Minggu, 06 Februari 2011

Imlek dan Inklusifitas Kebudayaan

Oleh M Abdullah Badri

Anggapan kurang tepat yang beredar di masyarakat menyatakan bahwa Imlek adalah ritual ekslusif yang hanya dirayakan penganut agama Konghucu. Padahal, dalam perputaran sejarah yang ada, ia adalah bagian dari ekspresi kebudayaan masyarakat Cina atau Tionghoa. Imlek dirayakan sebagai ungkapan syukur para petani kepada Tuhan, bersamaan dengan pergantian musim dingin ke musim semi. Agaknya, alasan itulah yang menjadi pembenaran logis diterbitkannya SK Presiden RI No. 19, April 2002, oleh pemerintahan Megawati Soekarnoputri, tentang libur nasional Imlek, pasca sinyal kebebasan demokratis yang dimulai pada era Gus Dur, tahun 2000.

Waktu yang terus berjalan, membuat manusia butuh simbol-simbol pembatas berupa hari, bulan, tanggal, tahun, windu, abad, milenium dll. untuk menandai siklus putaran hidup. Tentang sejarah masa dan peristiwa manusia. Merayakan Imlek, dalam pemahaman demikian, adalah merayakan kesadaran waktu. Ia bermula dan lahir dari tradisi masyarakat agraris Tionghoa.

Dalam tradisi tersebut, pergantian musim dingin ke musim semi menjadi pertaruhan hidup mengarungi waktu. Momentum itu dimanfaatkan untuk meminta kepada Tuhan kelimpahan panen pangan di tahun depan. Caranya, dengan menari-nari, menanam kembali bersama-bersama, disertai panjatan doa secara massal kepada Tuhan Pengatur Alam. Semua masyarakat mengikuti, tanpa terikat identitas lahiriah. Tradisi itu dilaksankaan berdasarkan hitungan edar bulan yang dikombinasikan dengan hitung edaran matahari (lunisonar) dan pergantian musim. Karena berasal dari tradisi petani, kalendernya disebut nungli, kelender untuk petani.

Pada Hari Raya Imlek (Yinli Xinnion) mereka saling memberikan semangat dan selamat kepada orang lain. Ucapan yang lazim ketika itu adalah “sin cun kiong hi” yang berarti, selamat memasuki musim semi. Namun, seiring waktu berjalan, ucapan yang sering kita dengar kini adalah “gong xi fa cai” yang bermakna, semoga tambah kaya. Ucapan bernafas doa tersebut lebih dikenal karena budaya dagang masyarakat Tionghoa yang terkenal tinggi, meski sebetulnya tiap orang bebas mengucapkan nada semangat lain, misalnya, semoga tambah anak, tambah cantik/tampan, tambah pintar, tambah umur atau tambah bahagia. Imlek kemudian bukan hanya dirayakan masyarakat petani, namun juga masyarakat lain. Menjadi milik bersama.

Sebagai Bukti Bakti
Sebagaimana perayaan baru masehi, hijriyah dan jawa, tradisi perayaan Imlek juga dimaksudkan untuk membangun mimpi dan harapan baru yang lebih baik di masa yang akan datang. Ekspresi syukur bukan hanya dalam ungkapan lisan, tetapi berlanjut dalam dan tindakan nyata. Makanya, saat perayaan Imlek tiba, ada ritus pembagian angpau (hadiah), baik berupa uang atau lainnya, yang berlangsung terutama dalam lingkungan keluarga dan sanak famili, meski hanya ala kadarnya. Betul, Imlek menjadi sarana silaturrahim, mempererat hubungan keluarga.

Perayaan Imlek adalah hari bagi anak cucu untuk membuktikan bakti (xiao) kepada orang tua dan leluhur. Semua anak, cucu, kakak, adik, paman, tante, menantu, dan semua anggota keluarga yang masih memiliki hubungan darah, berkumpul bersama dalam bingkai keluarga Imlek. Saling bertemu memberikan semangat serta sembahyang mendoakan leluhur yang sudah mendahului, wafat.

Mirip dengan tradisi mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri, sanak keluarga Tionghoa yang merantau di luar kota akan pulang ke kampung halaman merayakan tahun baru (xin nian) itu, menyempatkan waktu berkumpul keluarga. Sekuat tenaga dan daya, mereka berusaha kembali ke tempat asal dimana mereka mengawali kehidupan, saling menyemangati, meminta maaf serta mendoakan.

Tentu nilai-nilai seperti di atas tidak hanya didapati dalam agama tertentu. Semua agama mengajarkan hal yang sama. Fakta tersebut membuat Imlek dirayakan oleh semua lapisan keluarga Tionghoa, tanpa memadang agama yang dianut. Di majid, gereja, kelentheng, kuil, wihara dan tempat-tempat ibadah lain, Imlek semakin semarak diadakan.

Bahkan dalam perkembangan mutakhir, Imlek ternyata bukan hanya dirayakan warga Tionghoa semata, namun juga masyarakat pada umumnya. Kalau boleh saya katakan, Imlek sekarang sudah menjadi gaya hidup dalam masyarakat terbuka. Menghormatinya seperti mengikuti sebuah trend demokrasi, tidak sebagaimana pada era sebelum reformasi, yang masih diangap tabu. Tentu ini merupakan kemajuan baik dalam hal apresiasi budaya tradisi.

(Dimuat Radar Surabaya, 6 Februari 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar