tersedia di meja makan. Sejarah berlimpahnya jagung di Amerika Serikat (AS), yang diindustrikan pada 1947, diurai sebagai titik terang mendapatkan siklus makanan tidak sehat. Amerika yang saat itu selesai perang tidak mau merugi dengan sisa bahan peledak bernama amonium nitrat yang ada di barak senjata. Caranya, pabrik mesiu di Alabama dirombak menjadi produsen pupuk.

Zat kimia berbahaya itu kemudian dijadikan pupuk tanaman jagung karena jagung adalah satu-satunya jenis tanaman yang mampu beradaptasi secara baik dengan aneka zat kimia. Hasilnya, AS bisa menikmati panen jagung yang setiap tahun mencapai 90 ribu buah, lebih dari kebutuhan jagung nasional sebesar 18 ribu buah. Kelebihan pasokan jagung tidak dilempar ke luar negeri, tetapi dijadikan makanan utama sapi nasional.

Binatang ternak yang harusnya memakan rumput itu diganti dengan remah-remah jagung yang diramu dengan pelbagai jenis protein, lemak, dan obat-obatan kimiawi. Akhirnya, sapi yang seharusnya menelan waktu 3-5 tahun untuk mencapai bobot 600 kilogram ternyata bisa diperpendek secara efektif dalam usia 14-16 bulan. Sapi pemakan jagung yang ditanam dengan pupuk amonium nitrat itu jelas tidak sehat dikonsumsi karena, menurut penulis, kandungan asam lemak omega 3-nya lebih sedikit.

Manusia yang memakan jagung berpupuk berpotensi mengidap penyakit jantung, obesitas, dan dibetes tipe 2. Sayangnya, kini hampir semua jenis makanan olahan di pabrik makanan ringan menggunakan jagung sebagai bahan utama dan pemanis makanan. Bukan hanya kesehatan manusia yang terganggu, jagung dalam buku ini juga dianggap sebagai makanan yang memicu peningkatan pemanasan global. Pasalnya, jagung menguapkan kelebihan nitrogennya ke udara yang mengakibatkan keasaman air hujan kian tinggi.

Sapi yang diberi makanan jagung kotorannya juga tak bisa dijadikan kompos, mengingat kadar nitrogen dan fosfor di dalamnya terlalu tinggi. Tanaman yang diberi pupuk kotoran sapi yang tidak sehat itu akan cepat mati. Walhasil, buku ini sebetulnya mengkritik industri pangan modern yang lebih mementingkan keuntungan kapital lebih cepat daripada memperhatikan kesehatan calon konsumennya.

(Dimuat Koran Jakarta, 27 Januari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar