Jumat, 29 April 2011

Daya Tahan Asuransi Sosial

Oleh M Abdullah Badri

Dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan, harga kebutuhan bahan pokok semakin jauh dari daya beli masyarakat. Untuk bertahan hidup saja memerlukan jerih payah tak sedikit. Akibat mahalnya barang-barang konsumsi, banyak masyarakat miskin yang rela memakan nasi aking, jagung atau makanan lain yang asupan gizi dan vitaminnya kurang. Ketahanan sosial diperlukan di sini.

Bentuk dari ketahanan sosial adalah terselenggaranya ketahanan masyarakat dalam kemandirian aspek ekonomi. Pegadaian merupakan salah satu bentuk dari ketahanan sosial masyarakat itu. Di saat-saat liburan, menjelang tahun ajaran baru, atau mendekati hari raya agama, pegadaian ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai lapisan yang membutuhkan dana cepat untuk masalah yang mendesak. Mereka berduyun-duyun datang menyelesaikan masalahnya tanpa “masalah” ke pegadaian.

Bukan hanya masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah yang ikut menggadaikan barangnya, kelas ekonomi atas juga tak ketinggalan gairah menggadaikan barang berharganya. Ada pergeseran memang, kalau dulu pegadaian hanya disambangi kalangan masyarakat kecil dan tidak mampu, kini lebih luas lagi.

Kenyataan di lapangan menunjukkan, barang-barang berharga seperti motor, mobil, laptop, komputer, emas dan barang-barang antik koleksi orang-orang kaya, dapat kita jumpai di pegadaian. Bagi mereka, meminjam uang dengan sistem gadai lebih cepat dan mudah daripada meminjam uang di bank konvensional. Orang yang terburu waktu dan kebutuhan mendesak jelas membutuhkan sistem yang efektif dan efisien. Pegadaianlah yang menyediakan kelonggaran itu. Nasabah pegadaian tidak memerlukan aturan rumit. Pihak pegadaian juga tidak perlu survei ke lapangan untuk mencairkan dana yang dibutuhkan nasabah.

Basis KetahananIndikasi ketahanan sosial (social resilient) suatu masyarakat dapat diukur dari kemampuannya melindungi anggota keluarga atau komunitas dari gejolak perubahan (Rochman Achwan: 2002). Situasi krisis yang belum usai adalah sebuah gejolak yang harus direspon secara aktif oleh setiap anggota masyarakat.

Ketidakmampuan dalam merespon gejolak yang terjadi bukan hanya akan menimbulkan ketegangan dan konflik horizontal, bahkan akan menjalar kepada konflik dan kekerasan yang memperburuk kapital sosial dan memperlemah jaringan sosial dalam persatuan dan solidaritas. Karena itulah, Betke (2002) menambahkan ciri ketahanan sosial komunitas dengan faktor indikatif kemampuan masyarakat melakukan investasi sosial dalam jaringan sosial yang menguntungkan dan mampu mengelola konflik komunal akibat gejolak yang terjadi.

Pegadaian dikatakan sebagai basis ketahanan sosial karena mampu membantu masyarakat luas menangani risiko sosial-ekonomi akibat perubahan faktual yang melingkupinya itu. Pegadaian menjadi rujukan utama di kala mendesak kebutuhan.

Asuransi SosialKebutuhan mendesak tidak dapat diprediksi. Yang membuat banyak orang kelabakan memenuhi kemendesakan kebutuhan itu seringkali adalah sistem perencanaan kuangan dan investasi yang lemah. Jarang dari masyarakat kita yang menggunakan jasa asuransi. Ketika terjadi kecelakaan misalnya, tanpa asuransi kita sulit mendapatkan biaya pengobatan, kecuali melalui pinjaman cepat dan mudah seperti di pegadaian.

Di sini, saya melihat, peran pegadaian dalam ketahanan sosial masyarakat ibarat asuransi sosial. Pegadaian laiknya bank sosial yang memberikan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk bisa merencanakan dan mengatasi masalahnya setiap waktu.
Lebih jauh, pegadaian sebagai asuransi sosial bukan hanya mempertahankan masyarakat dari dampak luas perubahan tetapi juga menjadi social engineering yang sangat membantu. Karena itulah, ada sementara kalangan sosiolog yang mengaitkan ketahanan sosial dengan ketahanan nasional dari berbagai aspeknya.

Seorang penjual jamu yang ingin mencari tambahan modal, cukup hanya menggadaikan kain jarik atau pakaian sutra yang dia punya. Atau seorang kaya yang akan melakukan perjalanan bisnis penting mendadak, sementara tak punya uang cukup, ia bisa “menitipkan” mobilnya dipegadaian untuk mencairkan pinjaman. Pegadaian menjadi social engineering dari grass root hingga grow root. Hal itulah yang nampak dalam perubahan pranata sosial kita dalam pegadaian.

Eksistensi pegadaian di tengah-tengah kondisi sulit seperti ini memang sangat dibutuhkan. Harapannya, dia bukan hanya memperkuat ketahanan sosial dan menjadi basis asuransi sosial, tetapi juga menjadi penggerak kekuatan sosial. Sehingga, pegadaian menjadi pusat gerakan untuk meningkatkan taraf hidup dan kemaslahatan masyarakat (quality of life and wellbeing) seperti tujuan sebuah pemberdayaan.

(Dimuat Harian Analisa, Medan, 24 April 2011)
Komentar
0 Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar